Tampilkan postingan dengan label doa islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label doa islami. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 November 2011

Nasihat Memilih Pasangan Hidup

Teringat dengan beberapa baris kata yang sering sekali terekam di dalam kepala,
“Tak perlu menuntut yang sempurna, dan mempersulit keadaan yang sebenarnya sederhana. Sebab padamu juga kelemahan itu selalu ada. Yang benar adalah sempurnakanlah niat awal kita, jika ia penuh berkah dan ridha dari-Nya, maka titik kemuliaan menjadi seorang manusia, Insya Allah akan dimudahkan oleh Allah untuk ada dalam diri kita”

Ada juga sebuah selentingan yang cukup “menggigit”,
“Semakin banyak kriteria, semakin banyak syarat, semakin banyak keinginan.. maka bersiap-siaplah kecewa. Apa penyebabnya ? karena bisa jadi yang diharapkan tak seindah realita, yang disyaratkan tak sempurna dalam lakunya. Maka berharap menemukan seseorang dalam kesempurnaan hanya membuat yang sederhana menjadi rumit dan tak mudah untuk dicerna”
Tentang penggalan kalimat kedua di atas. saya (lagi-lagi) teringat buku Serial Cinta-nya Anis Matta, di topik “Mengelola Ketidaksempurnaan”

“Apa lagi ketampanan yang tersisa di dunia ini ketika telah dibagi habis kepada Nabi Muhammad SAW, dan Yusuf AS. Dan kecantikan yang telah disempurnakan kepada Sarah istri Ibrahim AS dan Khadijah RA Istri Rasulullah. Hingga pesona kebajikan pun telah direnggut habis oleh Utsman bin Affan dan keluruhan budi telah dimiliki secara purna oleh Aisyah RA”

Lalu apa yang tersisa bagi kita manusia? Kita hanya terbagi sedikit (kalaupun ada) keshalihan-keshalihan para salafushalih yang telah hidup dalam cinta pada-Nya secara sempurna. Maka mengharap sebuah kesempurnaan pada seseorang, apalagi ukurannya adalah cantik, kaya, punya kedudukan, juga sangat shalih tanpa cela. Maka bersiap-siaplah kecewa serta bersiap-siaplah untuk terpasung dalam kerumitan. karena mencari satu dari sekian banyak pasangan jiwa dengan kriteria di atas, tak lebih hanya menyulitkan keadaan dan memperkecil kesempatan.

Tapi ini soal SELERA? Ini soal pasangan jiwa yang akan kita punya seumur hidup kita? Kalau kita tak CINTA, kita tak TERTARIK.. bisa kacau akhirnya?

Karena jawaban-jawaban inilah. Kita tengok saja hati-hati kita. Sebab jika NIAT Lillahi Ta’ala, maka kemuliaan pernikahan akan sangat jauh kedekatannya dengan nilai-nilai DUNIA. Ia hanya lekat dengan sebuah tujuan sederhana, “Menikah untuk membuatku lebih cinta pada-Nya, lebih tenteram beribadah kepada-Nya, menjaga kehormatan dan farj-ku dari kemaksiatan, dan menyempurnakan agamaku dan agamanya agar jauh lebih menghamba”. Jika ini terpasung kuat di dalam diri. Maka tambahan kriteria-kriteria lain yang lebih terkesan dunia, Insya Allah akan mulai mudah hilang dalam hitungan waktu yang berikutnya.

Sebagai kalimat penutup, saya ingin menuliskan barisan kalimat sederhana berikut :
“Ukurlah diri.. Berkacalah sedetail mungkin. Karena bisa saja CELA itu jauh lebih banyak dibanding kriteria yang telah diinginkan. Maka tanyalah pada hati yang jernih agar bisa memberi fatwa. Manakah patokan yang harus kau pakai. Jangan sampai hanya ukuran dunia yang menjadi tujuan kita”
Allahu’alam Bishawab
Taipei, 21 Juni 2011
Ditulis beberapa pekan menjelang pernikahan saya

Read more »

Antara Kebersamaan dan Ketersendirian

“Seseorang muslim tidak akan sempurna keislamannya - betapapun ia memiliki akhlaq-akhlaq yang mulia dan melaksanakan segala macam ibadah - sebelum menyempurnakannya dengan waktu-waktu uzlah dan khalwah untuk mengadili diri sendiri (muhasabatun nafsi). Ini merupakan kewajiban setiap muslim yang ingin mencapai keislaman yang benar, apalagi bagi seorang penyeru kepada Allah dan penunjuk jalan yang benar.” (Dr. Said Ramadhan al Buthy)

Membenci kesendirian adalah jelas tindakan tidak cerdas, karena kelak sudah pasti kesendirianlah teman sejati kita di kubur nanti. Memusuhi kesunyian adalah jelas sikap yang kurang baik. Karena kelak kesunyianlah satu-satunya teman yang mengakrabi kita dalam lahat nanti. Ketersendirian dan juga kesunyian adalah teman sejati yang idealnya kita pahami dan akrabi. Maka candailah kesendirian, cintailah kesunyian. Karena mengalami keduanya adalah keniscayaan.Begitu pula dalam konteks aktivitas keorganisasian kita. Hiruk pikuk dan lekatnya kebersamaan bersama rekan-rekan membuat kita menjadi asing pada kesendirian, bahkan tak jarang membencinya. Terlalu seringnya berbicara dan tertawa membuat kita lupa betapa bermaknanya diam.
Dalam kebersamaan dan padatnya interaksi, kita temukan pelajaran lain. Bahwa ketersendirian dalam beramal shalih adalah hal penting yang harus tetap kita jaga. Kebersamaan yang tidak lagi sesuai porsinya kerap kali menciptakan kelalaiannya sendiri yang justru melukai kebersamaan itu sendiri. Hal inilah yang pernah diperingatkan oleh Ibnu Qoyyim al Jauziyah, bahwa berkumpulnya orang-orang beriman tetap menyimpan marabahaya yang tetap harus diwaspadai. Pertama, tatkala dalam perkumpulan itu, satu sama lain saling menghiasi dan membenarkan. Kedua, ketika dalam perkumpulan itu, pembicaraan dan pergaulan antar mereka melebihi kebutuhan. Ketiga, ketika pertemuan mereka menjadi keinginan syahwat dan kebiasaan yang justru menghalangi mereka dari tujuan yang diinginkan (al Fawaid, hal. 60)
Kebersamaan ini harus memiliki jarak dan jeda yang cukup. Karenanya sesekali kurangi bicara kita, agar lebih banyak hal yang bisa kita dengar. Sesekali pelankanlah langkah kita agar lebih banyak peristiwa yang dapat kita maknai.

Read more »

Rabu, 09 November 2011

Doa Seorang Muslim

"Doa seorang muslim kpd saudaranya yg muslim dgn tanpa diketahui olehnya adalah MUSTAJAB, (ketika berdoa) akan ada didekatnya seorang malaikat muwakkal (pesuruh) setiap ia berdoa utk saudaranya itu dgn sesuatu kebaikan (malaikat itu) akan berkata: Amin! Dan bagi engkau kebaikan yang sama." (HR. Muslim) → Mari kita saling mendoakan terutama kpd orang-orang yg kita sayangi dan orang-orang yg minta dan perlu didoakan.

Read more »