Senin, 21 November 2011

HakekAT Kenabian dan Ciri Cirinya

Karya Syah Waliyullah al Dihlawi ra
(beliau adalah mujadid abad XII)
Dalam Kitab Hijajul Kiramah

Engkau harus mengetahui bahwa tingkat tertinggi manusia adalah “orang-orang yang diberi pemahaman” (mufahhamun), dan mereka adalah orang yang dapat menggabungkan dua kekuatan – kemalaikatan dan kebinatangan – yang ia miliki, dan sisi kemalaikatannya lebih mendominasi. Mereka diutus untuk menciptakan tatanan yang dikehendaki oleh seruan langit (da’iyah haqqaniyyah), dan ilmu Ilahi, serta berbagai keadaan Dewan malaikat tertinggi yang memancar kepada mereka. Ciri-ciri “orang yang diberikan pemahaman” di antaranya adalah: ia memiliki watak yang seimbang dan watak yang harmonis dan bahwa wataknya itu tidak digerakkan secara berlebihan oleh pendapat-pendapat yang parsial (ara juz’iyyah), tidak oleh pemikiran yang berlebihan sehingga ia ditarik dengan cara apapun dari yang universal kepada yang parsial, atau dari ruh kepada bentuk. Di dalam dirinya juga tidak terdapat kebodohan berlebihan yang tidak dapat ditanggalkan untuk kemudian beranjak dari yang parsial menuju yang universal, dan dari bentuk kepada ruh. Ia adalah seorang yang sangat patuh menjalankan perbuatan-perbuatan yang mendapat petunjuk, memiliki tingkah laku yang baik di dalam perbuatan-perbuatan ibadah, dan adil  dalam memperlakukan manusia. Ia mencintai keteraturan alam semesta dan cenderung kepada kemaslahatan umum; tidak menyakiti seorangpun kecuali dalam suatu keadaan ketika kebaikan umum tergantung kepadanya atau ketika kemaslahatan umum memaksanya untuk menyakitinya. Ia tetap konsisten dalam kecenderungan kepada Yang Gaib. Pengaruh kecenderungannya ini dapat dilihat dalam perkataannya dan wajahnya, juga dalam semua wataknya, sehingga ia senantiasa mendapat pertolongan dari Yang Gaib. Perbuatan spiritual yang paling sedikit yang terbuka baginya adalah kedekatan kepada Allah dan ketenangan (sakinah) yang tidak tersingkapkan bagi orang lain.

Orang-orang “yang diberi pemahaman” (Mufahhamuun) ada beberapa macam dan kapasitas mereka berbeda-beda:

1.     1. Orang yang mencapai kapasitas paling tinggi dalam menerima ilmu-ilmu dari Allah untuk memperbaiki jiwa dengan jalan beribadah. Orang seperti ini adalah “orang yang sempurna” (kamil).
2.     2. Orang yang mencapai keadaan paling tinggi dalam menerima kebaikan-kebaikan yang diusahakan dan ilmu-ilmu tentang pengaturan urusan-urusan domestic dan sebagainya. Orang yang seperti ini adalah “orang yang bijaksana” (hakim).
3.      3. Orang yang biasanya memahami kebijakan-kebijakan yang komprehensif, kemudian berhasil menegakkan keadilan di antara manusia dan membela mereka dari kezaliman. Orang yang seperti ini disebut “Khalifah”.
4.      4. Orang yang telah mendapatkan kunjungan Dewan Malaikat Tertinggi, mendapatkan pengajaran mereka, berbicara dengan mereka, melihat penampakan mereka, dan orang yang mampu menjelmakan berbagai macam kemuliaan spiritual (karamat). Mereka ini dikenal sebagai “orang yang telah dibantu oleh ruh suci”.
5.      5. Orang yang lidah dan hatinya telah disinari, sehingga manusia disekitarnya mendapat keuntungan dari perkumpulan yang ia selenggarakan dan dari khutbah-khutbahnya. Ia juga mampu mentransfer ketenangan dan cahaya kepada murid-murid dan sahabat-sahabatnya, sehingga mereka mencapai, berkat perantaraannya, tingkat kesempurnaan yang tinggi, sementara ia sendiri tidak pernah berhenti memberikan petunjuk dan bimbingan kepada mereka. Orang seperti ini disebut “pemberi petunjuk yang murni” (hadi muzakki).
6.     6. Orang yang ilmunya terutama berisi pengetahuan mengenai peraturan-peraturan bagi masyarakat keagamaan serta berbagai keuntungan darinya, dan orang yang mendorong (mereka) untuk melakukan peraturan-peraturan itu. Orang seperti ini disebut “pemimpin” (imam).
7.      7. Orang yang diberi ilham untuk memberitahu manusia mengenai bencana yang telah ditentukan bagi mereka di dunia ini, atau orang yang mengetahui bahwa Allah telah mengutuk suatu umat dan memberitahu mereka mengenai hal ini, atau yang melepaskan diri dari jiwa rendahnya pada waktu-waktu tertentu, sehingga ia mampu mengetahui apa yang akan terjadi di dalam kubur dan pada hari kiamat, dan yang memberitahu mereka mengenai hal-hal ini. Orang pada tingkatan ini disebut “pemberi peringatan” (mundzir).
8.      8. Jika kebijaksanaan Ilahi mengharuskan bahwa orang “yang diberikan pemahaman” diutus kepada umat manusia, sehingga ia menjadi sebab bagi dikeluarkannya umat dari kegelapan ke dalam cahaya, maka Allah mengharuskan hamba-hambaNya untuk menerima orang ini, lahir dan batin. Dewan Malaikat Tertinggi akan merasa puas dan mendoakan kebaikan bagi orang-orang yang mengikuti dan menyertai dia, dan mereka menyediakan kutukan bagi orang-orang yang menentang dan menolaknya. Allah telah memberitahu umat mengenai hal ini dan membuat mereka mematuhinya. Orang yang seperti itu adalah “seorang nabi”. Tingkatan nabi yang terbesar adalah yang risalahnya mempunyai dimensi tambahan yang sesuai dengan tujuan Allah swt. Untuknya, yaitu bahwa ia harus menjadi sebab untuk dikeluarkannya umat “dari kegelapan kepada cahaya” dan bahwa umatnya menjadi “umat terbaik yang dikeluarkan bagi umat manusia”, sehingga risalah yang ia sampaikan harus dilengkapi dengan risalah tambahan.

Syah Waliyullah al-Dihlawi, Argumen Puncak Allah, Judul aslinya Hujjah Allah al Balighah pada Bab 55 Hakikat Kenabian dan Ciri-Cirinya (Serambi: hal. 356-359).

Read more »

Islam Itu Indah, Tidak Ada hubungannya dengan Terorisme

"Kami mencoba untuk membawa gambar yang indah dari Islam. Islam berarti damai. dan tidak ada hubungannya dengan teror.

Reported by: Alex Hinckley

Peringatan peristiwa 11 September ke 10 sekarang hanya sekitar satu minggu lagi dan banyak organisasi mengadakan acara untuk mengingat nyawa-nyawa yang hilang dan mempromosikan perdamaian dan pemahaman. Satu kelompok lokal menghabiskan sabtu ini dengan mengadakan donor darah untuk menyelamatkan nyawa.

Komunitas Muslim mengambil waktu untuk menyebarkan perdamaian dan menghilangkan streotif yang salah tentang Islam. banyak umat Islam mengatakan kepada Berita 8 mereka secara pribadi disalahkan atas serangan teroris terburuk di Amerika Serikat. Untuk alasan inilah mereka membuat suatu misi untujk menyebarkan kebenaran.

Pada hari sabtu, Komunitas Muslim Ahmadiyah mengadakan sebuah acara donor darah. disana mereka memiliki kesempatan untuk menjelaskan arti Islam sebenarnya.

Mubarak Bashir mengatakan, stigma itu tidak benar, "kami hanya ingin orang tahu bahwa Islam secara harfiah berarti damai. Tidak ada hal seperti teroris Islam. jika seorang mengaku muslim tetapi mereka melakukan aksi teror, mereka adalah Islam secara nama tapi tidak dalam perbuatan."
Untuk mengkonter stereotif itu dan mengingat kehidupan yang melayang, Komunitas Muslim Rochester mengadakan donor darah. Bashir menjelaskan, "Cara terbaik adalah mengumpulkan 10.000 kantong darah dan akhirnaya menyelamatkan nyawa sebanyak 30.000?

Puluhan pendonor memberikan darah dan selebihnya mereka bisa mempelajari lebih banyak tentang Islam dan tata cara hidup Muslim.

robert Oliver, baru saja masuk Komunitas Islam beberapa bulan lalu. dia membuat misinya untuk menyebarkan kebenaran. oliver mengatkan, "sungguh disayangkan, saya pikir peristiwa 11 septermber telah menciptakan citra negatif Islam. dan ini adalah kesempatan bagi kita untuk menaruh citra positif dari pada hal-hal untuk perubahan.

Pusat bekarja sepanjang tahun mengadakan edukasi bagi orang-orang yang tidak mengetahui arti sebenarnya Islam. Ahmad menambahkan: "Kami mencoba untuk membawa gambar yang indah dari Islam. Islam berarti damai. dan tidak ada hubungannya dengan teror.

Read more »

Hukuman Yang Murtad Dalam Islam

Salah satu yang menjadi perhatian orang terhadap Islam adalah bagaimana Islam menanggapi pemeluknya yang murtad (keluar dari Islam). Ada pemikiran keliru yang berkembang dan dihubungkan dengan Alquran, termasuk oleh sebagian orang Islam sendiri - yang mempunyai pemikiran bahwa Alquran mengatakan bahwa hukuman bagi yang murtad adalah orang semacam itu harus dipenggal. Hal mana ini juga yang dijadikan alasan bagi mereka, dari kalangan non muslim khususnya , mengatakan bahwa Islam adalah agama Teror. Kenyataannya sebenarnya justru kebalikan dari itu. Alquran dimanapun tidak pernah menyebutkan bahwa hukuman murtad adalah membunuh orang yang bersangkutan. Alquran menyatakan:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, kemudian ingkar, kemudian beriman lagi, kemudian ingkar lagi, kemudian kian bertambah dalam kekufuran, sekali-kali Allah swt. tidak akan mengampuni mereka dan tidak pula akan menunjukkan jalan lurus  kepada mereka. (Q.S. 4:137)
Orang bisa membayangkan bahwa jika hukuman murtad adalah dengan pembunuhan, maka apakah memungkinkan bagi seseorang yang murtad, kembali ke pangkuan Islam untuk kedua kalinya? Jika hukumannya adalah kematian  – seperti yang mereka katakan – maka tidak ada kemungkinan bagi seseorang kembali kepada Islam. Namun Alquran jelas menyatakan bahwa adalah sangat mungkin bahwa seorang Muslim yang meninggalkan agamanya untuk beberapa alasan bisa kembali pada keyakinannya jika ia menginginkannya. Pilihan dan opsi selalu ada disini. Tidak ada hukuman disebabkan kemurtadan maupun unsur paksaan untuk memaksa seseorang dengan cara apapun untuk menerima Islam dan kemudian tetap menjadi Islam sampai akhir hayat.

Menurut Islam, agama adalah perihal pilihan. Jika seseorang senang dengan kebenaran islam dan mereka puas, tentu saja mereka sangat dipersilahkan dan bergabung dengan Islam. Tetapi jika mereka memutuskan untuk tidak melakukannya, maka tidak ada paksaan dan bahkan jika setelah masuk Islam kemudian mereka ingin pergi, maka merekapun bisa pergi. Allah taala akan melihat hal ini dalam kehidupan yang akan datang tetapi tak seorangpun memiliki kewenangan untuk mengeluarkan hukuman bagi yang murtad.

Read more »

Ajaran Islam : tinggalkan Keburukan Perbanyak Kebaikan

Rasulullah saw bersabda: “Jika datang bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu:. (Muttafaq ‘Alaih)

Puasa Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, bulan yang berlimpah pahala. Hal yang Allah taala sendiri menyatakan demikian. Tetapi disisi lain hal tersebut tidaklah mengherankan bagi kita, karena memang bisa dikatakan Puasa Ramadhan adalah Mi’rajnya ibadah-ibadah –ibadah yang paling mulia yang didalamnya menyatu seluruh ibadah. Segenap ibadah mencapai puncaknya dan menjelma di dalam bentuk puasa.

Jadi seorang yang berpuasa, yang menahan lapar haus, dan hawa nafsu  - maka lapar hausnya itu tidak akan berbobot atau malah tercemar jikalau dia tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan maksiat lainnya. Lapar dan hausnya tidak juga akan bermutu jika ibadah puasanya tidak dihiasi dengan basahnya bibir dalam Zikir Ilahi, tidak dihiasi dengan ibadah-ibadah wajib dan ibadah sunnah. Begitu juga lapar dan hausnya itu tidak akan sempurna jika belum diikuti dengan amal saleh, khususnya sedekah.

Jadi tidak ada suatu indera manusia pun yang tidak terpengaruh oleh puasa. Setiap indera menjadi terkendali dibuatnya. Setiap keinginan manusia menjadi terikat oleh batasan, dan tidak merajalela. Semua itu karena puasa.

Maka dapat kita katakan babwa hakikat dari pintu-pintu neraka itu sebenarnya adalah pintu-pintu panca indera manusia. Apabila indera itu menjadi leluasa, dosa pun akan timbul. Maka melalui indera itulah manusia masuk ke dalam neraka. Jadi tertutupnya pintu-pintu neraka pada Bulan Ramadhan artinya adalah bahwa mukmin menutup bagi diri mereka seluruh pintu yang dapat membawa mereka ke neraka.

Membiasakan diri membaca dan mengkaji Alquran, membiasakan diri berzikir Ilahi, membiasakan diri berdoa, membiasakan diri memenuhi hak-hak sesame, membiasakan lidah sama sekali suci dari dusta, membiasakan diri untuk berkata benar dan bersih, membiasakan diri berkata lurus – semua kesempatan ini hanya dapat diperoleh melalui puasa.

Bukalah pintu Kebaikan dan Tutuplah Pintu-pintu Keburukan

Dari sabda Rasulullah saw diatas, bahwa di bulan Ramadhan ini seluruh pintu neraka ditutup , dan bersamaan dengan itu beliau juga bersabda bahwa seluruh pintu surga dibuka. Hikmah yang bisa kita ambil disini adalah janganlah hanya melihat dari sisi larangan saja, melainkan lihat juga sisi positifnya. Jika disatu sisi kita tidak membukakan pintu kebaikan bagi setiap indera dari kelima indera kita, kita memang mungkin tengah menutup pintu-pintu neraka, akan tetapi tanpa tujuan. ebab sebagai balasannya tidak satupun pintu kebaikan yang terbuka.

Jadi artinya adalah sebagai ganti dari setiap keburukan ciptakanlah kebaikan. Dan sebgai ganti dari suatu kondisi buruk , ciptakanlah suatu keindahan. Sehingga dengan melalui satu bulan penuh secara terus menerus dengan upaya gigih tersebut, maka keburukan-keburukan kita akan terlepas dan tertinggal ke belakang. Dan kebaikan-kebaikan kita semakin bertambah maju akibat berkah-berkah Ramadhan, melesat kedapan dengan cahaya yang luar biasa. Sehingga setiap Ramadhan datang kondisi kita menjadi lebih baik dari sebelumnya. Inilah yang merupakan maksud dari puasa.

Read more »

Islam Menanggapi Terorisme

Oleh Abdul Ghany Jahengeer Khan
Review of Religions *, Pebruari 2002, vol.97, Issue 02

Islam berarti agama yang damai. Seseorang yang mengikuti Islam akan menemukan bahwa dirinya dilingkupi oleh ajaran luhur yang bertujuan untuk mendirikan perdamaian antara manusia dengan Allah, Pencipta segala makhluk; antara sesama manusia; dan antara manusia dengan makhluk Allah lainnya. Bagaimana mungkin agama semacam ini dapat berurusan dengan isu-isu terorisme? Dan apakah arti kata terorisme? Beberapa kamus mendefinisikan teroris sebagai orang yang secara sistematis menggunakan kekerasan dan intimidasi untuk mencapai tujuan-tujuan politik atau seseorang yang menguasai atau memaksa pihak lain untuk melakukan sesuatu dengan menggunakan kekerasan, ketakutan atau ancaman.

Definisi-definisi tadi tercakup dalam Al-Quran dengan dua kata, yaitu fitnah dan ikrah. Di dalam Al-Quran, pada bagian yang pertama, Tuhan memulai membicarakan isu terorisme dengan mengajarkan kaum Muslim agar jangan pernah menjadi teroris. Dua dari ayat-ayat awal dari keseluruhan Al-Quran menyebutkan, “Fitnah itu lebih besar dari pembunuhan” (Qs. 2:218) atau di sisi Allah penganiayaan, atau membuat orang lain ketakutan secara terus-menerus dalam kehidupan mereka, ialah lebih besar keburukannya dibanding melakukan pembunuhan. Dan selanjutnya “Tidak ada paksaan dalam agama” (Qs. 2 : 257), yaitu, tidak ada satu pun yang memiliki hak untuk memaksa pihak lain untuk memenuhi tuntutan mereka atau memaksa pihak lain untuk mengikuti cara berpikir mereka.

Allah Yang Maha Kuasa memperingatkan orang-orang yang beriman berkali-kali agar mereka tidak menjauh dari-Nya yang merupakan Sumber segala kebaikan. Allah mengingatkan kita bahwa barangsiapa yang menjauh dari-Nya dan membuang segala kebaikan, dan membebaskan diri mereka sendiri dari tata susila dialah yang pada akhirnya mengambil jalan menteror pihak lain, memaksa mereka agar memenuhi tuntutan. Orang-orang yang beriman berulang-ulang diperingatkan bahwa mereka akan kehilangan kasih Allah dan rahmat-Nya bila mereka mulai berperilaku di jalan teror itu.

Mengamalkan Nilai-nilai Kema-nusiaan Yang Tinggi

Tetapi Islam tidak hanya melarang dengan keras kaum Muslim menjadi teroris. Islam juga memastikan bahwa kaum beriman diciptakan untuk mencapai akhlak yang tinggi, berperilaku adab yang baik, dengan menanamkan nilai-nilai kemanusiaan yang mulia yang bisa mengubah mereka menjadi orang-orang yang mencintai umat manusia dengan tulus tanpa membeda-bedakan perbedaan agama, ras maupun status sosial. Tidak ragu lagi bahwa Islam menganjurkan diskusi yang atas dasar rasional dan logika dengan orang dari semua agama dan kepercayaan dengan cara nyaman dan tidak memihak, yang bertujuan kebenaran unggul di atas kekeliruan dan kesalahan. Tetapi perlu diingat, bahwa salah sama sekali untuk membenci orang yang keliru dan salah. Orang yang sayangnya memegang prinsip yang salah jangan pernah dibenci. Itulah sebabnya motto Jemaat Ahmadiyah ialah “Love for all hatred for none” (cinta bagi semua tiada benci bagi siapapun).

Di dalam Islam tekanan kuat yang menakjubkan diletakkan dalam meningkatkan kecintaan kepada umat manusia dan pentingnya menunjukkan kasih dan simpati kepada setiap makhluk Allah, termasuk manusia dan hewan. Sebenarnya cinta dan simpati yang sejati ialah penangkal terorisme. Diriwayatkan oleh Aisyah r.a., istri Nabi Muhammad s.a.w., bahwa beberapa orang Arab gurun datang kepada beliau s.a.w. dan bertanya: “Apakah anda mencium anak-anak anda?” Beliau s.a.w. menjawab: “Ya” Mereka berkata: “Kami belum pernah mencium mereka.” Rasulullah s.a.w. bersabda:” Apa yang bisa saya lakukan jika hatimu telah kosong dari rasa kasih?” Beliau s.a.w. juga menyatakan bahwa Allah tidak mengasihi orang yang tidak mengasihi sesamanya.

Standar rasa kasih ditunjukkan oleh Rasulullah s.a.w.. tidak bisa selain menakjubkan seseorang yang mengetahui betapa kasar dan keras masyarakat di mana beliau s.a.w. lahir. Abu Qatadah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah s.a.w. menceritakan kepadanya:

“Suatu kali saya berdiri untuk memimpin shalat, terbersit dalam pikiran saya untuk memperpanjang shalat. Lalu saya mendengar tangis bayi dan saya kemudian mempersingkat shalat khawatir jangan-jangan menyusahkan ibu bayi tersebut.”
Jauh dari menghasut kebencian dan perilaku agresif, Islam justru memerintahkan kebaikan dan simpati bagi semua. Nabi Muhammad s.a.w. bersabda:

“Derma (sedekah) ialah suatu kewajiban bagi setiap bagian tubuh setiap hari di mana matahari biasa terbit. Mendamaikan orang yang bertengkar ialah suatu derma. Membantu orang yang menaiki binatang tunggangannya atau menaikkan barang muatan ke atasnya ialah suatu derma. Perkataan yang baik ialah suatu derma. Memindahkan sesuatu dari jalan yang menyebabkan gangguan ialah suatu derma.”

Beliau s.a.w.. tidak henti-hentinya mengingatkan kaum Muslim agar berperilaku baik kepada tetangga, sabdanya:

“Tidak akan masuk surga barangsiapa yang tetangganya tidak selamat dari keburukannya.” Beliau s.a.w.. juga menyatakan:

“Demi Dia yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian tidak akan masuk surga jika kalian tidak beriman, dan kalian tidak akan menjadi orang beriman yang sejati jika kalian tidak mencintai satu dengan yang lain. Maukah kuberitahukan sesuatu yang dengannya kalian akan mencintai satu dengan yang lain? Sebarkanlah salam di antara kalian.”

Suatu kali beliau s.a.w. menemukan induk burung memukulkan sayapnya sendiri di atas tanah dengan gelisah. Lalu beliau s.a.w.. menanyai para sahabat: “Apa yang terjadi?” Mereka menjawab: “Kami menangkap anak-anaknya dari sarangnya.” Rasulullah s.a.w.. bersabda: “Kembalikan anak-anak burung itu kepadanya. Tidak ada ibu yang pasti tersiksa disebabkan anaknya.” Suatu peristiwa salah seorang sahabatnya membakar sebuah sarang semut. Beliau s.a.w.. segera menyatakan agar segera memadamkan api tersebut dan bersabda: “Tidak ada yang memiliki hak untuk menyiksa sesuatu yang lain dengan api.”(Abu Dawud).

Mengedepankan Pentingnya Dialog; Piagam Madinah

Allah berfirman di dalam Al Quran surah Ali ‘Imran ayat 135 bahwa orang beriman yang sejati ialah: “…mereka yang menahan marah dan memaafkan manusia…”, demikian pula Nabi Karim Muhammad s.a.w.. bersabda: “Allah itu Maha Lembut dan menyukai kelembutan dalam semua hal. Permudahlah dan jangan dipersulit mereka. Gembirakanlah orang-orang dan jangan membuat sedih mereka.”

Adalah jelas bahwa orang beriman yang sejati, dan segala orang jujur dan baik selalu menerima sasaran dari terorisme, tidak pernah melakukannya. Kapan saja kecenderungan seperti itu muncul di sebuah masyarakat sehingga rasa damai menjadi terganggu dan masyarakat hidup dalam ketakutan, kaum Muslim diperintahkan untuk menangkis mereka terlebih dahulu dengan mengadakan tukar pikiran dengan pihak yang bertanggung jawab dalam gangguan itu. Al-Qur’an menyatakan: “Panggillah kepada jalan Tuhan engkau dengan kebijaksanaan dan nasihat yang baik, dan hendaknya bertukar-pikiran dengan mereka dengan cara yang sebaik-baiknya” (Qs. An-Nahl:126). Dan Al Qur’an secara berulang-ulang memberitahukan kita agar mencari perlindungan dari Allah dengan sabar dan doa. Tetapi bilamana bertukar pikiran dengan orang-orang seperti itu cenderung memburuk dan berdoa untuk mereka tidak berhasil membawa perubahan pada tindakan mereka, selanjutnya Allah berfirman lagi pada bagian akhir Surah An-Nahl , yaitu : “Dan jika kamu memutuskan akan menghukum orang-orang yang aniaya, maka hukumlah mereka setimpal dengan kesalahan yang dilakukan terhadap kamu” (Qs.16:127).

Allah Yang Maha Kuasa memerintahkan kaum muslimin bahwa ketika segala sesuatu mulai tidak dapat dikendalikan, mereka seharusnya menyatukan kekuatan untuk menegakkan perdamaian dengan menggunakan kekuatan yang masuk akal. Kaum muslim telah diperintahkan oleh Nabi Muhammad s.a.w.. agar bekerjasama jika perlu dengan pengikut dari agama lain untuk melakukan hal yang sama. Di dalam dokumen terkenal yang disebut Piagam Madinah Rasulullah s.a.w.. mendeklarasikan:

Pasal 1. Ini ialah perjanjian dari Muhammad, Utusan Allah di antara orang- orang yang beriman dan Muslim dari Suku Quraisy dan penduduk Yatsrib dan di antara orang-orang yang mengikuti mereka dan bergabung dengan mereka dalam bertempur (melawan musuh bersama).

Pasal 2. Dan mereka merupakan sebuah umat yang satu terpisah dari pihak lain.

Pasal 25. Dan juga kaum Yahudi dari suku ‘Auf merupakan umat yang satu dengan orang-orang yang beriman- sekalipun kaum Yahudi akan mengikuti agama mereka sendiri dan kaum Muslim akan mengikuti agama mereka sendiri- dan ini akan termasuk kedua pihak sekutu dan diri mereka sendiri.(Dikutip dari Reuben Levy dalam ‘Sociology of Islam, part 1, hal. 279-282).

Di dalam piagam ini, semua penduduk kota Yatsrib atau Madinah diseru untuk bergabung dalam melawan kekuatan yang meneror warga kota. Kaum Muslim dibuat berjanji bahwa mereka akan menolong mempertahankan dengan sebaik-baiknya pengikut agama lain dari ketidakadilan dan serangan kejam. Sebagai contoh, dalam sebuah piagam beliau s.a.w.. untuk sepanjang masa yang ditujukan kepada semua orang Kristen yang hidup sebagai warga di dalam kekuasaan kaum Muslim, Muhammad s.a.w.. menyatakan :

”Aku berjanji bahwa seorang rahib atau musafir yang mencari pertolongan baik dia di atas gunung-gunung, di hutan-hutan, gurun-gurun atau tempat tinggal atau di tempat peribadatan, aku pasti akan menolak musuh-musuhnya dengan segenap sahabat-sahabatku dan penolong-penolong, dengan semua kerabatku dan dengan semua orang yang menyatakan mengikutiku dan aku akan mempertahankan mereka, karena mereka berada dalam perjanjian denganku. Dan aku akan membela orang yang berada dalam perjanjian denganku dari penganiayaan, kerugian dan keadaan yang menghinakan dari musuh-musuh mereka sebagai ganti dari jizyah (semacam pajak) yang telah mereka janjikan untuk dibayarkan. Jika mereka lebih suka mempertahankan sendiri harta benda dan warga mereka, mereka akan diijinkan untuk melakukan hal itu dan tidak akan dibiarkan dalam kesusahan sebagai bentuk rasa tanggung jawab.


Tidak ada paderi atau pendeta yang akan dikeluarkan dari tempatnya, tidak ada biarawan yang akan dikeluarkan dari biaranya, dan tidak ada pendeta yang akan dikeluarkan dari tempat ibadahnya dan tidak ada peziarah yang akan ditawan dalam perjalanan ziarahnya. Tidak ada satupun gereja dan tempat ibadah mereka yang lain akan dirusak atau dimusnahkan atau dibongkar. Tidak ada satupun dari bahan-bahan bangunan gereja mereka, yang akan digunakan untuk membangun mesjid atau rumah-rumah untuk kaum Muslim, setiap Muslim yang melakukan hal itu akan dinilai sebagai orang fasik atau pembangkang terhadap Allah dan Rasul-Nya. Biarawan dan rahib tidak akan dikenakan pajak atau ganti rugi baik mereka tinggal di hutan-hutan atau di atas sungai-sungai, di timur atau di barat, di utara atau di selatan. Aku akan menyampaikan pada mereka kata-kata penghormatanku. Mereka adalah orang yang berada dalam perjanjian denganku dan akan menikmati kebebasan dari segala macam gangguan. Setiap bantuan akan diberikan pada mereka dalam perbaikan gereja mereka. Mereka akan dibebaskan dari ketentaraan. Mereka harus dilindungi oleh kaum Muslim. Biarlah piagam ini tidak dilanggar hingga Hari Penghakiman.” (Dikutip dari Baladhari).

Salah Satu Fungsi Perang Menurut Ajaran Islam
Di dalam Islam, setiap usaha tidak hanya untuk melindungi kaum Muslim, tetapi juga para pengikut dari agama lain. Allah Ta’ala berfirman : “…Dan sekiranya Allah tidak menangkis sebagian orang dengan perantaraan sebagian yang lain, niscayalah biara-biara serta gereja-gereja Nasrani dan rumah-rumah ibadat Yahudi serta mesjid-mesjid yang di dalamnya banyak disebut telah dibinasakan…” (QS 22 : 41)

Walau bagaimanapun, kaum Muslim telah diperingatkan oleh Pendiri Islam, Nabi Muhammad, Utusan Allah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, bahwa ketika mereka memasuki wilayah orang-orang yang sedang meneror dan menganiaya mereka dengan kasar, mereka tidak boleh kehilangan akal sehat dan sikap adil, dan tergiur untuk memulai melakukan tindakan kejam, seperti yang dilakukan oleh para peneror atau teroris. Kejahatan terburuk dari rasa tidak berterima kasih akan dilakukan oleh orang-orang yang telah melupakan bahwa mereka telah baru saja menjadi sasaran dari kekejaman yang buruk, mulai membagikan hal yang sama, yang jika tidak lebih buruk, akan berlaku kejam kepada pihak lain. Nabi s.a.w.. memerintahkan : “Kalian akan bertemu dengan orang yang mengingat Allah di tempat ibadah mereka. Janganlah berselisih dengan mereka, dan memberi masalah kepada mereka. Di negeri musuh, janganlah membunuh wanita dan anak-anak, jangan pula membunuh orang yang buta dan orang tua. Janganlah menebang pohon, jangan pula meruntuhkan gedung-gedung” (Dikutip dari Halbiyyah, vol. 30

Jadi, jihad yang hanya diperbolehkan oleh Islam ialah perang orang yang teraniaya melawan orang yang menganiaya, berperang untuk melindungi perdamaian semua orang tanpa memandang agama atau kepercayaan mereka. Taktik-taktik semacam bom bunuh diri, dan lain sebagainya sebetulnya mutlak tidak ada dalam kamus orang beriman yang sejati. Allah Ta’ala berfirman : “…Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang terhadapmu.” (Qs. 4: 0).

“…Dan janganlah kamu menjerumuskan dirimu dengan tanganmu sendiri ke dalam kebinasaan,…” (Qs. 2:196).

Islam dengan keras melarang membunuh orang yang tidak berdosa, orang yang tidak menyerang : “…maka ingatlah bahwa tak boleh lagi ada permusuhan kecuali terhadap orang-orang aniaya.” (Qs. 2 194).
Tiga ayat ini cukup untuk mencegah kaum Muslim dari menabrakkan pesawat terbang ke arah gedung-gedung, atau mengirim pembom bunuh diri untuk meledakkan penduduk yang tidak berdosa.  
Sewaktu orang jahat menghentikan kejahatan dan telah dihukum setimpal untuk kejahatan mereka, kemudian Allah berfirman: “Dan, perangilah mereka sehingga tidak ada gangguan lagi, dan agama itu dianut hanya untuk Allah. Tetapi, jika mereka terhenti, maka ingatlah bahwa tak boleh lagi ada permusuhan kecuali terhadap orang-orang aniaya.” (2 : 194).

Kesimpulan

Kesimpulannya, Islam menganjurkan tiga langkah melawan terorisme:
  1. Memberikan pendidikan moral yang istimewa kepada semua kaum Muslim, sehingga mereka menjadi orang yang luhur, adil, bermoral, baik dan penuh cinta yang dengannya menjamin bahwa mereka tidak akan pernah mengacaukan kedamaian orang lain.
  2. Di mana pun kedamaian dikacaukan, mengadakan tukar pikiran dan argumentasi dengan pelaku kejahatan, dan berdoa dengan tulus untuk mereka, untuk merubah jalan yang mereka tempuh.
  3. Jika semua jalan tukar pikiran gagal, kemudian menggabungkan kekuatan dengan semua orang baik untuk bertempur dengan para pengacau hingga perdamaian dipulihkan, tetapi dengan tetap menjaga ketentuan-ketentuan keadilan dalam pandangan.
Adalah merupakan kepercayaan kita bahwa bukan hanya Islam, bahkan tidak ada satupun agama, apapun namanya, dapat menyetujui kekerasan dan penumpahan darah orang yang tidak berdosa, baik laki-laki, perempuan dan anak-anak dengan mengatasnamakan Allah. Para teroris dapat saja menggunakan label-label agama dan politik, tetapi tak ada satupun yang bisa ditipu oleh kelicikan dan tipu muslihat mereka. Mereka tidak melakukan apapun untuk agama. Mereka adalah musuh perdamaian. Mereka harus diperangi pada setiap level seperti yang dianjurkan oleh Islam, agama perdamaian.

Penterjemah : Dildaar Ahmad Dartono



* The Review of Religion, dicetak sejak 1902, merupakan salah satu majalah perbandingan agama terlama. Majalah ini ditujukan untuk mempromosikan debat intelektual dan hidup yang didasarkan pada penghormatan terhadap semua nabi dan agama. Majalah ini merupakan majalah internasional yang diterbitkan oleh Jamaah Muslim Ahmadiyah, yang didedikasikan untuk menyebarkan saling pengertian antar pemahaman.

Read more »

Musik Suffi Bangkitkan Kebudayaan Musik Islam

Festival Internasional Musik Sufi (International Festival for Mystical Music) diharapkan menjadi kebangkitan kesenian Islam dan enam negara peserta kegiatan itu yang mampu menyuguhkan nilai seni spiritual tertinggi dalam mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Penegasan tersebut dikemukakan Dirjen Bimas Islam Prof Dr H Nasaruddin Umar, MA di Jakarta, Rabu (13/7/2011), terkait rencana penyelenggaraan Festival Internasional Musik Sufi di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 17-21 Juli 2011.

Festival ini akan diikuti enam negara, yakni Turki, Maroko, Pakistan, Iran, Mesir, dan tuan rumah Indonesia.
Sufi adalah salah satu upaya seorang Muslim dalam mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, Allah SAW. Banyak cara umat Muslim mendekatkan diri kepada Allah, antara lain dengan tarekot dan sulug.

Terkait dengan event musik sufi itu, Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa kegiatan kesenian spiritual Islami itu dimaksudkan menumbuhkan minat terhadap musik sufi, memberi informasi tentang musik sufi sebagai sarana dakwah, serta menciptakan semangat toleransi dan ukhuwah islamiah antarnegara yang berbeda tradisi dan budaya.

“Musik sufi beragam bentuknya, seperti tarian dan nyanyian, yang merupakan ekspresi keberagaman menuju pendekatan Ilahi,” kata Nasaruddin.

Ia menambahkan, dari prespektif psikologis, musik dapat mengantarkan jiwa pendengar untuk berpulang ke alam ide universal, seluruh jiwa mendapat kenikmatan luar biasa yang berasal dari rohani.
Rasullullah sendiri, kata dia, menyukai musik. Sebagai manusia paling paripurna, Nabi Muhammad SAW gemar berolahraga dan berkesenian. Demikian pula Wali Songo, yang memanfaatkan musik tradisional lokal sebagai sarana dakwah.

Kini, seni menjadi bagian dari yang dibutuhkan manusia. Untuk itu, pihaknya akan menjadikan momentum ini sebagai kebangkitan kesenian Islam.

Dirjen berharap festival ini akan dijadikan agenda tahunan, bisa dua atau tiga tahunan sekali. Yang jelas, selama festival berlangsung, penonton tak dikenakan bayaran.

Read more »

Kiat Menuju Puasa BerKualitas

Puasa Ramadan yang kita tunaikan setiap tahun tidak hanya merupakan kegiatan rutinitas yang berulang, tapi hendaknya diupayakan puasa yang kita jalankan ini benar-benar puasa yang bermakna dan menuju puasa yang berkualitas.Ulama sufi membagi puasa itu ada tiga macam: Pertama puasa am, yakni puasa awam. Artinya puasanya orang yang hanya sekadar tidak makan dan tidak minum serta tidak berhubungan suami isteri pada siang hari, tapi kualitas puasanya masih rendah. Bahkan masih ada yang merasa terpaksa melaksanakan puasa, karena puasa dianggap beban. Ada juga orang menjadi serba salah jika bulan Ramadan tiba, karena mau melaksanakan puasa merasa beban dan tidak sanggup, sedangkan kalau tidak berpuasa merasa malu dengan isteri dan anak-anaknya. Akhirnya pura-pura berpuasa. Pada siang hari dia keluar mencari warung yang bertirai, ketika pulang ke rumah kelihatan pura-pura letih biar dianggap benar-benar berpuasa oleh anak dan isterinya. Orang seperti ini jika Ramadan tiba hatinya resah dan gundah dia berharap bulan Ramadan cepat berlalu dan Idul Fitri segera tiba. Ada juga yang memang melakukan puasa, tapi perilaku dan mulutnya tetap tak bisa dikendalikan , mencaci dan mengumpat serta menceritakan keburukan orang lain tetap dilakukan. Puasa semacam ini harus dihindari, agar puasa yang kita tunaikan tidak sia-sia.
Kedua adalah puasa khusus, yakni puasanya orang-orang yang benar-benar beriman dan melaksanakan ibadah puasa karena Allah, serta penyerahan diri secara totalitas kepada Allah. Orang yang dikategorikan puasa khusus ini menganggap puasa itu bukan sebagai kewajiban, tetapi puasa adalah merupakan suatu kebutuhan. Selain berpuasa, juga selalu menjaga hati dan mulutnya agar terhindar dari murka Allah, dan berupaya selalu ber-ihtiyat (hati-hati) jika berbicara dan mengeluarkan pernyataan. Pada malam harinya selalu melaksanakan ibadah salat sunnat tarawih serta melakukan tadarrus Alquran serta i’tiqaf di masjid. Orang yang berpuasa seperti ini tidak hanya ibadah ansih yang dilakukan, tetapi hubungan sosial kemasyarakatan selalu berinterksi dengan baik dan harmonis. Orang seperti ini selalu berupaya bagaimana meleksanakan ajaran Islam secara kaffah, disuatu sisi taat beribadah, dan disisi lain selalu menjalankan muamalat (hubungan manusia dengan manusia) dengan baik sesuai dengan syariat Islam. Tidak mengherankan orang yang yang seperti ini paling takut kalau berutang dan dia berupaya untuk segera melunasi utangnya, karena perasaan ihsan telah tertanam di dalam kalbunya.
Ketiga adalah puasa khusus lil khusus, yakni puasa yang diketegorikan puasa tingkat tinggi. Muslim seperti ini selain puasa dianggap suatu kebutuhan, juga selalu memperbanyak ibadah sunnat, menghindari perkataan dan perbuatan tercela, bahkan lebih banyak merenung (tadabbur) dan beri’tiqaf minta ampun kepada Allah dan menyesali perbuatan dosa dan perbuatan yang mudarat pada masa silam. Orang yang berpuasa seperti ini selalu menganggap ibadahnya sangat kurang, jika dibandingkan besarnya nikmat Allah yang diterimanya. Orang yang demikian juga selalu bersyukur apa yang telah dikaruniakan oleh Allah kepadanya. Dia menerima apa adanya (qanaah). Namun bukan berarti tidak berusaha sama sekali. Tetapi apa yang dapat diraihnya selalu dikembalikan kepada ketentuan dari Allah. Selain itu tidak pernah menonjolkan dirinya walaupun ilmu yang dimilikinya cukup luas.
Orang yang berpuasa khusus lil khusus ini selalu muhasabah yakni introspeksi diri sendiri, dimana sebenarnya titik lemah dalam jiwanya untuk diperbaiki, kemudian muraqqabah artinya selalu merasa diawasi oleh Allah sehingga senantiasa berbuat ihsan, selanjutnya mu’aqabah yaitu tindak lanjutnya kondisi batinnya untuk memberi teguran kepada diri sendiri.Ketika Ramadan berakhir, orang yang berpuasa khusus lil khusus ini merasa sedih, karena dia harap-harap cemas mungkinkah bisa ketemu kembali Ramadan yang akan datang. Tidak mengherankan muslim seperti ini di luar bulan Ramadan akan memperbanyak puasa sunnat, seperti puasa enam hari bulan Syawal, puasa Senin-Kamis, puasa yaumul bid (tanggal 13, 14, 15 bulan qamaiah) dan beberapa puasa sunnat lainnya.Jika saja kita bisa melakukan puasa khusus, berarti puasa kita sudah tergolong baik dan sudah cukup berkualitas. Apalagi jika kita mampu berpuasa khusus lil khusus, tentu sangat berkualitas lagi puasa kita. Semoga Allah mengampuni dosa kita dan menerima ibadah puasa dan ibadah lainnya di bulan Ramadan ini. Amin ya rabbal alamin.


Oleh: Rasmi Sattar

Read more »