Tampilkan postingan dengan label inspirasi islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi islami. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 November 2011

Mencari Gelar Pak Haji

Ibadah haji adalah ibadah yang teramat mulia. Sungguh amat sulit untuk saat ini berangkat langsung dari tanah air karena antrian yang saking panjangnya. Namun demikian antusias orang di negeri kita di mana mereka amat merindukan ka'bah di tanah suci. Sampai-sampai berbagai cara ditempuh dan dijalani untuk bisa ke sana meskipun dengan cara yang tidak Allah ridhoi. Selain itu tidak sedikit yang niatnya untuk selain Allah, hanya ingin mencari gelar. Label pak Haji-lah yang ingin disandang bukanlah ridho dan pahala dari Allah yang dicari. Sampai-sampai ada yang mengharuskan di depan namanya harus dilabeli gelar "H".

Keutamaan Haji Mabrur
Haji adalah amalan yang teramat mulia. Sampai-sampai yang berhaji disebut dengan tamu Allah dan apa saja yang mereka panjatkan pada-Nya mudah diperkenankan. Dari Ibnu Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْغَازِى فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ وَفْدُ اللَّهِ دَعَاهُمْ فَأَجَابُوهُ وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ

Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang berhaji serta berumroh adalah tamu-tamu Allah. Allah memanggil mereka, mereka pun memenuhi panggilan. Oleh karena itu, jika mereka meminta kepada Allah pasti akan Allah beri” (HR. Ibnu Majah no 2893. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Amalan haji terutama haji mabrur termasuk dalam jajaran amalan yang paling afdhol. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
سُئِلَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - أَىُّ الأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ « إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « جِهَادٌ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « حَجٌّ مَبْرُورٌ »

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Amalan apa yang paling afdhol?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Ada yang bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jihad di jalan Allah.” Ada yang bertanya kembali, “Kemudian apa lagi?” “Haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 1519)

Dan haji pun termasuk jihad. Dari ‘Aisyah—ummul Mukminin—radhiyallahu ‘anha, ia berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ ، نَرَى الْجِهَادَ أَفْضَلَ الْعَمَلِ ، أَفَلاَ نُجَاهِدُ قَالَ « لاَ ، لَكِنَّ أَفْضَلَ الْجِهَادِ حَجٌّ مَبْرُورٌ »

Wahai Rasulullah, kami memandang bahwa jihad adalah amalan yang paling afdhol. Apakah berarti kami harus berjihad?“Tidak. Jihad yang paling utama adalah haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. (HR. Bukhari no. 1520)

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah mengatakan, “Haji dan umroh termasuk jihad. Karena dalam amalan tersebut seseorang berjihad dengan harta, jiwa dan badan. Sebagaimana Abusy Sya’tsa’ berkata, ‘Aku telah memperhatikan pada amalan-amalan kebaikan. Dalam shalat, terdapat jihad dengan badan, tidak dengan harta. Begitu halnya pula dengan puasa. Sedangkan dalam haji, terdapat jihad dengan harta dan badan. Ini menunjukkan bahwa amalan haji lebih afdhol’.” (Lathoif Al Ma’arif, 403)

Balasan bagi haji mabrur adalah surga, ini sungguh balasan yang luar biasa. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga.” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349).

Apa itu Haji Mabrur?
Al Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan, “Haji mabrur adalah jika sepulang haji menjadi orang yang zuhud dengan dunia dan merindukan akherat.”
Al Qurthubi rahimahullah menyimpulkan, “Haji mabrur adalah haji yang tidak dikotori oleh maksiat saat melaksanakan manasik dan tidak lagi gemar bermaksiat setelah pulang haji.” (Tafsir Al Qurthubi, 2/408)
An Nawawi rahimahullah berkata, “Pendapat yang paling kuat dan yang paling terkenal, haji mabrur adalah haji yang tidak ternodai oleh dosa, diambil dari kata-kata ‘birr yang bermakna ketaatan. Ada juga yang berpendapat bahwa haji mabrur adalah haji yang diterima. Di antara tanda diterimanya haji seseorang adalah adanya perubahan menuju yang lebih baik setelah pulang dari pergi haji dan tidak membiasakan diri melakukan berbagai maksiat. Ada pula yang mengatakan bahwa haji mabrur adalah haji yang tidak tercampuri unsur riya’. Ulama yang lain berpendapat bahwa haji mabrur adalah jika sepulang haji tidak lagi bermaksiat. Dua pendapat yang terakhir telah tercakup dalam pendapat-pendapat sebelumnya.” (Syarh Shahih Muslim, 9/118-119)

Demikianlah kriteria haji mabrur. Kriteria penting pada haji mabrur adalah haji tersebut dilakukan dengan ikhlas dan bukan atas dasar riya’, bukan ingin mencari pujian, bukan ingin disebut “Pak Haji”.

Ikhlaslah dalam Ibadah
Dalam setiap ibadah kita diperintahkan untuk ikhlas di dalamnya. Kita diperintahkan beribadah untuk mengharap wajah Allah dan mengharap ridho-Nya. Jika kita beribadah malah ingin mencari pujian, maka jadi sia-sialah ibadah tersebut. Termasuk di dalamnya menunaikan haji hanya ingin mencari gelar pak Haji, segala pengorbanan yang kita tumpahkan dari sisi biaya maupun tenaga, itu jadi tidak bernilai apa-apa. Perintah Allah untuk ikhlas sebagaimana dalam firman-Nya,
وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah: 5)
Allah pun mengetahui segala sesuatu yang ada dalam isi hati hamba apakah ia ikhlas ataukah ingin cari muka di hadapan manusia dalam ibadahnya. Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ إِنْ تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ
Katakanlah: "Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui”." (QS. Ali Imran: 29)
Dalam ayat lainnya, Allah memperingatkan dari bahaya riya’ atau ingin cari pujian manusia dalam firman-Nya,
لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ
Jika kamu mempersekutukan (Rabbmu), niscaya akan hapuslah amalmu.” (QS. Az Zumar: 65)
Dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang sia-sialah amalan yang hanya ingin cari muka atau cari pujian manusia dalam sabdanya,
قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
Allah Tabaroka wa Ta’ala berfirman: Aku sama sekali tidak butuh pada sekutu dalam perbuatan syirik. Barangsiapa yang menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya (maksudnya: tidak menerima amalannya, pen) dan perbuatan syiriknya.” (HR. Muslim no. 2985). Imam Nawawi mengatakan, “Makna hadits ini adalah bahwa Allah tidak peduli pada orang menyekutukan-Nya dalam ibadah dengan selain-Nya. Barangsiapa yang beramal yang dia tujukan untuk Allah dan juga untuk selain-Nya, maka Allah tidak akan menerima amalannya bahkan Allah akan meninggalkan dirinya jika ia bermaksud demikian. Amalan seseorang yang berbuat riya’ (tidak ikhlas), itu adalah amalan batil yang tidak berpahala apa-apa, bahkan ia akan mendapatkan dosa." (Syarh Shahih Muslim, 18/116). Artinya, siapa yang berhaji namun hanya ingin cari gelar, maka amalannya bisa jadi sia-sia belaka. Ikhlaslah dalam beribadah pada Allah Ta’ala. Abul Qosim berkata, “Ikhlas adalah membersihkan amalan dari komentar manusia.” (At Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an, 50-51)
Amalan sholeh yang bisa disembunyikan lebih baik disembunyikan, tidak perlu seluruh dunia mengetahuinya dan tidak perlu ingin cari pujian orang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِىَّ الْغَنِىَّ الْخَفِىَّ
Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, hamba yang hatinya selalu merasa cukup dan yang suka menyembunyikan amalannya.” (HR. Muslim no. 2965). Basyr Al Hafiy mengatakan, “Tidak selayaknya orang-orang semisal kita menampakkan amalan sholih walaupun hanya sebesar dzarroh (semut kecil). Bagaimana lagi dengan amalan yang mudah terserang penyakit riya’?” Ibrahim An Nakho’i mengatakan, “Kami tidak suka menampakkan amalan sholih yang seharusnya disembunyikan.” Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan bahwa Abu Hazim berkata, “Sembunyikanlah amalan kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan amalan kejelekanmu.” Al Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan, “Sebaik-baik ilmu dan amal adalah sesuatu yang tidak ditampakkan di hadapan manusia.” (Dinukil dari Ta’thirul Anfas min Haditsil Ikhlas).
Imam Al Ghozali mengatakan, “Yang tercela adalah apabila seseorang mencari pujian. Namun jika ia dipuji karena karunia Allah tanpa ia cari-cari, maka itu tidaklah tercela.”
Semoga Allah menganugerahkan kita sifat ikhlas dalam beribadah kepada-Nya dan menjauhkan kita dari penyakit riya’ yang dapat menghapus amalan.

Read more »

4 Cara Penghapus Dosa

Ibnu Taimiyah rahimahullah memberikan pelajaran amat bagus tentang apa saja amalan yang bisa menghapuskan dosa. Penjelasan tersebut begitu ringkas dan sederhana yang semoga dapat menyentuh hati kita sehingga tidak terus berlarut dalam kubangan dosa.
Abul ‘Abbas Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,
Dosa dapat terhapus dengan beberapa hal yaitu:

Pertama: Taubat.

Kedua: Istighfar yang tidak tercakup dalam taubat. Sesungguhnya Allah mengampuni dan mengijabahi do’a hamba-Nya walaupun ia hanya beristihfar tanpa menyertakan taubat di dalamnya. Namun jika taubat disertai dengan istighfar, maka itu lebih sempurna.

Ketiga: Amalan sholih yang menghapuskan dosa. Amalan yang lebih bermanfaat adalah amalan yang sifatnya umum maupun khusus (dalam menghapuskan suatu  dosa).  ... Pengampunan dosa di sini diperoleh jika seseorang mengikutkan kejelekan dengan kebaikan. Yang dimaksud hasanaat (kebaikan) adalah sesuatu yang dianjurkan oleh Allah melalui lisan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa perbuatan, akhlaq dan sifat.

Keempat: Musibah sebagai penghapus dosa. Musibah adalah segala sesuatu yang terasa menyakitkan berupa rasa gelisah, sedih dan rasa sakit yang menimpa harta, kehormatan, jasad atau yang lainnya. Namun musibah ini datang bukan atas kehendak hamba.

Semoga jadi pelajaran berharga.

Read more »

Tunda Duniamu, Segerakan Akhiratmu

“Yah, aku boleh nanya nda?” tanya seorang anak pada ayahnya. Saat itu mereka baru saja shalat Ashar di mushalla salah satu tempat wisata.
Sang Ayah tersenyum. Ada yang tak biasa dengan putrinya.” Kamu itu lho! Beli jajan nda pakai ijin Ayah dulu, giliran nanya pakai minta ijin segala. Mau tanya apa?”
“Tapi Ayah janji, nda boleh marah ya?” sang bocah berusaha mensejajarkan langkahnya.
“Insya Allah. Ayo, mau tanya apa?”
“Ayah kalau nolong orang suka pilih-pilih, ya?” tanya sang anak, ragu-ragu.
Sang ayah menghentikan langkahnya, terkejut.” Maksudnya?”
“Iya, suka mbeda-bedain!” jawab sang anak santai.”Buktinya tadi waktu ada ibu-ibu mau pinjam mukena, Ayah nyuruh aku shalat dulu, baru meminjamkan mukenaku.”
“Oh, itu!”
“Tadi siang, waktu aku antri di kamar mandi, Ayah minta aku ngalah, memberikan antrianku pada mbak-mbak yang pakai baju biru. Mentang-mentang dia lebih muda dan cantik ya, Yah?”
“Astaghfirullah! Bukan begitu, anakku!”
“Lalu?”
“Begini. Ayah menyuruhmu mengalah saat antri di depan kamar mandi karena Ayah melihat orang itu sudah sangat kepayahan menahan sakit perutnya. Ayah tidak memperhatikan usia ataupun wajahnya, tapi Ayah bisa merasakan kecemasannya. Sejak datang, ia sudah memegangi perutnya. Ayah khawatir, jika kamu tidak memberikan antrianmu, dia tak bisa lagi menahan. Kalau itu sampai terjadi, apa kamu tega? Sementara kamu masih bisa menahan untuk berkemih.”
“Ibu-ibu yang di mushalla? Apa tidak lebih baik jika aku meminjamkan mukena padanya dulu. Pahalaku kan jadi berlipat ganda!”
“Anakku, jika aku menyuruhmu shalat dulu baru meminjamkan mukenamu, sungguh bukan karena yang meminjam adalah seorang ibu-ibu. Bukan! Bukan itu. Ketahuilah, anakku. Sama-sama menolong, tapi untuk urusan dunia berbeda dengan urusan akhirat, atau ibadah. Untuk urusan dunia, kita dianjurkan mengutamakan kepentingan orang lain, kepentingan umum bahkan di atas kepentingan pribadi. Tapi untuk urusan ibadah, jika tidak bisa dilakukan bersama-sama, karena tidak membawa mukena seperti yang terjadi pada ibu tadi misalnya, tunaikan kewajiban sendiri dulu, baru orang lain.”
“Kok, begitu?”
“Begini, seumpama kamu diberi pilihan, siapakah yang akan memasuki pintu syurga pertama kali, apakah kamu akan memberikan kesempatan itu pada orang lain?”
“Tidak! Aku dulu”
“Nah, begitulah gambarannya. Ini bukan akal-akalan Ayah, ini yang Rasulullah contohkan. Untuk urusan ibadah, jika tidak bisa bersama-sama, kita utamakan diri sendiri dulu. Bukan egois, bukan pula tidak peduli dengan orang lain, tapi agar kita selalu bersegera melakukan kebaikan (ibadah). Bisa dimengerti?”
Sang anak hanya mengangguk.
“Masih menuduh Ayah pilih-pilih?”
Sang anak hanya menggeleng, tersipu malu.
“Untuk urusan dunia, kau boleh menunda keperluanmu, tapi untuk urusan ibadah, jangan tunda waktumu!”

Read more »

Melihat Lebih Dekat Mencoba Lebih Bermakna

Bila kulihat kenyataan yang ada
Ketika kesadaran belum sepenuhnya tertanam
Tak wajar berharap untuk berbuat lebih
Hanya berbuat apa adanya
Tak bertenaga apalagi bermakna
Terlalu biasa untuk sesuatu yang teramat istimewa

Bila kulihat kenyataan yang ada
Ketika keikhlasan belum sepenuhnya tertuang
Maka semua yang engkau lakukan sekarang
Tak akan mampu menggerakkan
Apalagi membawa perubahan
Untuk sebuah peradaban yang diimpikan

Kucoba menafikan kenyataan yang ada
Beban cinta ini terbagi merata sempurna
Sehingga tiap pundaknya laksana baja
Baja yang menanggung beban sesuai modulusnya saja
Tak mudah berkarat karena terlindung oksida ukhuwah
Kuat, tak mungkin patah tiba-tiba

Kucoba menafikan kenyataan yang ada
Amanah cinta ini pastinya mengakar sempurna
Sehingga harum bunga dan manis buahnya
Bisa dinikmati, bahkan oleh mereka yang tuna pancaindera
Bertenaga sempurna membawa perubahan bermakna
Peradaban Islam yang mulia

Maka biarkan aku bertanya kepada aku dan kamu
Sudahkah hati ini berpadu satu
Mencurahkan cinta hanya kepada pemiliknya yang paripurna
Bersua hanya untuk tunduk pada-Nya, Sang Pemilik segala Maha
Bersatu hanya untuk menyeru di Jalan-Nya yang suci tak bernoda
Berikrar untuk jadi pembela syariat-Nya yang murni tak berjelaga

Dan inilah doa yang aku panjatkan tiap hari
Doa yang terlafazkan dengan mengingat wajah kalian
Wajah yang senantiasa bercahaya karena cinta dan mencintai-Nya
Kuatkanlah ikatannya
Kekalkanlah cintanya
Tunjukilah jalan-jalannya
Terangilah dengan cahayamu
Yang tiada pernah padam
Ya robbi bimbinglah kami
Lapangkanlah dada kami
Dengan karunia iman
Dan indahnya tawakal padamu
Hidupkan dengan ma’rifatmu
Matikan dalam syahid dijalanmu
Engkaulah pelindung dan pembela

Read more »

Bagaimana Memulai Kejujuran?

Mungkin ada yang bertanya, “Kapan dan bagaimanakah memulai kejujuran itu?”
Jawabnya mudah tetapi melaksanakannya susah, “Mulailah sekarang juga, saat ini juga. Kejujuran dimulai dari diri sendiri, bukan dari orang lain. Jujur kepada Allah tentang dirimu, jujur kepada dirimu sendiri. Jika engkau mengatakan subhanallah dengan berulang-ulang dan penuh penghayatan maka engkau mengakui bahwa Allah Maha Suci sedangkan dirimu kotor dan banyak menyalahi atau berdosa kepada-Nya. Jika engkau sering beristighfar maka Engkau jujur mengakui kesalahanmu itu. Jika engkau selalu memuji Allah, maka engkau mengakui bahwa tiada yang patut dipuji selain Allah”.

Inilah pangkal kejujuran dan makna dari firman Allah Azza wa Jalla,
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.” (QS. Ar-ra’du: 28-29)
Mulai sekarang hendaknya engkau konsisten dengan kejujuran itu meskipun berhadapan dengan siapa pun. 

Jangan sekali-kali berdusta atau membohongi orang lain karena Allah Maha tahu. Dia akan membuat perhitungan denganmu tentang hal itu. Ingatlah Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam berkata,

“Kejujuran itu adalah ketenangan, sementara kebohongan adalah kegelisahan” (HR. Bukhari)
Saat berbuat jujur (terhadap Allah dan dirimu sendiri), engkau akan merasa tenang dan tenteram. Demikian pula ketika engkau jujur terhadap orang lain. Tetapi tatkala berbuat dosa atau mengkhianati orang maka hatimu menjadi gelisah… Tinggalkan kegelisahan itu, beristighfarlah lalu, bersikaplah jujur.
Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

“Apabila seorang hamba berbohong , Malaikat yang menyertainya akan menjauh sekitar satu mil karena bau busuk perbuatannya” (HR. At turmudzi)

Jika Malaikat menjauh, artinya hilanglah rahmat Allah. Lalu, pastilah Allah murka kepadamu… setelah itu yang akan mendekat mu adalah syaitan . Karena itu berhati-hatilah, jangan berbohong. Sebab kebaikan datang bersama saudaranya (kejujuran). Demikian pula dengan keburukan, ia datang bersama saudaranya… Selanjutnya, untuk melatih kejujuran ini Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

“Berikan jaminan kepadaku dengan enam hal dari dirimu dan aku menjamin surga untukmu: jujurlah jika berbicara, tepatilah jika berjanji, tunaikanlah jika diserahi amanah, jagalah kemaluanmu, jagalah pandanganmu, dan jagalah tanganmu” (HR. Ahmad)

Read more »

Muslimah Kanada: Jilbab Adalah Identitas Kami!

Tiga Muslimah terkejut saat mendengar teriakan keras seorang perempuan kulit putih berambut pirang. Tidak terdengar jelas, lantaran suara perempuan itu terhempas kereta bawah tanah yang tengah melintas.
“Kalian harus menentang orang-orang dalam agama kalian, terutama para imam, untuk menghormati kaum perempuan,” kira-kira begitulah suara yang terdengar.

Umpatan perempuan itu tidak direspon secara langsung oleh tiga Muslimah tadi. Namun segera muncul perbincangan menarik di antara ketiganya. “Islam menghormati perempuan. Kami tidak terlalu peduli dengan omong kosong itu,” ujar salah seorang dari mereka, Gehad El Sayed, mahasiswa farmasi University of Toronto.

Bagi Gehad, jilbab adalah bagian dari identitasnya. Tak ubahnya sepasang sepatu. “Saat mengenakan jilbab, aku tidak berhenti main sepak bola dan voli. Aku bergaul dengan semua orang, dan tidak terjebak di kotak pandora,” katanya, sebagaimana dilansir Thestar.com, Senin (3/10).

Ambren Syed, Muslimah lainnya, mengaku sempat ragu untuk mengenakan jilbab. Namun bagi keluarganya yang merupakan imigran dari Banglore, mengenakan jilbab adalah tradisi. “Awalnya, aku takut dengan reaksi orang sekitar. Dapatkah aku hidup dengan jilbab, bisakah aku mencintainya,” kenang gadis 24 tahun ini.

Ambren menyayangkan perhatian orang yang berlebihan terhadap jilbab. Sebab baginya, perhatian itu merupakan bentuk lain rasisme. “Aku memutuskan memakai jilbab sebagai bentuk perlawanan dan kebebasan berekspresi. Aku ingin diidentifikasi sebagai seorang Muslim,” tegasnya.

Seiring berjalannya waktu, Ambren merasakan betul manfaat berjilbab. Suatu hari, saat berusia 14 tahun, ia selamat dari pelecehan seorang laki-laki tak dikenal. “Malah mereka yang takut denganku,” tuturnya.
Manfaat lain, ungkap Syed, ia merasa cantik. “Tak kusangka jilbab membuatku terlihat cantik. Sangat menyenangkan.”

Namun pengalaman menyenangkan tidak melulu dialami Ambren. Ia sempat dikucilkan teman-temannya saat kuliah dulu. Tapi itu masa lalu. Kini ia begitu dihormati, walau masih ada saja yang mencemooh.
Lain lagi kisah, Sahare Amor, warga Oakville. Ia mengenakan jilbab saat berusia 17 tahun, tepatnya 1 Januari 2009. Saat itu, ia terinspirasi—untuk berjilbab—oleh seorang aktris Mesir, Hanan Turk.

“Dia sangat terkenal di Mesir, cantik dan memiliki segalanya. Suami, anak-anak dan membintangi banyak film. Dia sangat menikmati hijabnya. Itu yang membuatku berpikir tentang keadaanku,” kenangnya.
Inspirasi lain Sahare datang dari ibunya, Sanaa, yang mulai mengenakan jilbab pada usia 40 tahun. “Hal ini mengingatkanku bahwa aku tidak berada di negara Muslim. Aku harus menjaga keimanan dan menunjukkan keislamanku,” kata gadis kelahiran Maroko ini.
\
Bagi Sahare, jilbab adalah soal hubungannya dengan Tuhan. “Aku merasa lebih dekat dengan-Nya ketika berjilbab. Ini yang membuatku sadar bahwa Dia di mana-mana, dan tahu segalanya,” ujar mahasiswi McMaster University yang jago taekwondo ini.

Gadis yang fasih berbahasa Prancis ini percaya bahwa perempuan dihormati karena agamanya. “Perempuan itu seperti berlian. Kau dapat melihat mereka di kotak kaca, namun tidak setiap orang bisa menyentuhnya,” kata Sahare.

Lain lagi cerita Sophia Shiddiqi. Ia mulai mengenakan jilbab saat berusia 25 tahun. “Saya lahir dan dibesarkan dalam budaya dan sistem sekolah di mana saya mengajar kini. Tapi saya Muslim dan warga Kanada,” tukasnya.

Tahun 2006 merupakan kilas balik bagi Sophia—ketika ia, suami dan mertuanya berangkat umrah ke Makkah. “Selama tiga pekan di sana, kehidupan kami hanya berkisar antara shalat dan ibadah. Makkah adalah tempat yang indah dan paling damai di dunia,” ujarnya.

Dari situlah Sophia mulai yakin untuk membuat keputusan penting dalam hidupnya, mengenakan jilbab. (Chairul Akhmad/Agung Sasongko/RoL)

Read more »

Di Tengah Tawa, Jangan Pernah Lupa untuk Menangis

Sejarah mengenalnya dengan nama Muhammad Ibnu Sirin al Anshary rahimahullah, seorang ulama tabi’in yang mulia. Kualitas iman dan ilmunya tidak lagi diragukan, kemampuannya mentakwil mimpi berdasarkan nash-nash shahih menjadi kelebihannya yang populer, kedalaman ilmunya mengenai takwil mimpi dapat kita nikmati pada kitabnya yang berjudul Tafsirul Ahlam. Dan hal ini diakui pula oleh ulama-ulama kibarpada zamannya.

Tapi ada pelajaran lain yang dapat kita petik dari ulama yang mulia ini, Dr. Aidh Abdullah al Qorni dalam salah satu bukunya, yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul ‘Pesona Cinta’ mengutip pernyataan seorang ulama tentang Ibnu Sirin; Muhammad Ibnu Sirin kata Al Qorni, adalah seorang ulama yang senang bercanda, bahkan sering pula bercandanya menyebabkan dirinya dan orang-orang yang mendengar tertawa terbahak. Tapi di sisi lainnya Ibnu Sirin adalah seorang yang mudah menangis, sering beliau terisak ketika membaca Al-Qur’an dalam munajat-munajat malamnya.
•••
Belakangan, bercanda dianggap cara yang paling efektif untuk berkomunikasi. Dengan bercanda kesalahan dianggap sesuatu yang lumrah dan selalu termaafkan. ‘Sengketa hati’ jarang hadir dari aktivitas bercanda. Bahkan kini, bercanda menjadi komoditi dagang yang favorit di stasiun-stasiun TV. Tapi, berkaca pada Muhammad Ibnu Sirin rahimahullah selayaknya di tengah gelak tawa, kita sisipkan hati dan pikiran kita untuk bertafakur dan bertaqarub kepada Allah. Jangan sampai seringnya tertawa membuat kita lupa betapa nikmatnya menangis tersedu kepada Allah.
•••
Ada ibrah menarik pula yang kita dapatkan dari sahabat mulia, ‘Ali bin Abi Thalib radiyallahu ‘anhu. Sahabat yang alim ini dikenal periang dan suka berkelakar. Hal ini juga yang disifatkan Umar bin Khathab kepada ‘Ali. Suatu saat menjelang wafatnya Umar bin Khathab memberikan penilaian pada keenam calon penggantinya, termasuk ‘Ali. Imam az Zuhri meriwayatkan kejadian ini sebagaimana diuraikan oleh Ibnu Abil Hadiid dalam kitab Syarh-nya. Setelah menyifati Zubair ibn al Awwam, Thalhah ibn ‘Ubaidillah, dan Sa’ad bin Abi Waqqash. Maka tibalah saatnya ‘Ali. Umar menghadap ke arah ‘Ali, kemudian berkata, “Dan adapun engkau ‘Ali, Demi Allah seandainya bukan karena unsur kelakar dalam dirimu, niscaya engkau bisa membawa mereka pada tujuan yang terang dan kebenaran yang jelas ketika engkau memimpin mereka, sayangnya, mereka takkan mau kau bawa ke sana. Mereka takkan melakukannya.”
Begitulah, banyaknya bercanda membuat Umar enggan memilih ‘Ali sebagai penggantinya.
•••
Tapi, ada kisah lain dari seorang ‘Ali yang penuh hikmah. Untuk itu kita simak apa yang disampaikan oleh Dhirar ibn Dhamrah al Kinani (salah seorang teman dekat ‘Ali pada perang di Shiffin) pada Mu’awiyah tentang ‘Ali. “ ’Ali itu, demi Allah adalah jauh pandangannya dan teguh cita-citanya. Beliau selalu membelakangi dunia dan kemewahannya, selalu menyambut kedatangan malam dan kegelapannya. Aku bersaksi,” lanjut Dhirar “Bahwa aku telah melihatnya dalam keadaan yang sangat mengharukan. Ketika itu, malam telah menabiri alam dengan kegelapannya. Adapun beliau masih duduk di mihrabnya, menangis terisak seperti ratapan orang yang sedang patah hati. Beliau terus bermunajat pada Allah mengadukan berbagai hal. Dia berkata pula pada dunia, “Hai dunia! Menjauhlah dariku! Mengapa engkau mendatangiku? Tak adakah orang lain untuk kau perdayakan? Adakah kau sangat menginginkanku? Engkau tak mungkin dapat kesempatan mengesankanku! Tipulah orang lain, aku tidak memiliki urusan denganmu! Aku telah menceraikanmu tiga kali. Kehidupanmu singkat, kegunaanmu kecil, kedudukanmu hina, dan bahayamu mudah berlaku.”
Dhirar pun duduk, dia meratap. Mendengar ratapan itu, tangis Muawiyah makin tak tertahan. “Demi Allah”, kata Muawiyah “Memang benarlah apa yang engkau katakan tentang ayah si Hasan itu.”
•••
Begitulah para ‘alim mengajarkan pada kita, di tengah kelakar dan candaannya, mereka tidak pernah lupa untuk menangis meratap kepada Allah. Karena seperti yang disampaikan oleh ‘Ali sendiri, “Tidak ada mata yang menangis, kecuali ada hati yang hidup di belakangnya.”

Read more »

Sederhananya Cinta

Cinta merupakan anugerah dari yang Maha Pemberi Cinta. Dengan cinta hidup ini terasa damai dan tenteram. Dan karena cinta timbulnya keteraturan di muka bumi ini. Sebagaimana tata surya yang beredar secara teratur, di sana ada cinta Allah Sang Maha Pemberi Cinta. Sehingga makhluk di permukaan bumi ini pun dapat mengambil manfaat dari keteraturan tata surya itu.

Sungguh tak terbayangkan bila pada tata surya itu tak ada cinta Allah di dalamnya. Tentu antara benda antariksa terjadi benturan satu sama lain dan itu artinya malapetaka bagi penduduk bumi.
Dan bahkan cinta Allah itu pun dirasakan oleh hewan serta tumbuhan sekalipun. Tak ada serigala yang memakan anaknya. Tumbuh-tumbuhan kembang merekah, adanya kesinambungan antara tumbuhan satu dengan tumbuhan lainnya, dengan jenis dan warna yang beraneka ragam.

Cinta dalam konteks manusia acap kali hanya ditafsirkan antara pria dan wanita saja. Sedangkan cinta maknanya sungguhlah sangat universal. Pemaknaan cinta tentu lebih luas dari itu. Cinta antara orang tua terhadap anak yang menghasilkan kasih sayang. Cinta antara guru dengan murid yang menghasilkan pembimbingan. Cinta antara yang tua kepada yang muda yang menghasilkan penjagaan. Semua merupakan bentuk dimensi cinta yang begitu luas. Dan tentunya bagaimana kita menafsirkan cinta akan memiliki warna yang berbeda dalam kita memaknai cinta itu.

Namun, sangat disayangkan pada masyarakat modern saat ini cinta sudah dianggap menjadi berhala yang disembah-sembah. Cinta itu memang penting bagi hidup manusia, namun cinta bukan berarti segala-galanya. Bagaimana sepasang muda mudi yang putus cinta dan berakhir dengan bunuh diri. Atau cinta yang menuntut harta, tidak ada materi maka tidak cinta. Serta pemujaan cinta lainnya yang sangat berlebihan yang sangat jauh dari nilai cinta itu sendiri. Sebuah cinta buta yang sangat jauh dari tuntunan sang Maha Pemberi cinta, Allah SWT.

Bahwa cinta yang sesungguhnya ialah saat sang pencinta mampu untuk mengekspresikan perasaannya tanpa melupakan cintanya kepada penciptanya. Karena sesungguhnya sang Maha Pemberi Cinta harus lah senantiasa dilibatkan dalam setiap episode kehidupan kita di dalam memaknai cinta.

Dalam Sederhananya Cinta ini Deasy Lyna Tsuraya mengupas berbagai dimensi cinta. Bagaimana cinta terhadap lawan jenis. Di mana cinta terhadap lawan jenis tidaklah untuk dilenyapkan, melainkan cinta itu perlu untuk dikelola asal tidak berlebihan. Cinta seseorang pun haruslah dalam bingkai mardhatillah, tidak dalam rangka memperturutkan hawa nafsu. Karena bila hawa nafsu menjadi panglimanya tentu cinta tidak lagi menjadi kemaslahatan, namun pada kondisi ini cinta sudah berpaling menjadi cinta yang menistakan.

Dimensi cinta lain yang cukup menarik dibahas dalam buku ini ialah cinta  Allah telah menciptakan manusia dalam sebaik-baiknya bentuk, lengkap dengan kesempurnaannya. Itu berarti bahwa kesempurnaan kita sebagai manusia telah melekat pada diri kita. Dan begitu pula pada cinta, bahwa jangan pernah menuntut kesempurnaan cinta, karena dengan kesempurnaan yang telah ada pada diri kita telah menjadikan diri kita sempurna.

Cinta dengan segala dimensinya memberikan sebuah ruh pembangun jiwa bagi para pencinta. Di sana menghasilkan kekuatan maha dahsyat. Ada sebuah kekuatan cinta yang dihasilkan, di mana kekuatan itu tidak dapat dihasilkan kecuali dari kekuatan cinta itu sendiri.

Cinta para pencinta kepada yang dicintainya menghasilkan karya. Cinta tanpa karya hanyalah sebuah cinta yang palsu. Bahwa cinta membutuhkan bukti nyata yaitu karya. Karena cintalah keinginan untuk menghasilkan karya yang terbaik itu selalu bergelora. Pagi para pecinta, karya cipta yang dihasilkannya yaitu membesarkan setiap jiwa yang ditemuinya. Sehingga karya cinta itu dapat pula dirasakan orang lain. Atau dalam istilah Anis Matta dalam Serial Cintanya bahwa para pecinta harus mampu memberikan semangat penumbuhan kepada orang yang dicintai.

Ataupun bagaimana cinta Allah secara tunai kepada hambanya, bagaimana Allah mencurahkan rahman-Nya kepada seluruh hamba-Nya tanpa memandang bagaimana tingkat amalnya. Tanpa sedikit pun mengharap manfaat atas cinta itu yang telah dicurahkan kepada hamba-Nya. Allah mencurahkan cinta tak mengharap pamrih. Dan di situ lah letak kesederhanaan cinta.

Dan pada buku ini lebih lanjut membawa kita untuk menangkap hikmah bagaimana “seni” Allah serta para pencinta dalam mencinta untuk cinta yang sederhana dan tidak rumit.

Terakhir, buku ini ditutup bagaimana doa para pecinta. Bagaimana doa ibu terhadap anaknya, agar sang anak senantiasa dilimpahkan kesejahteraan dan keselamatan. Lalu bagaimana doa Adam AS terhadap istrinya Hawa yang Allah pertemukan jua di muka bumi setelah Allah usir dari surga. Semuanya itu dilakukan karena cinta yang berlandaskan pada Rabb nya yang menyandarkan cinta itu pada nilai ilahiyah. Cinta bersumber kepada Maha Pemberi Cinta dan kepada-Nya jualah cinta itu harus disandarkan. 

Read more »

Kamis, 17 November 2011

Disebabkan Oleh Cinta

Cinta laksana air dalam kehidupan, nafas dalam jiwa, semangat dalam raga, lembut dalam sutera. Ia bagaikan panas pada api, dingin pada salju, luas pada angkasa dan, seperti kata Sapardi, “kayu kepada api yang menjadikannya abu”

Disebabkan oleh cinta, Rasulallah SAW selalu mengingat-ingat almarhumah Khadijah (RA), istri pertamanya, hingga Aisyah (RA), istri ketiganya, cemburu “Aku sangat cemburu dengan Khadijah karena sering disebut Rasulullah, sampai-sampai aku berkata: Wahai Rasulullah, apa yang kau perbuat dengan wanita tua yang pipinya kemerah-merahan itu, sementara Allah telah menggantikannya dengan wanita yang lebih baik?”
Rasulullah SAW menjawab, “Demi Allah, tak seorang wanita pun lebih baik darinya. Ia beriman saat semua orang kufur, ia membenarkanku saat manusia mendustaiku, ia melindungiku saat manusia kejam menganiayaku, Allah menganugerahkan anak kepadaku darinya.”.

Dalam riwayat lain diceritakan, Aisyah mengatakan, “Tak seorang pun dari istri-istri nabi yang aku cemburui lebih dalam ketimbang Khadijah. Meskipun aku belum pernah melihatnya, namun Rasulullah seringkali menyebutnya. Pernah suatu kali beliau menyembelih kambing lalu memotong-motong dagingnya dan membagikannya kepada sahabat-sahabat karib Khadijah.”

Jika hal tersebut disampaikan Aisyah, Rasulullah SAW menanggapinya dengan berkata, “Wahai Aisyah, begitulah kenyataannya. Sesungguhnya darinyalah aku memperoleh anak”.

Disebabkan oleh cinta, Adam memakan buah keabadian (syajarah khuldi), karena – konon – Sayyidah 
Hawwa memintanya melakukan itu. Adam yang hidup di syurga dengan kenikmatan yang tiada tara, tetap berharap dengan keabadian cinta. Ah, ada saja.

Dalam tulisan yang singkat ini, saya ingin membahas tentang cinta yang sebenarnya. Cinta yang telah mengantarkan janin pada kedewasaan, air pada pusaran gelombang dan jalinan rindu pada bait-bait syair kehidupan. Cinta, sebuah kata yang hanya terdiri dari lima huruf. Tetapi, kandungannya telah mengubah sejarah peradaban manusia. Syeikh ‘Aidh al-Qorni mengatakan kita harus memilah cinta pada dua takaran: cinta ilahiyah dan cinta duniawiyah. Cinta ilahiyah adalah cinta yang abadi. Cinta seorang hamba pada Allah untuk mengikuti seluruh aturan hidup yang diberikan lewat nabi-Nya, Muhammad SAW. Bagaimana mungkin manusia tak mencintai Tuhannya, sementara seluruh kenikmatan ini adalah pemberian-Nya: Ketentuan Allah adalah adil, syariat-Nya rahmat, ciptaan-Nya menawan, fadhilah-Nya luas melebihi keluasan samudera.
قُل لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا﴿
١٠٩﴾

“Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)”. (QS Al-Kahfi: 109)

Cinta ilahiyah  adalah apa yang ditunjukkan Bilal bin Rabah, ketika ia berkata, “Ahad… ahad… ahad” di tengah himpitan batu panas yang menindihnya. Adalah Umair bin Himam yang berlari menyambut seruan perang padahal sedang asyik menikmati makanan, seraya berkata, “aku tak mau biji kurma ini menghalangiku masuk syurga.” Adalah Handzalah bin Abu Amir, yang melepaskan pelukan istrinya di malam pengantin baru, seraya menyambut seruan jihad pada perang Uhud dan menemui syahidnya. Ia dimandikan para malaikat hingga membuat sahabat nabi yang lain bertanya-tanya. “Mengapa dimandikan malaikat?” “Cari tahulah pada keluarganya” kata Rasulallah SAW yang mulia. Ya, ia tak sempat mandi jinabah saat menyambut panggilan Tuhannya. Itulah sekelumit contoh cinta Ilahiyah. Cinta yang meminta pengorbanan harta dan jiwa, Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS As-Shaff 10-11).

Disebabkan oleh cinta, Ibn Abbas kehilangan kedua matanya. Tokoh yang dikenal sebagai “al-Quran berjalan”, lautan ilmu dan tempat bertanya para sahabat Nabi SAW itu menangis setiap malam dalam tahajudnya karena cintanya kepada Allah sampai matanya buta. Seseorang datang dan berusaha memberikan simpati padanya, Ibn Abbas justru berkata:
إن يأخذ الله من عيني نورهما ***  ففي فؤدي وقلبي منهما نور

قلبي ذكي وعقلي غير ذي عوح *** وفي فمي صارم كالسبف مشهور
Allah mengambil dari kedua mataku cahayanya
Maka, pada hati dan pikiranku kedua cahaya itu tetap bersinar
(aku berharap) hatiku terus tajam, akalku terus terasah
Dan pada mulutku (kemampuan untuk memberi nasihat) seperti pedang yang terhunus tajam lagi terkenal.
Untuk itulah, seorang penyair Arab menulis:
الحب للرحمن جل جـلاله *** وهو مستحق الحب والأشواق
فأصرفه للملك الجليل ولذبه  *** من كل ما تخشاه من إرهاق
Cinta sesungguhnya adalah hanya kepada yang Maha Mencinta
Dialah yang paling berhak untuk dicinta dan dirindu
Maka, palingkanlah cintamu dari raja yang berkuasa
Dan dari setiap yang engkau takut dari makhluk-Nya.

Selain cinta ilahiyah, manusia yang hidup di alam duniawi yang profan ini seharusnya merasakan juga cinta duniawi. Ia adalah fitrah pada manusia. Yaitu mencinta harta, anak dan istri (atau suami) sebagai belahan jiwa. Tentu semua itu tak boleh melebihi kecintaan seseorang pada Allah SWT. Untuk itulah, Allah SWT mengingatkan,
قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ﴿٢٤﴾
Katakanlah: “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA”. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS. at-Taubah ayat 24).

Disebabkan oleh cinta, Nabi Nuh (alaihi salam) memanggil anaknya untuk bergabung dalam bahtera yang segera berangkat, saat air makin meninggi, gemuruh ombak dan gelombang lautan terus berkejaran mengisi seantero negeri yang akan segera tenggelam. Tapi, segera Allah SWT ingatkan,
قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ ۖ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ ۖ فَلَا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۖ إِنِّي أَعِظُكَ أَن تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ﴿٤٦﴾
Allah berfirman: “Hai Nuh, Sesungguhnya Dia bukanlah Termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), Sesungguhnya (perbuatan)nya[722] perbuatan yang tidak baik. sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikat)nya. Sesungguhnya aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan Termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.”  (QS. Hud 46)

Disebabkan oleh cinta manusia meminum arak rindu yang memabukkan itu. Mutanabbi, penyair Arab menulis, Aku mencintaimu, jangan kau tanyakan mengapa, sebab aku mencintaimu adalah pilihan dan jalan hidupku.

Penyair Arab lain menulis:
ولا تسألني عن وطني فقد اقمته بين يديك
ولا تسألنى عن اسمي فقد نسيته عندما احببتك
Jangan kau tanyakan dari mana asalku, sebab telah ku bentangkan di hadapanmu.
Jangan pula kau tanyakan siapa namaku, sebab aku telah lupa sejak mencintaimu.

Sebagai agama fitrah, Islam memberi ruang pada cinta duniawi ini. Ketika sepasang anak manusia tertarik satu dengan lainnya, Islam menganjurkan untuk segera mendokumentasikannya dalam mahligai rumah tangga. Rasulallah SAW berpesan, “Wahai anak muda, barangsiapa di antara kalian sudah mampu (menikah), hendaklah menikah.” Ikat cintamu. Abadikan pelana hatimu. Simpan permata jiwamu. Proklamasikan belahan kasihmu di altar sajadah ijab-kabul yang disaksikan para malaikat, sambil bersimpuh di hadapan orang tua dan kerabat.

Cintailah pasanganmu seperlunya. Sebab, telaga cinta manusia pasti akan kering suatu saat kelak. Ia tak mungkin abadi, bahkan jika kau dokumentasikan cintamu semewah Taj Mahal sekalipun. Pernikahan telah menyingkap tabir rahasia pasanganmu. Bagi suami, ternyata istri yang engkau nikahi tidaklah semulia Khadijah yang rela berkorban seluruh hartanya untuk dakwah suaminya. Tidak pula setaqwa Aisyah yang menutup malam dengan tahajud dan siang dengan infak dan sedekah. Tidak pula setabah Fatimah ketika Ali bin Abi Thalib, suaminya, membagikan persediaan makanannya untuk fakir, miskin, janda dan tawanan perang hingga Allah turunkan ayat sebagai pengabadian cinta mereka, “Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih” (QS Al-Insan 9)

Disebabkan oleh cinta, sadarlah engkau bahwa istrimu hanyalah wanita pada umumnya. Ia yang punya cita-cita dunia, ingin rumah, kendaraan, perhiasan dan berbagai gadget terbaru untuknya. Pernikahan telah mengajarkanmu kewajiban bersama. Istri menjadi tanah, engkau langit yang menaunginya. Istri ladang tanaman, engkau pemagarnya. Kala ia tengah teracuni, engkau harus menjadi penawar bisanya.

Maka, ketika cinta telah terpatri di buku nikah, Rasulallah SAW menganjurkan umatnya untuk mendoakan sepasang kekasih itu, “Semoga Allah memberikan keberkahan kepadamu, keberkahan ke atasmu dan mempersatukan keberduaanmu dalam kebaikan. Satu dalam dua  adalah ibadah; bercumbu ibadah, mencari rezeki ibadah,  tersenyum ibadah, bahkan saling meremas jemari pun ibadah. “Meremas jari-jemari istri menggugurkan dosa-dosa kecilmu!”

Malam pengantin baru adalah malam yang ditunggu-tunggu. Sebagian menantikannya dengan dada berdebar, sebagian lain dengan mabuk kepayang. Jantung berdetak tak karuan, kaki berdiri lebih sering kesemutan, duduk tak diam, berjalan tak jelas pula arahnya. Rasulallah SAW berpesan, “Takutlah kalian kepada Allah dalam hal wanita. Kalian mengambil mereka dengan amanah dari Allah, dan menjadi halal dengannya karena nama Allah.”

Disebabkan oleh cinta, Rasulallah SAW menganjurkan kepada pengantin baru hal-hal berikut ini:
  1. Shalatlah dua rakaat.
  2. Ambil gelas, tuangkan susu dan madu, teguk dan rengkuh isinya bersama.
  3. Letakkan niat dengan benar sebab setiap amal seorang muslim dihitung berdasarkan niatnya. Dalam satu hadits diriwayatkan dari Abu Dzar bahwasanya orang-rang bertanya kepada Rasulullah saw.: “Wahai Rasulullah orang-orang kaya telah memborong pahala, di mana mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka menyedekahkan kelebihan harta mereka”. Rasulullah saw. bersabda: “Bukankah Allah telah menjadikan sesuatu yang dapat kalian sedekahkan? Sesungguhnya setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, menyuruh untuk berbuat baik adalah sedekah, mencegah dari perbuatan mungkar adalah sedekah, bahkan di dalam salah seorang di antara kamu sekalian itu bersetubuh dengan istrinya juga termasuk sedekah”.
Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah seseorang itu melampiaskan nafsunya juga mendatangkan pahala?” Beliau menjawab: “Bagaimana pendapatmu seandainya ia melampiaskan nafsunya pada yang haram, bukankah yang demikian itu mendatangkan dosa? Demikian sebaliknya bila ia melampiaskan nafsunya pada yang halal maka ia mendapatkan pahala”. (Riwayat Muslim).
  1. Meletakkan tangan di atas kening istri seraya berdoa, “Allahumma Innii Asaluka Min Khoiriha wa Khoiri Ma Jabaltaha Alaihi. Wa Audzu bika Min Syarri wa Syarri Ma Jabaltaha Alaih”  Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan dari apa yang Engkau berikan kepadanya serta Aku berlindung kepada-Mu dari pada keburukannya dan keburukan yang Engkau berikan kepadanya”.
  2. Berdoa agar terhindar dari syaitan. Tibalah saat yang dinanti itu, ketika madu berkasih, ombak jiwa berdebar, angin bertiup melewati daun jendela, perahu pelaminan terguncang dan kasih tertunaikan. Rasulallah SAW ingatkan umatnya untuk sekali lagi berdoa. “Sekiranya ada di antara kalian yang hendak menggauli istrinya, hendaklah ia berdoa, (artinya), Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah jauhkanlah syaitan, dan jauhkan syaitan dari apa yang Engkau rezekikan pada kami. Sebab sekiranya dari hubungan itu diberikan anak, niscaya tidak akan dicelakakan syaitan selama-lamanya.”
Demikian, tulisan singkat tentang cinta ini. Semoga bermanfaat.
Wallahu a’lam bis showab.

Read more »

Kita Bukan Sekedar Teman… Kita Adalah Saudara…

Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rabb Pemilik semesta, Penggenggam jiwa. Shalawat serta salam tercurahkan kepada Pemimpin terbaik serta sahabat sekaligus saudara terbaik, dialah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wasalam.
Sebelum memulai, saya ingin menceritakan sedikit tentang pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan: Ketika di perjalanan pulang selepas bekerja seharian, tepatnya di perempatan lampu lalulintas kelapa gading, saya yang sedang menunggu lampu lalulintas berubah dari merah ke hijau, dikagetkan oleh seorang pengendara motor lain yang tiba-tiba menegur, a ha ternyata dia adalah teman yang saya kenal 5 tahun yang lalu, saat kami bersama-sama mencoba merintis dakwah di SMP tempat kami menimba ilmu dulu, namun karena kesibukan masing-masing akhirnya hampir 2 tahun kami tidak berjumpa. Sambil menunggu lampu lalulintas mengizinkan kami melanjutkan perjalanan, kami pun sedikit berbincang, sampai satu ketika dia mengeluarkan kalimat yang sangat menyentuh jiwa saya, ketika saya bertanya mengapa dia bisa yakin bahwa orang yang dia tegur memang adalah saya, dia menjawab“ teman ga akan ane lupa”. Subhanallah, Maha Suci Engkau yang telah menyatukan hati kami dalam cinta karenaMu…
Kalimat itu, walaupun singkat, memiliki makna yang mendalam, betapa hubungan silaturahim, yang diawali karena niat mengharapkan keridhaan dari Sang Pemilik Hati, insya Allah akan terjaga sampai kapan pun.  Ya Allah saksikanlah, dia bukan sekedar teman, dia adalah saudaraku…satukanlah kami di syurgaMu…
Ayyuhal ikhwah, di dalam perjalanan kehidupan kita, Allah memperkenankan kita untuk berjumpa dengan banyak orang, dari sekian banyak orang tersebut, ada yang sekedar berlalu, ada yang mungkin menjadi musuh, ada yang menjadi teman, sahabat, bahkan saudara.
Teringat ketika Rasulullah hijrah dari Mekah ke Madinah, hal yang Beliau lakukan pertama kali adalah mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan kaum Anshar. Ya, Rasulullah bukan sekedar mempertemankan mereka, tapi mempersaudarakan mereka dengan ikatan persaudaraan yang lebih kekal ketimbang persaudaraan karena hubungan darah, itulah persaudaraan yang dilandasi ukhuwah Islamiyah, persaudaraan yang akan menyatukan mereka hingga ke syurga….
Oleh karena itu, ketika Allah mengizinkan kita berada dijalan dakwah, maka bersyukurlah akan hal itu, salah satunya adalah dengan menjadikan teman kita, bukan sekedar teman, tapi menjadikannya saudara kita, yang dengannya kita akan saling mengenal, memahami, tolong menolong, bahkan saling memikul beban.
Jangan sampai kita sekedar menjadi teman hanya saat senang, lalu  meninggalkannya ketika kesulitan menghampirinya. Menjadi teman hanya karena ada keuntungan yang bisa didapatkan dari teman kita, hanya mau menasihati tanpa mau dinasihati, sehingga bukan keridhaan yang didapat namun kemurkaan Allah yang akan membuat kita menjadi orang yang merugi, bukan hanya di dunia juga di akhirat kelak.
Jadilah kita saudara yang saling menguntungkan sebagaimana disebutkan dalam surat Al Ashr: ”… yang saling nasihat menasihati dalam kebenaran, dan yang saling nasihat menasihati dalam kesabaran. Mampu memenuhi hak saudara kita untuk mengingatkannya ketika melakukan kesalahan, serta menerima dengan penuh kelapangan ketika kita dinasihati karena kesalahan kita, dengan semangat memperbaiki diri menuju kemenangan hakiki meraih keridhaan Ilahi Rabbi.
Beruntunglah dan bersyukurlah, jika kita diizinkan oleh Allah diperjumpakan dengan orang lain yang akhirnya menjadi teman, sahabat, bahkan saudara dijalan dakwah. Dijalan yang akan membuat kita meraih keridhaannya.
Yaa Allah saksikanlah, bahwa teman-temanku dijalan dakwah, mereka adalah saudaraku…
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa hati kami ini telah berkumpul karena cinta kepada-Mu, bertemu karena taat kepada-Mu, bersatu karena dakwah-Mu, dan saling mengikat janji untuk membela syariat-Mu. Karena itu, kuatkanlah ikatan kesatuannya, kekalkanlah kecintaannya, tunjukilah jalannya, penuhilah ia dengan cahaya-Mu yang tidak pernah redup. Lapangkanlah dadanya dengan pancaran iman kepada-Mu dan tawakal yang baik kepada-Mu. Hidupkanlah ia dengan mengenal-Mu dan matikanlah dengan meraih syahadah di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pelindung dan penolong. Ya Allah, kabulkanlah permohonan kami ini.”
Wallahu a’lam bishshawwab…

Read more »

Lautan Makna di Balik Tahmid

الحمد لله ucapan yang sangat ringan bagi lidah, tetapi kedalaman maknanya melebihi kedalaman palung mariana (Mariana Trench) di samudera pasifik. [[1]]

Surah pertama dari Al-Qur’an diawali dengan الحمد لله. Ini memberikan keurgensian tersendiri terhadap Al-Qur’an dan kalimat tersebut. Artinya pesan kehidupan, tuntunan ibadah dan akhlaq yang ada di dalam Al-Qur’an merupakan nilai yang tidak dapat dihargai dengan segala bentuk penghargaan. Olehnya itu, hamdalah menyiratkan bahwa manusia tidak punya kemampuan sedikit pun untuk memberikan pujian terhadap segala nikmat Allah SWT, karena nikmat itu sendiri di luar dari perhitungan matematis.

Hakikat ini telah ditegaskan Syekh Abu al-Abbas al-Mursi dalam pernyataannya berikut ini:
“Firman-Nya:
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴿٢﴾
(QS. al-Fatihah [1]: 2)
“Saya berkata: “Allah SWT telah mengetahui bahwa hamba-Nya tidak dapat memuji-Nya sebagaimana mestinya, sehingga Dia memuji sendiri diri-Nya. Di waktu Dia telah menciptakan segala entitas kehidupan, maka hal ini menghendaki mereka untuk memuji-Nya dengan pujian-Nya, sehingga Dia berfirman: “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” Artinya, segala puji untuk-Nya semata yang memuji diri-Nya dengan pujian tersebut yang dikhususkan untuk-Nya, bukan untuk selain dari Dia. Olehnya itu, Alif dan Lam pada (الْحَمْد) menyiratkan bahwa para pemerhati Al-Qur’an telah mengetahui dengan begitu dekatnya makna pujian ini yang hanya patut dilantunkan untuk Zat yang Maha Agung dan Suci.”[[2]]

Jika Anda bertanya: “kenapa الحمد لله dianjurkan untuk diucapkan setelah menegakkan shalat lima waktu dan di waktu-waktu lain, bukankah dengan ibadah fisik tersebut merupakan bentuk pujian tersendiri terhadap-Nya?”

Kepada Anda saya memberikan jawaban seperti ini:
Kehadiran kita di muka bumi ini yang lahir dari ketidakadaan, indera perasa di lidah yang mampu membedakan seribu satu jenis tingkat rasa yang bahasa manusia sendiri lemah untuk memberikan penamaan tersendiri dari setiap rasa tersebut, pengetahuan manusia terhadap kosmos dan hakikat penciptaan seluruh entitas kehidupan, tarikan dan hembusan nafas tiap detik yang dinikmati gratis, fasilitas-fasilitas kehidupan, seperti: air, api, tanah, dan udara, memberikan layanan jasa gratis tanpa menampakkan keengganan dan pembangkangan terhadap segala bentuk keinginan makhluk, siklus darah pada denyut jantung yang memperdengarkan detakan halus secara sistematis dan spontanitas yang melebihi keteraturan alur simfoni musik yang dipertunjukkan oleh orkes dengan komposisi musik pada setiap alat, sehelai rambut yang rontok dan terganti dengan rambut lain yang lebih kuat tanpa campur tangan bahan-bahan kimia, kulit mati terganti dengan kulit yang lebih segar dan meremaja tanpa menjalani operasi kulit, kulit wajah yang senantiasa menjaga kebugarannya di pagi hari tanpa bantuan operasi kulit, panca indera yang menjalankan fungsi mereka tanpa menunggu perintah dari pihak manapun, tubuh yang punya kepekaan tersendiri di luar dari jangkauan pengetahuan manusia, dan masih banyak lagi yang menanti penuturan seperti ini. Semua itu menghendaki manusia bangkit dari alam kelalaian dan kelupaan untuk memuji Allah SWT dengan segala potensi diri yang ada dalam diri mereka.

Mari kita melihat secara saksama kedalaman makna hamdalah di dalam Al-Qur’an:
Hamdalah yang datang di dalam Al-Qur’an baik dalam bentuk pemberitaan ataupun perintah terpaparkan dalam bentuk kata benda verbal (masdar), yaitu: الْحَمْد, seperti pada ayat berikut ini:
دَعْوَاهُمْ فِيهَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلَامٌ ۚ وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴿١٠﴾
(QS. Yunus [10]: 10)
وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُن لَّهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُن لَّهُ وَلِيٌّ مِّنَ الذُّلِّ ۖ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا﴿١١١﴾
(QS. Al-Isra’ [17]: 111)

Hamdalah tidak pernah diberitakan dalam bentuk kata kerja apa pun, baik itu lampau, sekarang, dan yang akan datang. Ini menyiratkan bahwa pujian tersebut wajib dilantunkan tiap saat tanpa dibatasi oleh ruang waktu dan tempat.

Olehnya itu, nikmat keislaman yang memberikan tuntunan kehidupan yang baik dan benar, ketenteraman dan kedamaian jiwa, dan keselamatan fisik, harta, harkat dan martabat, merupakan puncak kenikmatan yang senantiasa menghendaki manusia melantunkan pujian di segala kesempatan.

Penerapan hamdalah tidak sebatas pengucapan saja, tetapi ia dapat diaplikasikan dalam praktek kehidupan yang lebih luas lagi. Ini dapat dilihat dari paparan berikut ini:
الحمد لله
  bukan hanya diucapkan setelah makan dan minum, atau setelah merasakan satu bentuk kenikmatan, tetapi ia merupakan simbol kesempurnaan dari kemusliman seseorang yang senantiasa merasakan nikmat Allah setiap waktu, karena dengan terciptanya kesadaran diri terhadap nikmat tersebut meski tidak nampak di kasat mata merupakan kenikmatan tersendiri, yang dengan sendirinya dapat menjadi motivasi terhadap lahirnya manusia-manusia yang senantiasa merasakan keberadaan dan kedekatan Sang Maha Pencipta di sisinya. Dan pastinya, kedekatan tersebut menjadi proteksi tersendiri terhadap manusia untuk tidak melakukan segala bentuk kemaksiatan yang meruntuhkan segala bentuk pujian yang telah dilantunkan kepada Allah SWT dari segala bentuk fasilitas kenikmatan yang telah diberi.

Bediuzzaman Said Nursi dengan begitu apik dan indah telah mengilustrasikan tingkatan-tingkatan kenikmatan sebagaimana berikut:

Pertama dan kedua: الحمد لله atas nikmat keimanan yang telah mengangkat dari alam kemanusiaan enam bentuk kegelapan dan memberikan sinar kehidupan:
Kegelapan masa lalu pudar dan diterangi keimanan yang mengilhami lahirnya dunia Islam yang lebih terang dan menjanjikan.

Kegelapan masa sekarang pudar dan diterangi keimanan yang mengilhamkan keberadaan surga yang menjanjikan segala bentuk kenikmatan abadi.

Kegelapan yang datang dari kelemahan manusia untuk mengetahui hakikat penciptaan langit dan isinya yang telah tercemar oleh wacana distorsif para filosof. Kegelapan ini pudar dan tersinari oleh keimanan yang mengilhami manusia bahwa langit  tercipta dan terhias dengan bintang-bintang oleh perintah dan kehendak Allah SWT demi memberikan aneka manfaat terhadap manusia yang telah diungkap oleh ilmuwan astronomi.
Kegelapan yang lahir akibat kebodohan manusia terhadap hakikat bumi. Dengan nikmat keimanan manusia mengetahui bahwa bumi ini tercipta untuk dijadikan tempat wisata bagi mereka yang ingin mengenal lebih dekat kerajaan Allah yang Maha Pengasih yang menyuguhkan aneka ragam kenikmatan dan kelezatan makanan demi kelangsungan hidup mereka dalam beribadah di jalan Allah.

Kegelapan yang timbul dari kebodohan manusia tentang hakikat kematian. Dengan nikmat keimanan nampak dengan begitu jelasnya bahwa kematian itu tidak lain kecuali perpindahan tempat semata dari alam fana ke alam baka, dari tempat pengabdian ke tempat pengambilan upah, dari tempat yang penuh kebisingan ke tempat peristirahatan yang penuh dengan rahmat. Olehnya itu, kematian bukanlah musibah, tapi sarana memperoleh kebahagiaan dari upah pengabdian di dunia.

Kegelapan yang menampakkan diri akibat kebodohan manusia terhadap hakikat penciptaan mereka. Setiap dari mereka heran, ragu dan meminta penafsiran dari pertanyaan ini: “dari mana kami? dan mau ke mana?” Dengan nikmat keimanan manusia mengetahui bahwa dasar dan tujuan penciptaan adalah sejauh mana kesiapan mereka memakmurkan bumi, tempat yang penuh dengan cobaan.

Ketiga: الحمد لله atas nikmat keimanan yang menjadi tempat menyandarkan segala sesuatu, dan meminta perlindungan dan pertolongan.

Dengan kelemahan dan banyaknya musuh manusia, ia sangat membutuhkan tempat berlindung dari segala ancaman musuh, dan dengan kepapaan dan banyaknya kebutuhan dan harapan manusia, ia sangat memerlukan tempat menyandarkan segala kebutuhan dan keinginannya.

Keimanan terhadap Allah memberikan tempat perlindungan terhadap fitrah manusia, dan keimanan terhadap hari akhirat menyuguhkan tempat penyandaran terhadap keinginan-keinginan mereka. Barangsiapa yang tidak mengetahui keurgensian dari kedua unsur ini maka hati dan ruhnya tidak merasakan ketenangan, dan senantiasa tersiksa oleh perasaan sendiri. Dan barangsiapa yang meminta perlindungan dengan keimanan berdasarkan asas pertama, dan menyandarkan segala kebutuhan dengan keimanan berdasarkan asas kedua, maka ia akan merasakan dari kedalaman jiwanya kelezatan maknawi, ketenangan yang menghibur, dan pegangan bagi perasaannya.

Keempat: الحمد لله atas nikmat keimanan yang mengangkat kepedihan dan ketidakrelaan dari hilangnya segala bentuk kenikmatan halal dengan memperlihatkan kenikmatan serupa yang senantiasa silih berganti. Tentunya, kondisi seperti ini dengan sendirinya akan melanggengkan segala kenikmatan dengan memperlihatkan muara dari setiap kenikmatan yang pergi dan berlalu.

Sebagaimana buah yang tidak diketahui pohonnya, maka kenikmatan hanya terbatas pada buah tersebut, ia tiada setelah dimakan, sehingga timbul rasa iba dan sedih atas kepergiannya. Tetapi, jika pohonnya diketahui dan disaksikan, maka kepedihan atas kepergiannya hilang dengan sendirinya, karena pohonnya senantiasa kekal yang senantiasa memberikan buah yang serupa. Demikianlah, sesungguhnya kondisi ruh manusia yang sangat kritis lahir dari kepedihan-kepedihan terhadap segala bentuk perpisahan. Maka dengan cahaya keimanan, kepedihan perpisahan itu hilang dengan sendirinya, bahkan akan menjadi kenikmatan tersendiri, karena yang kenikmatan yang pergi terganti oleh kenikmatan serupa yang menawarkan kelezatan lain. Bukankah setiap yang baru adalah enak?

Kelima: الحمد لله atas cahaya keimanan yang memperlihatkan bahwa semua entitas kehidupan bukanlah musuh, asing, dan benda mati yang menakutkan, melainkan mereka adalah kekasih, saudara, cinta rukun, dan hamba yang senantiasa memuji dan berdzikir.

Artinya kelalaian telah memperlihatkan manusia semua entitas kehidupan sebagai makhluk yang berbahaya dan asing, seperti musuh yang menakutkan, dan memperlihatkan putusnya tali persaudaraan antara mereka di setiap waktu.  Kesesatan semacam ini menjadikan persaudaraan seseorang terasa singkat, seperti semenit saja di dalam seribu tahun yang penuh dengan keterasingan. Dan persaudaraan orang-orang beriman berlangsung dari masa lalu hingga masa mendatang. Di lain sisi, kesesatan memperlihatkan semua entitas kehidupan sebagai benda mati yang menakutkan. Sementara itu, keimanan melihat setiap entitas kehidupan sebagai benda hidup yang cinta damai, rukun dan nyaman. Olehnya itu, mereka menurut kacamata keimanan punya ruh dan kehidupan sendiri, dan menolak anggapan sesat bahwa mereka adalah makhluk asing yang menakutkan.

Di samping itu, sudut pandang yang sesat melihat makhluk hidup yang lemah memperoleh segala tuntutan hidup, yang tidak punya pelindung dan kerabat, dan terhempas jauh dari segala bentuk kasih sayang dan perlindungan, seperti anak-anak yatim yang meratapi kelemahan, kesedihan, dan keputusasaan mereka. Sementara itu, sudut pandang keimanan berkata: “Sesungguhnya makhluk hidup itu bukanlah anak-anak yatim yang menangis, tetapi mereka adalah hamba yang dibebani hukum taklifi, bertugas memakmurkan bumi, dan senantiasa memuji dan berdzikir.”

Keenam: الحمد لله atas nikmat keimanan yang telah memperlihatkan dunia-akhirat seperti dua perjamuan besar yang dipenuhi aneka ragam nikmat. Orang-orang beriman dengan leluasanya menikmati apa yang disuguhkan di perjamuan tersebut dengan panca indera, baik yang lahiriah atau batiniah, dan dengan cita rasa maknawi atau rohaniah mereka.

Sudut pandang yang sesat menjadikan ruang lingkup pemanfaatan nikmat tersebut sangat sempit dan terbatas pada kenikmatan-kenikmatan materi yang senantiasa sirna mengikuti ketidakkekalan materi itu sendiri. Akan tetapi, dengan cahaya keimanan ruang lingkup pemanfaatan nikmat sangat luas, seluas langit dan bumi. Orang beriman melihat surya seperti bola lampu di rumah, teman setia di setiap kegiatan harian, dan di perjalanan. di sana tersimpang seribu satu kenikmatan bagi mereka yang melihat surya dengan kacamata iman yang penggunaannya lebih luas dari langit itu sendiri.

Ketujuh: الحمد لله atas adanya Allah. Wujud Allah adalah nikmat yang paling besar bagi setiap entitas kehidupan. Nikmat ini mencakup nikmat-nikmat lain yang mustahil diilustrasikan dengan tingkat bahasa manusia yang terbatas.
الحمد لله
  atas kemurahan-Nya yang mencakup semua makhluk hidup. Dengan fitrah manusia terjalin di antara mereka dengan makhluk lain sebuah komunikasi aktif. Ia bahagia setiap kali melihat wajah makhluk lain melukiskan goresan-goresan kebahagiaan dari nikmat yang sedang dicicipinya. Nikmat terhadap mereka juga nikmat terhadap manusia dengan sendirinya.
الحمد لله
  atas kasih sayang-Nya yang terlihat dengan begitu jelasnya dari kasih sayang orang tua terhadap anaknya. Dengan fitrah yang sehat batin menjerit kesakitan dari tangis bayi yang sedang lapar dalam kepapaan, dan dengannya pula ia berteriak kegirangan dari bayi yang riang bermain setelah kenyang.
Olehnya itu, kiaskanlah nikmat-nikmat yang tercakup dalam setiap nama-nama-Nya (asmaul husna) pada ar-Rahman, dan ar-Rahim.

Kedelapan: الحمد لله yang senantiasa dipuji oleh setiap entitas kehidupan dengan menyebutkan sifat kesempurnaan dan keindahan-Nya. Setiap dari mereka bertahmid memuja kesempurnaan dan kemuliaan penciptaan-Nya yang melukiskan kemampuan, pengetahuan, keagungan, dan kebijakan-Nya. Dengan cahaya keimanan mereka dapat menangkap sinyal-sinyal ketuhanan dan keesaan yang dipancarkan setiap nama-nama-Nya (asmaul husna).

Kesembilan: Segala puji dari Allah, dengan Allah, atas Allah, untuk Allah dari setiap atom-atom yang ada pada setiap makhluk sejak awal penciptaan dunia hingga hari kiamat.
الحمد لله atas kalimat tahmid ini sendiri yang membuka kesempatan kepada siapa saja yang ingin melantunkan pujian terhadap-Nya.
الحمد لله atas nikmat Al-Qur’an, dan iman terhadap umat Islam.[[3]]
Di penghujung tulisan ini, penulis mengajak para pemerhati tema-tema keislaman untuk memenuhi setiap ruang waktu dan kesempatan dengan tahmid yang disuarakan ayat-ayat ini:
وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ تَجْرِي مِن تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ ۖ وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ ۖ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ ۖ وَنُودُوا أَن تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ﴿٤٣﴾


(QS. al-A’raf [7]: 43)

Catatan Kaki:
 [[1]] Palung Mariana atau Palung Marianas adalah palung yang paling dalam yang diketahui, dan lokasi terdalamnya berada di kerak Bumi. Dia terletak di dasar barat laut Samudra Pasifik, sebelah timur Kepualauan Mariana dekat Jepang. Dasar dari palung ini jauh di bawah permukaan laut, lebih jauh dari ketinggian Gunung Everest di atas permukaan laut. Palung ini memiliki kedalaman maksimum 10.911 meter (35.798 kaki) di bawah permukaan laut. lihat: http://fizzyenergy.com/the-worlds-greatest-oceanic-depths/
 [[2]] Syekh Ibn Atâillah as-Sakandarî, Lâtaif al-Minan, hlm. 100
 [[3]] Bediuzzaman Said Nursi, Risalah as-Syukr, Tsamratul Hayâh wa Gâyatul Kainât, diterjemahkan oleh Ihsan Qasim as-Shalihih, Sozler, Kairo, cet. 5, 2008 m, hlm. 78-90

Read more »

Muhasabah Syukur

Bismillahirrahmanirrahim… “Fabiayyi alaa’irabbikuma Tukadzibaan…???”

Saudara ku…. ingatkah kita akan segala nikmat yang telah diberi-Nya…? Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa bersyukur kepada Allah. Kita memang bukanlah para nabi yang tidak pernah luput dari dosa, bukanlah para sahabat yang senantiasa setia kepada Allah dan Rasul-Nya atau shohabiyah yang zuhud terhadap dunia… Tapi semoga rasa syukur yang telah kita ucapkan dengan tulus masih mampu menggetarkan Arsy Allah…  “Nikmat Tuhan mu yang mana yang kau dustakan?”

Bila kita hitung mungkin milyaran bahkan lebih nikmat Allah yang telah kita terima sampai saat ini. Salah satunya adalah nikmat Iman dan Islam. Sebuah nikmat yang luar biasa jika sampai hari ini kita masih bisa merasakannya melalui tilawah harian kita, sujud-sujud panjang di sepertiga malam, ibadah-ibadah sunnah yang kita jalani, kesabaran dalam menerima setiap ujian-Nya atau bahkan melalui sedekah yang kita keluarkan dengan keikhlasan…..

Apakah kita termasuk orang yang berpikir bahwa Allah tidak adil terhadap diri kita? Terhadap segala nikmat yang telah diberikan-Nya untuk kita karena orang lain mampu mendapatkannya lebih, terhadap cobaan yang ditimpakanNya pada kita padahal itu sebenarnya adalah bentuk rasa cinta Allah pada kita karena kita dianggap pantas untuk mendapatkan tingkatan Iman yang lebih tinggi…

Astagfirullahaladzim…………
Saudara ku apa pantas bila kita bersanding dengan Rasulullah di surga atau setidaknya memiliki derajat yang sama dengan para sahabat dan shahabiyah rasul bila bersyukur saja tidak mampu….? Renungkanlah…. Jika saja kita tahu bagaimana perjuangan Sang Pembawa Risalah, kehidupan para khalifah atau bahkan beratnya perjuangan saudara-saudara muslim di Palestina saat ini yang mempertahankan Al-Aqsha maka tidak henti-hentinya hati ini tergetar untuk mengucapkan tahmid pada Allah….

Bersyukurlah bila nikmat telah diterima, bersabarlah bila keputusan sudah ditetapkan. Malaikat tidak akan menangis jika kau menangis tapi malaikat akan menyebut nama mu dan memohon pada Allah untuk segera menambah nikmat-Nya bila kita senantiasa bersyukur akan segala ketetapan-Nya…

Saudara ku mata yang saat ini kita gunakan untuk membaca, kaki yang saat ini masih bisa digunakan untuk menopang tubuh, telinga yang masih bisa kita gunakan untuk mendengar hiruk-pikuk suara manusia, tangan yang masih bisa kau ulurkan untuk memberi dan lisan yang senantiasa kau gunakan untuk mengatakan hal-hal baik….. itu adalah sedikit nikmat Allah yang bisa kita rasakan.

Saudara ku… jangan sampai kau buta dengan kehidupan duniawi yang bisa melupakan akhirat, jangan kau terlena dengan kesenangan di dunia yang bisa melupakan mu dari siksa kubur.

Ingatlah saudara ku… waktu kita tidak banyak untuk mengumpulkan pahala, untuk mendapatkan bekal akhirat…. Bersyukurlah selama usia masih dalam genggamanmu, selama nikmat sehat masih dapat kau rasakan, selama kesempitan belum kau hadapi. Kemudian… berusahalah menjadi yang terbaik di hadapan-Nya…

Semoga Allah senantiasa memudahkan langkah-langkah kita menuju kebaikan… Aamiin

Read more »

Gema Salimah, Upaya Menjadikan Muslimah Gemar Membaca Al Qur’an

Gerakan Membaca Al Qur’an Bersama Salimah adalah salah satu program unggulan Salimah untuk mendekatkan muslimah pada kitab sucinya. Untuk memotivasi umat Islam khususnya muslimah, PW Salimah Banten menyelenggarakan Lomba Hafalan Surat Yassin dan Shalawatan. Antusias peserta sangat luar biasa, terbukti dari jumlah peserta yang lebih dari 2750 orang yang datang 8 PD Salimah Banten.

Acara ini berlangsung di dua tempat berbeda, yaitu di Pendopo Masjid Agung Serang yang dilaksanakan pada Sabtu (1/10) dan di Islamic Center Cikupa di Komplek Perumahan Citra Rayapada pada Ahad (2/10). Acara ini sendiri berlangsung sangat meriah, selain lomba ada bazar, Pentas seni murid TK dan door prize Umroh untuk 2 peserta. Banyak peserta yang hadir tidak di lewatkan oleh panitia untuk membuka posko pendaftaran anggota Salimah.

Pada kesempatan tersebut Qatar Charity menyerahkan wakaf Al Qur’an sebanyak 2800 kepada PW Banten untuk selanjutnya di bagikan kepada majelis-majelis taklim di bawah PD-PD provinsi Banten.

“Kami awalnya hanya berharap lomba ini diikuti oleh 1000 orang. Tapi yang daftar lebih dari itu, tentu itu membuat kami selaku pengurus dan semua panitia sangat bersemangat. Kami menggerakkan saudari-saudari kami di tingkat PD sampai ke PC untuk menjadi panitia dalam acara ini,” ungkap ketua PW Banten Kartiningsih Suratih. Ia mengungkapkan, sebanyak 100 orang panitia dan 20 dewan juri disiapkan untuk menyukseskan acara tersebut. Ia menyampaikan, acara ini merupakan bagian dari komitmen Salimah sebagai sebuah organisasi massa yang berorientasi pada pemberdayaan dan pemuliaan wanita, menyadari sepenuhnya akan semangat gerakan sosial, kemasyarakatan dan dakwah. “Kami ingin mewujudkan pembinaan muslimah berkualitas menuju bangsa bermartabat dan berkesejahteraan dalam naungan keridhoan Allah SWT,” ungkapnya.

Hadiah yang menarik diberikan kepada pemenang lomba berupa : Pemenang I mendapat hadiah Rp 7.500.000 , ke II Rp 5.000.000, ke III Rp 2.500.000, Harapan I Rp 1.500.000, Harapan II Rp 1.000.000 , serta 5 buah hadiah hiburan @ Rp 500.000. Semoga hadiahnya bermanfaat dan tambah semangat mengaji Qur’an dan Shalawatannya. (salimah)

Read more »

Ibu, Oase Jiwa Tanpa Batas

Bagi saya, menjadi seorang ibu adalah sebuah anugerah terindah. Saya bisa menggambar apa saja pada sosok-sosok mungil yang telah Allah SWT amanahkan pada saya. Menggambar pada sosok-sosok mungil tersebut hingga pada saatnya mereka memiliki hidup dan dunianya sendiri. Serta menggambar yang tidak digambarkan oleh ibu saya pada diri saya ataupun menghilangkannya.

Ibu adalah doa. Setiap kata yang terlintas ataupun terlisan adalah doanya. Bahagianya adalah bahagiaNya. Marahnya adalah marahNya. Sukanya adalah sukaNya. Sedihnya adalah sedihNya.

Ibu adalah memberi. Memberi cinta. Memberi kasih. Memberi sayang. Memberi ilmu. Memberi pengetahuan. Memberi segala yang ia punya, tanpa pernah mengharap segala balas juga kembali sekecil apapun.
Ibu adalah sandaran. Tempat mengeluarkan rasa. Tempat melepas penat. Tempat penghilang dahaga. Tempat bijak untuk sebuah energy baru.

Dan Rasulullah pun bersabda “..Ibumu, Ibumu, Ibumu..Ayahmu.”. Dan itulah gambaran ideal saya tentang sosok ibu.

Ketika kita menjadi ibu, adalah saatnya kita mengekspresikan diri. Mewujudkan segala mimpi juga impian yang pernah terlintas dalam benak kita sebelum menjadi ibu atau bahkan ketika kita masih kecil bermain ibu-ibuan. Aha , dan kini memang saatnya bagi saya untuk mewujudkan semuanya itu.

Saya ingin menjadi ibu yang terbaik bagi buah hati-buah hati saya. Menjadi ibu yang tidak memaksakan kehendak saya sebagai ibu mereka. Meskipun, seorang ibu cukup bisa berkuasa  dengan posisinya sebagainya seorang ibu. Namun, saya lebih senang menjadi ibu yang menekankan pada kebebasan berpendapat, melalui dialog, juga argumentasi–setidaknya anak-anak saya sedang melakukan hal itu–.

Anak adalah jiwa. Mereka adalah amanah. Mereka punya hati juga rasa. Mereka juga punya ingin dan mimpi. Maka, saya sebagai ibunya sudah menjadi kewajiban saya untuk memfasilitasi semuanya dengan penuh tanggung jawab tentunya.

Memandang mereka adalah melenyapkan duka. Menatap mereka adalah menghadirkan suka. Dan ini adalah suatu keindahan tiada tara yang tak ingin saya gantikan dengan apapun. Meski bukan berarti saya tak pernah marah. Kadang seorang ibu di tengah lelahnya melakukan hal tersebut *sigh*

Dan seorang ibu sangat dituntut menjadi kreatif kalau tidak mau disebut dengan jungkir balik. Bagi saya, ketiga buah hati saya adalah jiwa tanpa lelah. Saya harus dapat mencari kesenangan mereka yang baru jika tidak ingin mereka menangis karena bosan. Saya harus ekstra sabar dan lapang ketika mereka mulai membantu saya mengerjakan pekerjaan rumah. Karena biasanya bukan pekerjaan rumah yang menjadi selesai, namun, biasanya rumah menjadi tak karuan bentuknya.

Dalam kebersamaan bersama mereka hampir 7 tahun ini. Bagi saya, mereka adalah guru. Mereka adalah pelatih. Mereka adalah penguji. Mereka banyak memberikan pelajaran yang berarti bagi saya. Dan sebagai seorang ibu, saya tak sungkan untuk mengakui semuanya itu, jika saya memang banyak belajar dari mereka.

Sungguh,
Tiada kata yang dapat terurai
Ketika sosok ibu disebutkan..
Begitu banyak makna
Dan aku ingin menjadi
Sosok sejuta makna akhir zaman
Yang terbaik untuk malaikat-malaikat kecilnya

Read more »

Orangtua Berperan Atasi Pornografi Anak

Ketua Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) Sumatera Barat Boy Lestari menyatakan, orangtua sangat berperan dalam mengatasi maraknya pornografi yang terjadi pada anak-anak.

Dia menyatakan, terjadinya pornografi dipicu kemajuan teknologi, seperti adanya internet, handphone dengan berbagai fitur dengan harga murah. Di sisi lain, hal tersebut tidak bisa dihindari karena teknologi itu juga banyak positifnya.

“Jadi, upaya untuk mengatasi hal itu adalah orangtua harus memberikan kontrol yang penuh terhadap anaknya,” katanya di Padang, Rabu.

Menurut dia, kalau orangtua tidak mengontrol anaknya dengan baik dan tegas maka akibatnya moral anak akan rusak sehingga bisa menghancurkan masa depan anak.

Dia menjelaskan, banyak hal yang harus ditanamkan orangtua kepada anaknya, di samping memberikan kontrol yang penuh kepada anak, orangtua juga dituntut untuk mengarahkan anak kepada nilai-nilai keagamaan yang akan bisa membentuk karakter anak yang baik.

“Ketika anak sudah ditanamkan nilai agama, maka sekuat apa pun pengaruh negatif tersebut akan mampu dihindari sang anak,” katanya.
Ditambahkan, pada umumnya pelajar yang terlibat dalam pornografi atau pornoaksi tersebut adalah mereka yang tidak terkontrol atau tidak mendapatkan perhatian orangtuanya. Akibatnya, anak tersebut berperilaku bebas tanpa ada yang disegani.
“Idealnya setiap waktu para orangtua harus mengawasi anaknya, menelusuri gerak-gerik anak, dan membatasi waktu untuk bermain baginya, dan juga melarang anak untuk berteman yang bisa menjerumuskannya,” katanya.
Akan tetapi, realita yang terjadi saat ini, tambah Boy Lestari, orangtua sibuk sendiri mengurus pekerjaannya, dan anak mempunyai kesibukan sendiri pula. “Itulah salah satu faktor pemicu terjerumusnya anak kepada hal yang negatif tersebut,” katanya.
Dia menjelaskan, pada hakikatnya dalam ajaran Islam sudah diatur kewajiban orangtua terhadap anaknya, di mana orangtua sangat berperan dalam membentuk tingkah laku anak, dan juga orangtua berkewajiban mendidik anak kepada hal yang baik.
“Sangat disayangkan saat ini hal seperti itu sudah mulai hilang, akibatnya banyak kejanggalan sosial yang terjadi saat ini,” katanya. (Jodhi Yudono/KCM)

Read more »

Sebab Cinta Tak Harus Menangis

Aku bangga pada kalian. Kesabaran, ketegaran dan juga ketabahan kalian. Pertahankan, karena hidup harus tetap berjalan!” sebuah sms masuk ke handphone ku, dari salah satu teman sekolahku. Kalian yang ia maksudkan adalah aku dan putriku. Sedang hal yang membanggakannya adalah bahwa kami – aku dan putriku – bisa mengikuti prosesi pemandian hingga pemakaman jenazah tanpa tetesan air mata.

Beberapa orang kerabat sempat melarangku untuk ikut memikul jenazah ke pemakaman. Mereka khawatir aku tak mampu menguasai diri. Tapi aku bersikeras. Kuyakinkan pada mereka bahwa aku baik-baik saja. Aku hanya meminta pada salah satu kakak ipar untuk mengawalku, berjaga-jaga apabila ternyata keyakinanku keliru.

Juga ketika sampai di pemakaman, beberapa kerabat kembali melarangku turun ke liang lahat. Kekhawatiran yang sama, bahwa aku tak akan mampu menahan diri saat jenazah diturunkan. Kembali kuyakinkan pada mereka, bahwa aku baik-baik saja dan dalam keadaan sadar, sesadar-sadarnya. Aku jamin tidak akan ada air mata apalagi pingsan segala.

Aku sepakat dengan dua kakak iparku yang ikut turun ke liang lahat. Aku mengambil posisi di sebelah utara. Aku ingin membuka sendiri kain kafan yang menutupi wajah almarhumah. Kuakui, bergetar juga hatiku saat itu. Ini adalah pengalaman pertamaku turun ke liang lahat, dan itu terjadi pada pemakaman istriku sendiri. Bismillahirrohmanirrohim, aku kuatkan hati untuk tidak menuruti perasaanku. Kupusatkan perhatian pada arahan yang diberikan ustadz yang memimpin acara pemakaman.

Perlahan kubuka tali pengikat kain kafan jenazah istriku. Ada rasa yang tak bisa kugambarkan dengan kata-kata saat mulai membuka kain yang menutupi bagian wajahnya. Subhanallah! Allahu akbar! Seraut wajah yang sangat tenang dan damai terlihat di sana. Bahkan, senyum di wajahnya adalah senyum yang pertama kali membuat aku jatuh cinta padanya.

Aku berikan kesempatan pada putriku yang berdiri di pinggir liang lahat untuk melihat wajah sang ibu terakhir kalinya. Ada mendung menggantung di kedua matanya, namun kupastikan tak ada air mata yang menetes darinya. Meski kenyataan ini begitu berat ia terima, namun ia bisa membuktikan bahwa ia bisa tegar dan tabah.

Kuhadapkan wajah istriku ke arah kiblat, kupastikan wajahnya menyentuh dinding kubur yang basah. Kuganjal bagian belakang jenazahnya dengan bantal bulat yang terbuat dari tanah. Setelah jenazah berada pada posisi yang baik dan benar, barulah kutinggalkan jenazah istriku.

“Selamat tinggal sayang, beristirahatlah dengan tenang. Semoga keikhlasanku, keridhoanku akan memudahkan langkahmu menghadap Sang Pemilik Cinta Sejati. Insya Allah, di dalam syurga kelak kita kan bersama lagi. Amin”

Hanya sampai di sinilah kewajiban fisik yang bisa kupenuhi pada orang yang sangat kami cintai dan sayangi. Proses selanjutnya kuserahkan pada mereka yang sudah biasa memakamkan. Satu persatu bambu dipasang di atas jenazah, memberikan ruang agar jenazah tak tertimbun tanah secara langsung. Dalam hitungan menit, jenazah istriku tak terlihat lagi. Itulah saat terakhir aku melihatnya di dunia ini. Perlahan tanah pun dimasukkan, menimbun bambu-bambu yang terpasang rapi. Terdiam, aku dan putriku menyaksikan cangkulan demi cangkulan tanah basah ini tanpa kata, dan juga tanpa air mata.

Usai pemakaman, sebagian besar pelayat langsung pulang ke rumah masing-masing. Tinggal beberapa yang sengaja menunggu kami kembali untuk kemudian berpamitan. Berbagai dukungan dan nasihat datang dari keluarga, tetangga, kerabat dan juga sahabat yang menyempatkan diri, meninggalkan segala aktivitas rutin mereka untuk memberikan penghormatan terakhir pada almarhumah. Mereka yang tak sempat berpamitan langsung padaku, menitip salam pada bapak dan ibu. Ada juga yang berpamitan melalui telepon atau sms. Salah satunya adalah teman sekelasku. Ketika ku telepon, terbata ia memohon maaf. Sengaja ia tak menemuiku lagi karena ia takut mengusik ketabahanku. Ia bangga sekaligus terharu melihat kesabaran, ketegaran dan ketabahanku, juga putriku. Jelas kudengar suara isak di seberang sana, sebelum ia berjanji akan datang beberapa hari lagi. Ia butuh waktu untuk menata hati kembali.

Berbagai dukungan, ungkapan haru sekaligus bangga, senada dengan sms temanku terus berdatangan sampai beberapa hari setelah pemakaman. Rata-rata, baik keluarga, tetangga ataupun kerabat ‘mengakui’ ketabahan dan ketegaran kami. Bahkan ada di antaranya yang berterus terang mengatakan ingin mencontoh ketabahan dan ketegaran kami kelak bila ada anggota keluarganya yang meninggal dunia. Namun ada juga beberapa orang yang agak ‘mempertanyakan’ ketabahan kami. Paling tidak ada yang mengatakan demikian,

“Waktu istrinya meninggal, si Fulan boro-boro memikul jenazah dan turun ke liang lahat, justru berkali-kali ia histeris dan jatuh pingsan. Mungkin karena ‘saking cinta’nya, sehingga Fulan tidak bisa menerima kepergian sang istri yang tiba-tiba”.

Aku mencoba bersikap wajar dan berpikir positif terhadap apapun yang orang katakan. Aku tidak merasa istimewa ketika beberapa orang mengaku bangga dan ingin mencontoh ketabahan kami. Memang sudah demikian mestinya keikhlasan dan keridhaan diwujudkan. Juga aku tidak ingin berburuk sangka apabila ada yang memandang tingkat kecintaan pada histeria saat kehilangan. Mereka tentu tidak bermaksud meragukan kesungguhan cinta serta besarnya rasa kehilangan, hanya saja mereka melihat sesuatu yang tak biasa.
Menangis memang salah satu refleksi dari rasa kehilangan sekaligus kecintaan. Jangankan kita, seorang 

Rasulullah pun menangis sedih saat putranya – Ibrahim – meninggal dunia. Setabah apapun yang orang lihat saat acara pemakaman, sebelumnya kami juga tak kuasa menahan tangisan. Saat istri dalam keadaan kritis, dzikir dan doa kami berbaur dengan derai air mata. Begitupun ketika sang dokter mengatakan bahwa nyawa istri tak tertolong lagi, tangispun pecah. Juga ketika rombongan kami tiba di rumah, tangis kami luruh terbawa suasana. Bahkan saat membaca ayat-ayat suci Al Quran di samping jenazah, beberapa kali aku tak dapat meneruskan karena penglihatan yang kabur akibat air mata yang menggenang.

Bila orang mengartikan tangisan sebagai ekspresi rasa cinta, mereka tidaklah salah. Demikianlah adanya, meski juga tidak selamanya. Dalam pandangan kami, terkadang sebaliknya, Cinta tak harus menangis. Almarhumah tidak membutuhkan tangisan kami, ratapan kami. Yang almarhumah harapkan adalah keikhlasan, keridhaan serta doa-doa dari kami.

Ada banyak hal yang bisa kami lakukan untuk menunjukkan rasa cinta kepada almarhumah. Menerima takdir ini dengan penuh keikhlasan, keridhaan. Mendoakan almarhumah di setiap kesempatan. Menyelesaikan kewajiban serta menjaga dan menjalankan amanah yang almarhumah tinggalkan. Kami tak ingin cinta – tangisan dan ratapan – kami justru membebani langkah-langkah almarhumah. Kami tidak ingin termasuk orang yang menangis histeris, meratap di hari pertama, tapi sudah sama sekali lupa di hari kedua. Apalagi hari-hari berikutnya, terlupa mendoakan karena sibuk berebut warisan. Na’udzubillah!

Read more »