Etos Ramadhan dimaksudkan dalam tulisan ini sebuah semangat baru, renaisans, dalam menyambut dan mengisi bulan suci Ramadhan. Kenapa? Supaya setiap tahun pelaksanaan Ramadhan harus ada kemajuan. Bukan sebaliknya, semakin tidak terefleksi ke dalam sikap utama kita sebagai salah satu khalifah di dunia. Baik dalam konteks hubungan kepada Sang Pencipta, maupun hubungan kepada sesama manusia.
Sekiranya pelaksanaan puasa semakin baik, maka beruntunglah kita. Sementara semakin tidak mengubah sikap mundur kita, maka tentunya termasuk ke dalam golongan orang merugi.
Memahami etos Ramadhan kita berupaya untuk menggali semakin mendalam apa sebenarnya yang bermakna di belakang proses dan mengisi ibadah bulan Ramadhan. Sekiranya kita hanya melaksanakan puasa hanya sekadar alasan ibadah, maka dogma tersebut akan miskin cara kita menjalankan dan pemaknaannya. Seharusnya kita semakin mempertanyakan, belajar, dan menemukan esensi hakiki di belakang dari kewajiban yang ditetapkan Allah SWT kepada umatnya.
Setidaknya ada beberapa etos yang mendorong semangat baru mesti kita miliki. Panggilan ibadah puasa memang kepada orang-orang yang beriman, sehingga prasyaratnya adalah mesti yang menjalankan ibadah puasa adalah orang Islam. Bagi orang yang tidak beriman, sekalipun memiliki entitas Islam, berpuasa bisa menjadi sebaliknya.
Bahkan, bagi yang di luar agam Islam, tentunya puasa tidak menjadi persoalan dari kacamata mereka masing-masing.
Oleh karenanya, etos yang mendasari kita menjalankan bulan Ramadhan secara baik dan optimal adalah; a. Puasa itu sebuah anugerah, b. Puasa sebagai amanah, c. Puasa sebagai ibadah, d. Puasa sebagai sebuah kejujuran untuk Allah SWT, dan e. Puasa sebagai proses empati sosial. Semua itu yang melandasi semangat kita yang terkait satu dengan lainnya secara bersinergi.
Oleh karenanya, etos yang mendasari kita menjalankan bulan Ramadhan secara baik dan optimal adalah; a. Puasa itu sebuah anugerah, b. Puasa sebagai amanah, c. Puasa sebagai ibadah, d. Puasa sebagai sebuah kejujuran untuk Allah SWT, dan e. Puasa sebagai proses empati sosial. Semua itu yang melandasi semangat kita yang terkait satu dengan lainnya secara bersinergi.
Inilah yang melandasi dan mempermudah kita untuk melaksanakan puasa. Sehingga, melaksanakan puasa bukan sekadar keterpaksaan, namun karena rasa kecintaan kita kepada Allah SWT. Demikian juga shalat dilakukan bukan karena sekadar kewajiban, namun karena rasa kecintaan kepada Allah SWT.
Puasa itu adalah merupakan sebuah anugerah. Lawan anugerah adalah bencana. Kenapa anugerah bagi kita? Karena, kita hidup dan diberi kesempatan oleh Allah SWT sebagai seorang yang beriman. Bagi setiap orang yang lahir dan diberi petunjuk beriman oleh Allah SWT, maka unsur keimanannyalah yang memperteguh bahwa segala sesuatu puasa diwajibkan mesti ada maksudnya.
Puasa adalah untuk yang berpuasa. Bagi orang yang tidak berpuasa sekalipun, harusnya menyadari itu sebuah bencana. Bukankah secara empiris banyak sekali manfaat spritual dan kesehatan dari proses kita menjalankan ibadah puasa, serta mengisi kehidupan baik selama bulan Ramadhan?
Puasa itu adalah amanah, kenapa? Karena kita menganut dan dititipkan Rukun Iman. Salah satunya adalah percaya pada kitab Al Quran, di mana di dalam kitab ada suruhan bagi orang yang beriman untuk berpuasa (QS 2 :183). Amanah yang baik dijalankan oleh orang yang memiliki integritas yang tinggi. Karena Allah akan percaya kepada ummatnya untuk melaksanakan segala suruhan, dan menghindari segala larangan yang akan merusak dan mengurangi nilai ibadah.
Begitu amanahnya jelas, maka puasa tidak diwajibkan kepada anak anak dan orangtua renta, termasuk orang yang bekerja keras tidak sanggup karena pekerjaannya, ibu menyusui, dan berbagai keringanan kepada umatnya karena peraturan yang ditetapkan dalam memberikan amanah puasa.
Puasa itu jelas ibadah. Semangat ibadah adalah bagaimana kita memaknai hasil dari setiap kegiatan puasa dan mengisi berbagai ibadah yang kita laksanakan selama bulan Ramadhan. Ibadah yang dimaksudkan, selain melaksanakan Shalat Tarawih, mengisi malam Ramadhan, siangnya tetap bekerja sebagaimana mestinya. Kenapa? Karena, kerja itu juga bagian dari ibadah.
Dimensi ibadah dalam bulan Ramadhan selalu dikaitkan dengan reward yang dijanjikan Allah SWT. Jelas sekali reward-nya, hanya Allah yang mengetahui, namun sangat jelas sekiranya semua dijalankan sesuai dengan yang digariskan, maka kelak akan menjadi orang yang bertakwa.
Puasa itu melatih kejujuran, karena hanya kita saja yang sebenarnya mengetahui, kapan kita melanggar rukun-rukun yang ditetapkan ketika melaksanakan ibadah puasa. Ketika kita mulai waktu shoum, maka jatuh hukum yang melarang kita untuk melakukan konsumsi. Demikian juga jatuh larangan untuk tidak semaunya menggunakan pikiran, akal, mata, melangkahkan kaki, menjaga mulut dan nafsu. Bukan melaksanakan tidur sepanjang hari, namun merefleksikan semangat di mana kita bertindak semakin objektif.
Ketika kebiasaan kita menahan hawa nafsu semakin lama semakin terkendali, maka puasa selama bulan Ramadhan akan menyebabkan terjadinya perbaikan budaya di mana budaya kejujuran menjadi terpatri. Bayangkan kalaulah seseorang dengan sengaja minum di tengah hari, sekalipun tidak dilihat manusia, maka Allah SWT akan mengetahuinya. Semakin disiplin kita, semakin baik untuk diri kita karena kita menggunakan aturan yang sudah ditetapkan dalam menjalankan bulan Ramadhan.
Akhirnya, puasa itu yang menyemangatinya karena terbinanya ibadah sosial kita. Zakat, infak, sedekah, baik berbentuk uang maupun tenaga selama Ramadhan. Juga, niat ikhlas merupakan sebuah proses pembentukan empati sosial. Memang semakin kita merasakan begitu banyak di antara umat manusia yang memiliki kekurangan, maka kita diajar Allah SWT bahwa bagaimana rasanya serba kekurangan.
Dengan mengacu kepada lima etos Ramadhan, sebaiknya semangat memasuki dan mengisi Ramadhan bukanlah sebagai sebuah proses yang biasa saja. Ibadah puasa, shalat apa saja yang dikerjakan sangat jelas janjinya. Oleh karenanya, mari memperbaiki pemaknaaan, melaksanakan ibadah secara nikmat dan total action selama bulan Ramadhan.
Semoga pemaknaan kita tidak salah dan dilindungi Allah SWT. Selamat menjalankan ibadah puasa dengan etos baru. Semoga kelak menjadi orang yang bertakwa.
Oleh : Elfindri
0 komentar:
Posting Komentar