Tampilkan postingan dengan label belajar islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label belajar islam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 November 2011

Disebabkan Oleh Cinta

Cinta laksana air dalam kehidupan, nafas dalam jiwa, semangat dalam raga, lembut dalam sutera. Ia bagaikan panas pada api, dingin pada salju, luas pada angkasa dan, seperti kata Sapardi, “kayu kepada api yang menjadikannya abu”

Disebabkan oleh cinta, Rasulallah SAW selalu mengingat-ingat almarhumah Khadijah (RA), istri pertamanya, hingga Aisyah (RA), istri ketiganya, cemburu “Aku sangat cemburu dengan Khadijah karena sering disebut Rasulullah, sampai-sampai aku berkata: Wahai Rasulullah, apa yang kau perbuat dengan wanita tua yang pipinya kemerah-merahan itu, sementara Allah telah menggantikannya dengan wanita yang lebih baik?”
Rasulullah SAW menjawab, “Demi Allah, tak seorang wanita pun lebih baik darinya. Ia beriman saat semua orang kufur, ia membenarkanku saat manusia mendustaiku, ia melindungiku saat manusia kejam menganiayaku, Allah menganugerahkan anak kepadaku darinya.”.

Dalam riwayat lain diceritakan, Aisyah mengatakan, “Tak seorang pun dari istri-istri nabi yang aku cemburui lebih dalam ketimbang Khadijah. Meskipun aku belum pernah melihatnya, namun Rasulullah seringkali menyebutnya. Pernah suatu kali beliau menyembelih kambing lalu memotong-motong dagingnya dan membagikannya kepada sahabat-sahabat karib Khadijah.”

Jika hal tersebut disampaikan Aisyah, Rasulullah SAW menanggapinya dengan berkata, “Wahai Aisyah, begitulah kenyataannya. Sesungguhnya darinyalah aku memperoleh anak”.

Disebabkan oleh cinta, Adam memakan buah keabadian (syajarah khuldi), karena – konon – Sayyidah 
Hawwa memintanya melakukan itu. Adam yang hidup di syurga dengan kenikmatan yang tiada tara, tetap berharap dengan keabadian cinta. Ah, ada saja.

Dalam tulisan yang singkat ini, saya ingin membahas tentang cinta yang sebenarnya. Cinta yang telah mengantarkan janin pada kedewasaan, air pada pusaran gelombang dan jalinan rindu pada bait-bait syair kehidupan. Cinta, sebuah kata yang hanya terdiri dari lima huruf. Tetapi, kandungannya telah mengubah sejarah peradaban manusia. Syeikh ‘Aidh al-Qorni mengatakan kita harus memilah cinta pada dua takaran: cinta ilahiyah dan cinta duniawiyah. Cinta ilahiyah adalah cinta yang abadi. Cinta seorang hamba pada Allah untuk mengikuti seluruh aturan hidup yang diberikan lewat nabi-Nya, Muhammad SAW. Bagaimana mungkin manusia tak mencintai Tuhannya, sementara seluruh kenikmatan ini adalah pemberian-Nya: Ketentuan Allah adalah adil, syariat-Nya rahmat, ciptaan-Nya menawan, fadhilah-Nya luas melebihi keluasan samudera.
قُل لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا﴿
١٠٩﴾

“Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)”. (QS Al-Kahfi: 109)

Cinta ilahiyah  adalah apa yang ditunjukkan Bilal bin Rabah, ketika ia berkata, “Ahad… ahad… ahad” di tengah himpitan batu panas yang menindihnya. Adalah Umair bin Himam yang berlari menyambut seruan perang padahal sedang asyik menikmati makanan, seraya berkata, “aku tak mau biji kurma ini menghalangiku masuk syurga.” Adalah Handzalah bin Abu Amir, yang melepaskan pelukan istrinya di malam pengantin baru, seraya menyambut seruan jihad pada perang Uhud dan menemui syahidnya. Ia dimandikan para malaikat hingga membuat sahabat nabi yang lain bertanya-tanya. “Mengapa dimandikan malaikat?” “Cari tahulah pada keluarganya” kata Rasulallah SAW yang mulia. Ya, ia tak sempat mandi jinabah saat menyambut panggilan Tuhannya. Itulah sekelumit contoh cinta Ilahiyah. Cinta yang meminta pengorbanan harta dan jiwa, Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS As-Shaff 10-11).

Disebabkan oleh cinta, Ibn Abbas kehilangan kedua matanya. Tokoh yang dikenal sebagai “al-Quran berjalan”, lautan ilmu dan tempat bertanya para sahabat Nabi SAW itu menangis setiap malam dalam tahajudnya karena cintanya kepada Allah sampai matanya buta. Seseorang datang dan berusaha memberikan simpati padanya, Ibn Abbas justru berkata:
إن يأخذ الله من عيني نورهما ***  ففي فؤدي وقلبي منهما نور

قلبي ذكي وعقلي غير ذي عوح *** وفي فمي صارم كالسبف مشهور
Allah mengambil dari kedua mataku cahayanya
Maka, pada hati dan pikiranku kedua cahaya itu tetap bersinar
(aku berharap) hatiku terus tajam, akalku terus terasah
Dan pada mulutku (kemampuan untuk memberi nasihat) seperti pedang yang terhunus tajam lagi terkenal.
Untuk itulah, seorang penyair Arab menulis:
الحب للرحمن جل جـلاله *** وهو مستحق الحب والأشواق
فأصرفه للملك الجليل ولذبه  *** من كل ما تخشاه من إرهاق
Cinta sesungguhnya adalah hanya kepada yang Maha Mencinta
Dialah yang paling berhak untuk dicinta dan dirindu
Maka, palingkanlah cintamu dari raja yang berkuasa
Dan dari setiap yang engkau takut dari makhluk-Nya.

Selain cinta ilahiyah, manusia yang hidup di alam duniawi yang profan ini seharusnya merasakan juga cinta duniawi. Ia adalah fitrah pada manusia. Yaitu mencinta harta, anak dan istri (atau suami) sebagai belahan jiwa. Tentu semua itu tak boleh melebihi kecintaan seseorang pada Allah SWT. Untuk itulah, Allah SWT mengingatkan,
قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ﴿٢٤﴾
Katakanlah: “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA”. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS. at-Taubah ayat 24).

Disebabkan oleh cinta, Nabi Nuh (alaihi salam) memanggil anaknya untuk bergabung dalam bahtera yang segera berangkat, saat air makin meninggi, gemuruh ombak dan gelombang lautan terus berkejaran mengisi seantero negeri yang akan segera tenggelam. Tapi, segera Allah SWT ingatkan,
قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ ۖ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ ۖ فَلَا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۖ إِنِّي أَعِظُكَ أَن تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ﴿٤٦﴾
Allah berfirman: “Hai Nuh, Sesungguhnya Dia bukanlah Termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), Sesungguhnya (perbuatan)nya[722] perbuatan yang tidak baik. sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikat)nya. Sesungguhnya aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan Termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.”  (QS. Hud 46)

Disebabkan oleh cinta manusia meminum arak rindu yang memabukkan itu. Mutanabbi, penyair Arab menulis, Aku mencintaimu, jangan kau tanyakan mengapa, sebab aku mencintaimu adalah pilihan dan jalan hidupku.

Penyair Arab lain menulis:
ولا تسألني عن وطني فقد اقمته بين يديك
ولا تسألنى عن اسمي فقد نسيته عندما احببتك
Jangan kau tanyakan dari mana asalku, sebab telah ku bentangkan di hadapanmu.
Jangan pula kau tanyakan siapa namaku, sebab aku telah lupa sejak mencintaimu.

Sebagai agama fitrah, Islam memberi ruang pada cinta duniawi ini. Ketika sepasang anak manusia tertarik satu dengan lainnya, Islam menganjurkan untuk segera mendokumentasikannya dalam mahligai rumah tangga. Rasulallah SAW berpesan, “Wahai anak muda, barangsiapa di antara kalian sudah mampu (menikah), hendaklah menikah.” Ikat cintamu. Abadikan pelana hatimu. Simpan permata jiwamu. Proklamasikan belahan kasihmu di altar sajadah ijab-kabul yang disaksikan para malaikat, sambil bersimpuh di hadapan orang tua dan kerabat.

Cintailah pasanganmu seperlunya. Sebab, telaga cinta manusia pasti akan kering suatu saat kelak. Ia tak mungkin abadi, bahkan jika kau dokumentasikan cintamu semewah Taj Mahal sekalipun. Pernikahan telah menyingkap tabir rahasia pasanganmu. Bagi suami, ternyata istri yang engkau nikahi tidaklah semulia Khadijah yang rela berkorban seluruh hartanya untuk dakwah suaminya. Tidak pula setaqwa Aisyah yang menutup malam dengan tahajud dan siang dengan infak dan sedekah. Tidak pula setabah Fatimah ketika Ali bin Abi Thalib, suaminya, membagikan persediaan makanannya untuk fakir, miskin, janda dan tawanan perang hingga Allah turunkan ayat sebagai pengabadian cinta mereka, “Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih” (QS Al-Insan 9)

Disebabkan oleh cinta, sadarlah engkau bahwa istrimu hanyalah wanita pada umumnya. Ia yang punya cita-cita dunia, ingin rumah, kendaraan, perhiasan dan berbagai gadget terbaru untuknya. Pernikahan telah mengajarkanmu kewajiban bersama. Istri menjadi tanah, engkau langit yang menaunginya. Istri ladang tanaman, engkau pemagarnya. Kala ia tengah teracuni, engkau harus menjadi penawar bisanya.

Maka, ketika cinta telah terpatri di buku nikah, Rasulallah SAW menganjurkan umatnya untuk mendoakan sepasang kekasih itu, “Semoga Allah memberikan keberkahan kepadamu, keberkahan ke atasmu dan mempersatukan keberduaanmu dalam kebaikan. Satu dalam dua  adalah ibadah; bercumbu ibadah, mencari rezeki ibadah,  tersenyum ibadah, bahkan saling meremas jemari pun ibadah. “Meremas jari-jemari istri menggugurkan dosa-dosa kecilmu!”

Malam pengantin baru adalah malam yang ditunggu-tunggu. Sebagian menantikannya dengan dada berdebar, sebagian lain dengan mabuk kepayang. Jantung berdetak tak karuan, kaki berdiri lebih sering kesemutan, duduk tak diam, berjalan tak jelas pula arahnya. Rasulallah SAW berpesan, “Takutlah kalian kepada Allah dalam hal wanita. Kalian mengambil mereka dengan amanah dari Allah, dan menjadi halal dengannya karena nama Allah.”

Disebabkan oleh cinta, Rasulallah SAW menganjurkan kepada pengantin baru hal-hal berikut ini:
  1. Shalatlah dua rakaat.
  2. Ambil gelas, tuangkan susu dan madu, teguk dan rengkuh isinya bersama.
  3. Letakkan niat dengan benar sebab setiap amal seorang muslim dihitung berdasarkan niatnya. Dalam satu hadits diriwayatkan dari Abu Dzar bahwasanya orang-rang bertanya kepada Rasulullah saw.: “Wahai Rasulullah orang-orang kaya telah memborong pahala, di mana mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka menyedekahkan kelebihan harta mereka”. Rasulullah saw. bersabda: “Bukankah Allah telah menjadikan sesuatu yang dapat kalian sedekahkan? Sesungguhnya setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, menyuruh untuk berbuat baik adalah sedekah, mencegah dari perbuatan mungkar adalah sedekah, bahkan di dalam salah seorang di antara kamu sekalian itu bersetubuh dengan istrinya juga termasuk sedekah”.
Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah seseorang itu melampiaskan nafsunya juga mendatangkan pahala?” Beliau menjawab: “Bagaimana pendapatmu seandainya ia melampiaskan nafsunya pada yang haram, bukankah yang demikian itu mendatangkan dosa? Demikian sebaliknya bila ia melampiaskan nafsunya pada yang halal maka ia mendapatkan pahala”. (Riwayat Muslim).
  1. Meletakkan tangan di atas kening istri seraya berdoa, “Allahumma Innii Asaluka Min Khoiriha wa Khoiri Ma Jabaltaha Alaihi. Wa Audzu bika Min Syarri wa Syarri Ma Jabaltaha Alaih”  Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan dari apa yang Engkau berikan kepadanya serta Aku berlindung kepada-Mu dari pada keburukannya dan keburukan yang Engkau berikan kepadanya”.
  2. Berdoa agar terhindar dari syaitan. Tibalah saat yang dinanti itu, ketika madu berkasih, ombak jiwa berdebar, angin bertiup melewati daun jendela, perahu pelaminan terguncang dan kasih tertunaikan. Rasulallah SAW ingatkan umatnya untuk sekali lagi berdoa. “Sekiranya ada di antara kalian yang hendak menggauli istrinya, hendaklah ia berdoa, (artinya), Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah jauhkanlah syaitan, dan jauhkan syaitan dari apa yang Engkau rezekikan pada kami. Sebab sekiranya dari hubungan itu diberikan anak, niscaya tidak akan dicelakakan syaitan selama-lamanya.”
Demikian, tulisan singkat tentang cinta ini. Semoga bermanfaat.
Wallahu a’lam bis showab.

Read more »

Lautan Makna di Balik Tahmid

الحمد لله ucapan yang sangat ringan bagi lidah, tetapi kedalaman maknanya melebihi kedalaman palung mariana (Mariana Trench) di samudera pasifik. [[1]]

Surah pertama dari Al-Qur’an diawali dengan الحمد لله. Ini memberikan keurgensian tersendiri terhadap Al-Qur’an dan kalimat tersebut. Artinya pesan kehidupan, tuntunan ibadah dan akhlaq yang ada di dalam Al-Qur’an merupakan nilai yang tidak dapat dihargai dengan segala bentuk penghargaan. Olehnya itu, hamdalah menyiratkan bahwa manusia tidak punya kemampuan sedikit pun untuk memberikan pujian terhadap segala nikmat Allah SWT, karena nikmat itu sendiri di luar dari perhitungan matematis.

Hakikat ini telah ditegaskan Syekh Abu al-Abbas al-Mursi dalam pernyataannya berikut ini:
“Firman-Nya:
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴿٢﴾
(QS. al-Fatihah [1]: 2)
“Saya berkata: “Allah SWT telah mengetahui bahwa hamba-Nya tidak dapat memuji-Nya sebagaimana mestinya, sehingga Dia memuji sendiri diri-Nya. Di waktu Dia telah menciptakan segala entitas kehidupan, maka hal ini menghendaki mereka untuk memuji-Nya dengan pujian-Nya, sehingga Dia berfirman: “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” Artinya, segala puji untuk-Nya semata yang memuji diri-Nya dengan pujian tersebut yang dikhususkan untuk-Nya, bukan untuk selain dari Dia. Olehnya itu, Alif dan Lam pada (الْحَمْد) menyiratkan bahwa para pemerhati Al-Qur’an telah mengetahui dengan begitu dekatnya makna pujian ini yang hanya patut dilantunkan untuk Zat yang Maha Agung dan Suci.”[[2]]

Jika Anda bertanya: “kenapa الحمد لله dianjurkan untuk diucapkan setelah menegakkan shalat lima waktu dan di waktu-waktu lain, bukankah dengan ibadah fisik tersebut merupakan bentuk pujian tersendiri terhadap-Nya?”

Kepada Anda saya memberikan jawaban seperti ini:
Kehadiran kita di muka bumi ini yang lahir dari ketidakadaan, indera perasa di lidah yang mampu membedakan seribu satu jenis tingkat rasa yang bahasa manusia sendiri lemah untuk memberikan penamaan tersendiri dari setiap rasa tersebut, pengetahuan manusia terhadap kosmos dan hakikat penciptaan seluruh entitas kehidupan, tarikan dan hembusan nafas tiap detik yang dinikmati gratis, fasilitas-fasilitas kehidupan, seperti: air, api, tanah, dan udara, memberikan layanan jasa gratis tanpa menampakkan keengganan dan pembangkangan terhadap segala bentuk keinginan makhluk, siklus darah pada denyut jantung yang memperdengarkan detakan halus secara sistematis dan spontanitas yang melebihi keteraturan alur simfoni musik yang dipertunjukkan oleh orkes dengan komposisi musik pada setiap alat, sehelai rambut yang rontok dan terganti dengan rambut lain yang lebih kuat tanpa campur tangan bahan-bahan kimia, kulit mati terganti dengan kulit yang lebih segar dan meremaja tanpa menjalani operasi kulit, kulit wajah yang senantiasa menjaga kebugarannya di pagi hari tanpa bantuan operasi kulit, panca indera yang menjalankan fungsi mereka tanpa menunggu perintah dari pihak manapun, tubuh yang punya kepekaan tersendiri di luar dari jangkauan pengetahuan manusia, dan masih banyak lagi yang menanti penuturan seperti ini. Semua itu menghendaki manusia bangkit dari alam kelalaian dan kelupaan untuk memuji Allah SWT dengan segala potensi diri yang ada dalam diri mereka.

Mari kita melihat secara saksama kedalaman makna hamdalah di dalam Al-Qur’an:
Hamdalah yang datang di dalam Al-Qur’an baik dalam bentuk pemberitaan ataupun perintah terpaparkan dalam bentuk kata benda verbal (masdar), yaitu: الْحَمْد, seperti pada ayat berikut ini:
دَعْوَاهُمْ فِيهَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلَامٌ ۚ وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴿١٠﴾
(QS. Yunus [10]: 10)
وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُن لَّهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُن لَّهُ وَلِيٌّ مِّنَ الذُّلِّ ۖ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا﴿١١١﴾
(QS. Al-Isra’ [17]: 111)

Hamdalah tidak pernah diberitakan dalam bentuk kata kerja apa pun, baik itu lampau, sekarang, dan yang akan datang. Ini menyiratkan bahwa pujian tersebut wajib dilantunkan tiap saat tanpa dibatasi oleh ruang waktu dan tempat.

Olehnya itu, nikmat keislaman yang memberikan tuntunan kehidupan yang baik dan benar, ketenteraman dan kedamaian jiwa, dan keselamatan fisik, harta, harkat dan martabat, merupakan puncak kenikmatan yang senantiasa menghendaki manusia melantunkan pujian di segala kesempatan.

Penerapan hamdalah tidak sebatas pengucapan saja, tetapi ia dapat diaplikasikan dalam praktek kehidupan yang lebih luas lagi. Ini dapat dilihat dari paparan berikut ini:
الحمد لله
  bukan hanya diucapkan setelah makan dan minum, atau setelah merasakan satu bentuk kenikmatan, tetapi ia merupakan simbol kesempurnaan dari kemusliman seseorang yang senantiasa merasakan nikmat Allah setiap waktu, karena dengan terciptanya kesadaran diri terhadap nikmat tersebut meski tidak nampak di kasat mata merupakan kenikmatan tersendiri, yang dengan sendirinya dapat menjadi motivasi terhadap lahirnya manusia-manusia yang senantiasa merasakan keberadaan dan kedekatan Sang Maha Pencipta di sisinya. Dan pastinya, kedekatan tersebut menjadi proteksi tersendiri terhadap manusia untuk tidak melakukan segala bentuk kemaksiatan yang meruntuhkan segala bentuk pujian yang telah dilantunkan kepada Allah SWT dari segala bentuk fasilitas kenikmatan yang telah diberi.

Bediuzzaman Said Nursi dengan begitu apik dan indah telah mengilustrasikan tingkatan-tingkatan kenikmatan sebagaimana berikut:

Pertama dan kedua: الحمد لله atas nikmat keimanan yang telah mengangkat dari alam kemanusiaan enam bentuk kegelapan dan memberikan sinar kehidupan:
Kegelapan masa lalu pudar dan diterangi keimanan yang mengilhami lahirnya dunia Islam yang lebih terang dan menjanjikan.

Kegelapan masa sekarang pudar dan diterangi keimanan yang mengilhamkan keberadaan surga yang menjanjikan segala bentuk kenikmatan abadi.

Kegelapan yang datang dari kelemahan manusia untuk mengetahui hakikat penciptaan langit dan isinya yang telah tercemar oleh wacana distorsif para filosof. Kegelapan ini pudar dan tersinari oleh keimanan yang mengilhami manusia bahwa langit  tercipta dan terhias dengan bintang-bintang oleh perintah dan kehendak Allah SWT demi memberikan aneka manfaat terhadap manusia yang telah diungkap oleh ilmuwan astronomi.
Kegelapan yang lahir akibat kebodohan manusia terhadap hakikat bumi. Dengan nikmat keimanan manusia mengetahui bahwa bumi ini tercipta untuk dijadikan tempat wisata bagi mereka yang ingin mengenal lebih dekat kerajaan Allah yang Maha Pengasih yang menyuguhkan aneka ragam kenikmatan dan kelezatan makanan demi kelangsungan hidup mereka dalam beribadah di jalan Allah.

Kegelapan yang timbul dari kebodohan manusia tentang hakikat kematian. Dengan nikmat keimanan nampak dengan begitu jelasnya bahwa kematian itu tidak lain kecuali perpindahan tempat semata dari alam fana ke alam baka, dari tempat pengabdian ke tempat pengambilan upah, dari tempat yang penuh kebisingan ke tempat peristirahatan yang penuh dengan rahmat. Olehnya itu, kematian bukanlah musibah, tapi sarana memperoleh kebahagiaan dari upah pengabdian di dunia.

Kegelapan yang menampakkan diri akibat kebodohan manusia terhadap hakikat penciptaan mereka. Setiap dari mereka heran, ragu dan meminta penafsiran dari pertanyaan ini: “dari mana kami? dan mau ke mana?” Dengan nikmat keimanan manusia mengetahui bahwa dasar dan tujuan penciptaan adalah sejauh mana kesiapan mereka memakmurkan bumi, tempat yang penuh dengan cobaan.

Ketiga: الحمد لله atas nikmat keimanan yang menjadi tempat menyandarkan segala sesuatu, dan meminta perlindungan dan pertolongan.

Dengan kelemahan dan banyaknya musuh manusia, ia sangat membutuhkan tempat berlindung dari segala ancaman musuh, dan dengan kepapaan dan banyaknya kebutuhan dan harapan manusia, ia sangat memerlukan tempat menyandarkan segala kebutuhan dan keinginannya.

Keimanan terhadap Allah memberikan tempat perlindungan terhadap fitrah manusia, dan keimanan terhadap hari akhirat menyuguhkan tempat penyandaran terhadap keinginan-keinginan mereka. Barangsiapa yang tidak mengetahui keurgensian dari kedua unsur ini maka hati dan ruhnya tidak merasakan ketenangan, dan senantiasa tersiksa oleh perasaan sendiri. Dan barangsiapa yang meminta perlindungan dengan keimanan berdasarkan asas pertama, dan menyandarkan segala kebutuhan dengan keimanan berdasarkan asas kedua, maka ia akan merasakan dari kedalaman jiwanya kelezatan maknawi, ketenangan yang menghibur, dan pegangan bagi perasaannya.

Keempat: الحمد لله atas nikmat keimanan yang mengangkat kepedihan dan ketidakrelaan dari hilangnya segala bentuk kenikmatan halal dengan memperlihatkan kenikmatan serupa yang senantiasa silih berganti. Tentunya, kondisi seperti ini dengan sendirinya akan melanggengkan segala kenikmatan dengan memperlihatkan muara dari setiap kenikmatan yang pergi dan berlalu.

Sebagaimana buah yang tidak diketahui pohonnya, maka kenikmatan hanya terbatas pada buah tersebut, ia tiada setelah dimakan, sehingga timbul rasa iba dan sedih atas kepergiannya. Tetapi, jika pohonnya diketahui dan disaksikan, maka kepedihan atas kepergiannya hilang dengan sendirinya, karena pohonnya senantiasa kekal yang senantiasa memberikan buah yang serupa. Demikianlah, sesungguhnya kondisi ruh manusia yang sangat kritis lahir dari kepedihan-kepedihan terhadap segala bentuk perpisahan. Maka dengan cahaya keimanan, kepedihan perpisahan itu hilang dengan sendirinya, bahkan akan menjadi kenikmatan tersendiri, karena yang kenikmatan yang pergi terganti oleh kenikmatan serupa yang menawarkan kelezatan lain. Bukankah setiap yang baru adalah enak?

Kelima: الحمد لله atas cahaya keimanan yang memperlihatkan bahwa semua entitas kehidupan bukanlah musuh, asing, dan benda mati yang menakutkan, melainkan mereka adalah kekasih, saudara, cinta rukun, dan hamba yang senantiasa memuji dan berdzikir.

Artinya kelalaian telah memperlihatkan manusia semua entitas kehidupan sebagai makhluk yang berbahaya dan asing, seperti musuh yang menakutkan, dan memperlihatkan putusnya tali persaudaraan antara mereka di setiap waktu.  Kesesatan semacam ini menjadikan persaudaraan seseorang terasa singkat, seperti semenit saja di dalam seribu tahun yang penuh dengan keterasingan. Dan persaudaraan orang-orang beriman berlangsung dari masa lalu hingga masa mendatang. Di lain sisi, kesesatan memperlihatkan semua entitas kehidupan sebagai benda mati yang menakutkan. Sementara itu, keimanan melihat setiap entitas kehidupan sebagai benda hidup yang cinta damai, rukun dan nyaman. Olehnya itu, mereka menurut kacamata keimanan punya ruh dan kehidupan sendiri, dan menolak anggapan sesat bahwa mereka adalah makhluk asing yang menakutkan.

Di samping itu, sudut pandang yang sesat melihat makhluk hidup yang lemah memperoleh segala tuntutan hidup, yang tidak punya pelindung dan kerabat, dan terhempas jauh dari segala bentuk kasih sayang dan perlindungan, seperti anak-anak yatim yang meratapi kelemahan, kesedihan, dan keputusasaan mereka. Sementara itu, sudut pandang keimanan berkata: “Sesungguhnya makhluk hidup itu bukanlah anak-anak yatim yang menangis, tetapi mereka adalah hamba yang dibebani hukum taklifi, bertugas memakmurkan bumi, dan senantiasa memuji dan berdzikir.”

Keenam: الحمد لله atas nikmat keimanan yang telah memperlihatkan dunia-akhirat seperti dua perjamuan besar yang dipenuhi aneka ragam nikmat. Orang-orang beriman dengan leluasanya menikmati apa yang disuguhkan di perjamuan tersebut dengan panca indera, baik yang lahiriah atau batiniah, dan dengan cita rasa maknawi atau rohaniah mereka.

Sudut pandang yang sesat menjadikan ruang lingkup pemanfaatan nikmat tersebut sangat sempit dan terbatas pada kenikmatan-kenikmatan materi yang senantiasa sirna mengikuti ketidakkekalan materi itu sendiri. Akan tetapi, dengan cahaya keimanan ruang lingkup pemanfaatan nikmat sangat luas, seluas langit dan bumi. Orang beriman melihat surya seperti bola lampu di rumah, teman setia di setiap kegiatan harian, dan di perjalanan. di sana tersimpang seribu satu kenikmatan bagi mereka yang melihat surya dengan kacamata iman yang penggunaannya lebih luas dari langit itu sendiri.

Ketujuh: الحمد لله atas adanya Allah. Wujud Allah adalah nikmat yang paling besar bagi setiap entitas kehidupan. Nikmat ini mencakup nikmat-nikmat lain yang mustahil diilustrasikan dengan tingkat bahasa manusia yang terbatas.
الحمد لله
  atas kemurahan-Nya yang mencakup semua makhluk hidup. Dengan fitrah manusia terjalin di antara mereka dengan makhluk lain sebuah komunikasi aktif. Ia bahagia setiap kali melihat wajah makhluk lain melukiskan goresan-goresan kebahagiaan dari nikmat yang sedang dicicipinya. Nikmat terhadap mereka juga nikmat terhadap manusia dengan sendirinya.
الحمد لله
  atas kasih sayang-Nya yang terlihat dengan begitu jelasnya dari kasih sayang orang tua terhadap anaknya. Dengan fitrah yang sehat batin menjerit kesakitan dari tangis bayi yang sedang lapar dalam kepapaan, dan dengannya pula ia berteriak kegirangan dari bayi yang riang bermain setelah kenyang.
Olehnya itu, kiaskanlah nikmat-nikmat yang tercakup dalam setiap nama-nama-Nya (asmaul husna) pada ar-Rahman, dan ar-Rahim.

Kedelapan: الحمد لله yang senantiasa dipuji oleh setiap entitas kehidupan dengan menyebutkan sifat kesempurnaan dan keindahan-Nya. Setiap dari mereka bertahmid memuja kesempurnaan dan kemuliaan penciptaan-Nya yang melukiskan kemampuan, pengetahuan, keagungan, dan kebijakan-Nya. Dengan cahaya keimanan mereka dapat menangkap sinyal-sinyal ketuhanan dan keesaan yang dipancarkan setiap nama-nama-Nya (asmaul husna).

Kesembilan: Segala puji dari Allah, dengan Allah, atas Allah, untuk Allah dari setiap atom-atom yang ada pada setiap makhluk sejak awal penciptaan dunia hingga hari kiamat.
الحمد لله atas kalimat tahmid ini sendiri yang membuka kesempatan kepada siapa saja yang ingin melantunkan pujian terhadap-Nya.
الحمد لله atas nikmat Al-Qur’an, dan iman terhadap umat Islam.[[3]]
Di penghujung tulisan ini, penulis mengajak para pemerhati tema-tema keislaman untuk memenuhi setiap ruang waktu dan kesempatan dengan tahmid yang disuarakan ayat-ayat ini:
وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ تَجْرِي مِن تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ ۖ وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ ۖ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ ۖ وَنُودُوا أَن تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ﴿٤٣﴾


(QS. al-A’raf [7]: 43)

Catatan Kaki:
 [[1]] Palung Mariana atau Palung Marianas adalah palung yang paling dalam yang diketahui, dan lokasi terdalamnya berada di kerak Bumi. Dia terletak di dasar barat laut Samudra Pasifik, sebelah timur Kepualauan Mariana dekat Jepang. Dasar dari palung ini jauh di bawah permukaan laut, lebih jauh dari ketinggian Gunung Everest di atas permukaan laut. Palung ini memiliki kedalaman maksimum 10.911 meter (35.798 kaki) di bawah permukaan laut. lihat: http://fizzyenergy.com/the-worlds-greatest-oceanic-depths/
 [[2]] Syekh Ibn Atâillah as-Sakandarî, Lâtaif al-Minan, hlm. 100
 [[3]] Bediuzzaman Said Nursi, Risalah as-Syukr, Tsamratul Hayâh wa Gâyatul Kainât, diterjemahkan oleh Ihsan Qasim as-Shalihih, Sozler, Kairo, cet. 5, 2008 m, hlm. 78-90

Read more »

Ketampanan Hatinya Meluluhkan Hati Gadis Cantik Nan Kaya Raya

Sebenarnya sudah lama kisah ini ingin saya tuliskan, tapi karena rasa malas berlarut akhirnya baru sekarang niat itu muncul kembali, berawal dari beberapa kali  membaca catatan seputar dunia cinta (katanya) Islami dari para ikhwan dan akhwat yang kebenaran sumbernya masih di ragukan, bahkan dibuat menjadi mellow, mengawang ke sana kemari (membosankan), atau mungkin di ambil dari novel bernuansa religi yang ramai di tanah air, dari sinilah keinginan menulis kisah cinta yang nyata datang.
Kisah ini  diambil dari rangkaian perjalanan  sahabat saya yang mempunyai nama lengkap ‘Ibad Rahman’ (bukan nama sebenarnya) biasa disapa dengan Ibad, berasal dari Bekasi, Jawa Barat. Kita sama-sama menuntut ilmu di Mesir, dan tinggal di dalam satu Asrama Pelajar Azhar yang sama  dekat kampus tercinta, hanya saja dia lebih dahulu daripada saya 1 tahun, saya ambil jurusan Ushuluddin, sedangkan Ibad lebih memilih syari’ah Islamiyah.
Hmm….Kalau  boleh jujur, kisah sepele ini sebenarnya lebih bermakna ketimbang cerita seorang pelajar bernama azzam serta kesungguhannya dalam mencari cinta yang halal dan kebenaran yang diabadikan via novel yang sangat fenomenal di tanah air ‘’Ketika Cinta Bertasbih’’ atau  cerita dari Fakhri dalam novel ‘’Ayat-Ayat Cinta’’ yang puluhan kali dicetak ulang lalu difilmkan dan ditonton oleh 3,5 juta orang  serta berhasil terjual  lebih dari 400.000 exp. (ceritanya pun terlalu jauh dari kenyataan di tengah sahara kehidupan).
Sederhana, mudah bergaul, cerdas,  pekerja keras dengan postur tubuhnya yang tidak terlalu besar, dan pemberani, bukan juga tipe yang konfrontatif, oportunis apalagi glamour, melainkan pelajar dengan tipe realistis serta  Professional yang berorientasi pada studi saja  selama di Mesir, juga sempat mengenyam pendidikan di Universitas Teknologi Bandung, walau tidak lama, pandai dalam disiplin ilmu fisika, kimia dan sejenisnya, dialah Ibad seorang sahabat yang selalu teringat dalam benak saya sampai saat ini.
Jauh sebelum kuliah ke Mesir, sebenarnya dia ini tidak cakap berbahasa Arab bahkan tidak ada background pesantren., sebut sajalah  orang  awam dalam masalah agama, akan tetapi cinta dengan kebenaran, singkat cerita….tentunya kita pernah mendengar konflik yang terjadi di Ambon tahun 2000 pasca lengsernya rezim orde baru di tangan pemimpin partai berkuasa saat itu yang  kendaraan politiknya semakin menggelitik dan sampai sekarang masih eksis.
Entah apa alasannya…akhirnya dia memutuskan untuk ikut berjihad ke Ambon dan meninggalkan kuliahnya di ITB, saya pun sempat terbakar semangatnya ketika menyaksikan video tentang Ambon apalagi saat itu masih mesantren, tapi sayangnya semangat ini tidak sebanding lurus dengan keimanan yang masih cinta akan dunia.
Benarlah Al Qur’an menceritakan perihal orang-orang yang beriman, yaitu Allah lah yang langsung membimbing mereka, terbingkai indah dalam surat Yunus ayat 9 juz 11 :
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya [1]…………….
Bukan hanya berupa bimbingan sebagai balasan bagi orang yang  beriman dan bertaqwa, tapi juga Allah  lah  yang  senantiasa menjadi sang murabbi atau guru terbaik baginya, sesuai dengan surat Al Baqarah ayat 282 juz 3 :
…………Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Lain halnya dengan orang yang kufur dan tidak percaya akan tanda-tanda kebesarannya, Allah tidak akan membimbing mereka bahkan baginya adzab yang teramat pedih sebagai balasan.
Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah (Al Quran), Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka dan bagi mereka azab yang pedih. (QS ; An Nahl ayat 104 juz 14)
Mungkin dari sinilah Allah membimbing sahabat saya untuk pergi berjihad membantu saudara seiman di tanah para syuhada Ambon sebagai awal dari datangnya hidayah kepadanya, subhanallah,…. keberaniannya membuat saya kagum sama halnya kekaguman saya kepada Rasulullah, seorang yang sederhana tapi sangat pemberani.
Anas bin Malik menuturkan, ‘’Rasulullah adalah pribadi yang paling bagus akhlaqnya paling dermawan dan paling pemberani. Suatu malam, para penduduk Madinah dikejutkan oleh datangnya suara aneh. Beberapa orang langsung menuju suara tersebut, ternyata mereka mendapati Rasulullah sudah pulang. Ternyata  beliau sudah mendahului mereka menemui suara itu.  Dengan masih mengendarai kudanya, beliau berkata, ‘’ mengapa kalian takut ? mengapa kalian takut ? itu hanya suara air laut. Yah, hanya suara air laut saja.’’ Beliau memang seorang kesatria pemberani. [2]
Akhirnya Ibad  kembali  ke Bandung setelah beberapa pekan di Ambon dengan membawa jutaan pelajaran berharga, dimana dia menyaksikan langsung kejadian demi kejadian  memilukan, beberapa kerabatnya mendapatkan  syahid di tanah Ambon.  (Mudah-mudahan Allah menerima pahala syahid mereka…Ya Robbana)
 ‘’Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup [3], tetapi kamu tidak menyadarinya’’.(QS : Al Baqarah ayat 154 juz 2).
Skenario Awal Dari Sang Sutradara Kehidupan
Takdirlah yang mempertemukan mereka (Ibad dan gadis lugu) untuk pertama kali, ketika sama-sama belajar di ITB, saat itu Ibad mengikuti orientasi mahasiswa baru jenjang S1, sedangkan gadis itu pada jenjang di atasnya yaitu S2, tidak banyak cerita yang saya dapat dari kisah pertemuan mereka, karena memang frekuensi pertemuan mereka berdua pun tidaklah banyak, sempat bertemu di tempat photocopy kampus, selirik dua lirik mereka pun saling mengenal wajah tanpa banyak komunikasi alias jarang.
Sekembalinya Ibad dari Ambon seperti yang saya ceritakan pada paragraf sebelumnya, akhirnya dengan tekad bulat dia memutuskan untuk meninggalkan  ITB, padahal kala itu kesempatan belajar ke Eropa pun ada dihadapannya, mengingat kecerdasan yang dimiliki dan kuatnya jaringan kampus, dia memilih untuk lebih memperdalam agama ketimbang  menjadi ahli fisika dan ilmu-ilmu umum lainnya yang  terlihat lebih menjanjikan di mata manusia daripada menjadi  akademisi muslim yang sangat kurang diminati masyarakat sampai-sampai getarannya  dirasakan juga oleh  keluarga saya atau mungkin keluarga Anda.
Sebagai bukti kongkret ada sedikit cerita, awalnya keluarga  tidak mendukung langkah saya pergi ke Mesir, bahkan orangtua lebih merekomendasikan saya untuk mendaftar di salah satu kampus terkenal di Sumatra Barat dan tidak perlu jauh-jauh pergi ke negeri piramida, hanya dengan sedikit kemampuan yang saya miliki untuk  melobi dan rayuan khas umumnya seorang anak kepada orangtua, akhirnya saya pun bisa mendominasi jalur pikiran mereka.
Sikap dari orangtua pun bisa saya maklum karena bedanya pola pikir kami dalam menilai Islam sebuah Esensi  dan  faktor psikologi juga mempunyai pengaruh kuat, karena lamanya mesantren yang jauh dari rumah di Depok dan hendak kembali terpisah setelah  Aliyah dengan keluarga untuk jangka waktu yang lama walau perpisahan ini hanya tuk sementara (Studi Normatif). ‘’Sambil mendoakan semoga Allah membesarkan hati mereka dan orang-orang tercinta yang saya tinggalkan  selama bertahun-tahun.’’
Awal Segala Sesuatunya untuk Ibad….
Ibad pun  mengikuti studi bahasa Arab di salah satu lembaga pendidikan  di Bandung yaitu Ma’had Al-Imarat yang banyak di warnai pula oleh lulusan dari Timur tengah  juga Lipia Jakarta.  Singkat cerita…..dengan modal kecintaan  pada agama, juga  negaranya, serta bekal ilmu yang didapat dari Al-Imarat walau hanya beberapa bulan, Ibad  memberanikan diri untuk mengikuti seleksi pelajar berbeasiswa ke Timur tengah yaitu Mesir yang difasilitasi oleh Kementerian Agama RI. Alhasil… keajaiban serta rahmat Allah pun datang padanya, dia masuk nominasi dan berhasil lulus dalam tahap penyeleksian dengan menggeser banyak saingan dari berbagai pondok modern terkenal yang berbasiskan dua bahasa asing (Inggris dan Arab).
………’’Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik’’. (QS : Al A’raaf  ayat 56 juz 8)
Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.. (QS : Huud ayat 115 juz 12).
………’’ Sesungguhnya barang siapa yang bertaqwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik” (QS : Yusuf ayat 90 juz 13).
……………….Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS : An Nahl ayat 128 juz 14).
Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik.(QS : Al Kahfi ayat 30 juz 15).
 Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS : Al ‘Ankabuut ayat 69 juz 21).
Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS : Muhammad ayat7 juz 26)
Terlampau banyak ayat yang memuji  orang-orang baik dalam Qur’an sebagaimana banyak juga ayat yang menyentil orang-orang yang  kurang baik atau tidak baik sama sekali, paling tidak….beberapa ayat di atas bisa memberikan secuil gambaran dan menambah cakrawala baru seputar dunia Islam dan literaturnya.
Kejadian sahabat saya ini mengingatkan kita akan bukti dan janji Allah terhadap orang-orang yang tulus hatinya dalam mencintai Allah serta menjaga dan memperjuangkan agamanya dengan jiwa raga serta hartanya dengan memberinya Ilmu dan Hikmah atau menjadikannya pribadi dewasa yang tidak sembarang orang bisa mendapatkannya, sebagaimana Allah memberikannya kepada nabi Yusuf.
Dan tatkala dia cukup dewasa [4] Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. ( QS : Yusuf ayat 22 juz 12).
Juga ada kisah yang sangat menyentuh kita  perihal ketaatan  dari dua nabi Allah  (Ibrahim dan Ismail) sebagai balasan bagi hamba-hambanya yang berbuat baik, lengkapnya di surat  Ash Shaaffaat ayat 83-111 juz 23. tuk lebih jelasnya bisa dikaji secara perlahan sambil membuka tafsiran para ulama terkemuka di rumah masing-masing.
Kesan Pertama Seorang Gadis
Waktu pun bergulir seiring dengan semangat Ibad untuk lebih memperdalam agama ke negeri kinanah, konon katanya kiblat ilmu  (agama) adalah Mesir, tahun 2003 sebelum keberangkatannya, tanpa disangka-sangka setelah terakhir kali pertemuan mereka di tempat photocopy kampus dan sekian lama terpisah oleh diam, ruang, jarak, dan dinding waktu mereka dipertemukan kembali oleh Allah di bandara Soekarno-Hatta, percakapan singkat pun terjadi antara dua insan yang sama-sama sibuk dengan urusannya, ‘’ kamu mau ke mana, Tanya gadis lugu tersebut, ke Mesir jawabnya singkat’’.
Jawaban dari Ibad ternyata memberi kesan mendalam bagi sang gadis, dia membayangkan ketika mendengar kata Mesir itu ‘identik’ dengan para pelajar Islam yang bersungguh-sungguh mencari kebenaran, berharap mempunyai pendamping yang bisa membimbingnya dalam masalah agama, pendek kata komunikasi pun berlanjut dengan lebih memanfaatkan kekinian, akhirnya mereka berdua pun saling bertukar alamat email.
Begitu mendalamnya kesan gadis lugu kepada Ibad, sampai-sampai dengan semangatnya  gadis tersebut menjaga komunikasi via mail, sebenarnya Ibad lebih memilih fokus dalam belajar, akan tetapi hari demi hari, hingga sampailah dia pada tahun ke-2  di Mesir, gadis tersebut memintanya untuk menjadi pendamping….Wawww..benar-benar dahsyat sahabatku yang satu ini, ternyata bukan hanya Rasulullah yang di taksir berat oleh wanita kaya (Khadijah) karena ketulusan hatinya, manusia seperti kamu juga bisa (sambil menggelengkan kepala).
Ibad tidak lantas mengiyakan keinginan gadis  lugu tersebut. Hanya saja mengatakan kepadanya,, ‘’ oh y….jika kamu benar-benar serius, alangkah baiknya kamu datang  ke rumahku di Bekasi, kalau orang tuaku setuju…is okey. Jawab ibad, konteksnya begitu, adapun tuk redaksi aslinya bisa di kembangkan di alam pikiran para pembaca sekalian., hehe
Rupanya gadis tersebut memang naksir berat, saking beratnya, hilanglah rasa gengsi sebagai seorang perempuan yang datang ke rumah laki-laki untuk sekedar meminta restu  orangtua si laki-laki, padahal kalau kita perhatikan di zaman sekarang, jika ada lelaki yang berkata seperti Ibad, jawaban dari para gadis, ‘’emangnya cowo cuma kamu aja, yeehhhhhh’’  hehe….
Begitu kaget keluarganya di Bekasi ketika kedatangan tamu seorang gadis berparas cantik,, tampak dari wajahnya ketulusan dan kebaikan, bermaksud untuk melamar anaknya yang sedang menuntut ilmu di Mesir. Tahukah Anda …… apa yang di katakan orangtua Ibad kepadanya ketika ada seorang wanita datang tuk melamar, kurang lebih begini,’’ kamu ini gimana seh…ada wanita  cantik begini ko tidak di iyakan. Begitulah kurang lebih, hehe
Indah Pada Waktunya…
Akhirnya di tahun 2005 pulanglah sosok yang di idamkan oleh sang gadis ke tanah air  dan menikahlah dua insan yang sebenarnya sama-sama jatuh cinta, hanya saja kecintaan Ibad kepadanya sedikit tergeser dan tersembunyikan dengan semangatnya dalam mencari ilmu, untung saja gadis tersebut cerdas dan pandai membaca  keadaan.
Gadis tersebut ialah lulusan ITB yang saat ini menjadi seorang dosen di salah satu kampus ternama di Jakarta yaitu Universitas Trisakti, Anda bisa bayangkan berapa nominal materi yang di dapat jika Anda bekerja di sana, belum lagi dia aktif dalam mengisi seminar nasional dan internasional, 7 juta pun itu adalah nominal terendah, bahkan bisa belasan juta atau lebih, ditambah lagi dia berasal dari keluarga yang mampu dan tinggal di  bilangan kawasan elit Jakarta, berbeda dengan Ibad yang hanya berasal dari keluarga sederhana di Bekasi.
Sebelumnya gadis yang usianya di atas kepala 3 disaat menikahi Ibad yang baru berumur sekitar 25 tahun, terpaut perbedaan antara keduanya  lumayan jauh sekitar 10 tahun, beberapa kali menolak lamaran dari lelaki mapan lagi gagah, padahal kalau mau dibandingkan dengan Ibad, tentunya masih jauh, dia masih pelajar, masa depannya pun belum jelas, hanya bermodalkan ilmu agama dan kecintaan yang tulus kepada Tuhannya.
 Kembali lah Ibad ke Mesir untuk menyelesaikan study karena masih ada 4 semester  untuk mendapatkan gelar Lc, tapi Ibad tidak merasa sedih berlebih apalagi khawatir, karena sisa 2 tahun di Mesir  ternyata di jamin oleh pihak istri, jadinya setiap semester Ibad pulang ke tanah air untuk berbulan madu, Anda tahu….hanya orang-orang elit serta para diplomatlah yang bisa pulang pergi ke tanah air, dan yang ketiga adalah Ibad, hehe…
Dari cerita unik sampai yang mengharukan pun kami dapat dari Ibad, bercengkerama santai menjadi topik pembicaraan di asrama bersama teman-teman seperjuangan, mulai dari Ibad yang menjadi seperti direktur, karena ke mana-mana selalu istrinya yang menyetir mobil, termasuk berbulan madu ke puncak,  maklum.., karena Ibad tidak bisa menyetir mobil ketika itu, sedangkan mobil bagi istrinya adalah kendaraan pribadi yang  senantiasa menghiasi hari-harinya di kampus.
Di mata kami Ibad adalah sosok lelaki yang  penuh dengan tanggung jawab, perbedaan kondisi sosial antar dia dan istrinya menjadi bahan pertimbangan yang cukup berarti, bagaimanapun dia adalah kepala rumah tangga yang wajib menafkahi istrinya, walau kala itu dia belum berpenghasilan tetap dengan gaji yang tidak sebanding dengan istrinya, dia pun tinggal  sementara di rumah yang menurutnya terlalu mewah bersama keluarga istrinya sambil membimbing masalah agama dan mengkaji Islam secara utuh bersama keluarga barunya.
Pernah suatu ketika Ibad pun pergi berjualan perangkat kebutuhan  ibadah di sekitar masjid tidak jauh dari rumah barunya di PMI (Pondok Mertua Indah),  sampai akhirnya terlihat oleh istrinya, dibawanya dia masuk ke dalam  mobil  bermaksud  mengajaknya segera pulang dengan linangan air mata dari seorang istri yang begitu menyayanginya, tak habis pikir melihat suami berjualan seperti itu.
Entah kenapa menangis, Ibad  pun  sedikit heran dan berusaha menjelaskan bahwasanya dia ingin mencari pekerjaan yang halal walau hanya sebatas jualan kecek-kecek. Subhanallah…..
Lama sudah saya dan Ibad tidak saling menyapa, lebih dari 4 tahun, pertemuan terakhir kami di tahun 2007 sebelum dia pulang ke tanah air dengan membawa ilmu dan ijazah Azhar tentunya.
 Wahai Ibad Rahman Sahabatku…..
  Walaupun ruang, jarak, waktu menjadi dinding pemisah di antara kita, segumpal darah bernama hati dengan izin Allah takkan pernah menjadi penghalang untuk kita tetap dalam Ukhuwah Islamiyah. Semoga kenangan manis  kan terukir  nantinya.
Kebenaran Janji Allah
Kisah Ibad di atas sebenarnya sebuah Studi Normatif abad modern, karena Allah sendirilah yang menjamin orang-orang baik lagi beriman dengan kehidupan yang layak di dunia dan akhirat.
I. An Nahl ayat 97 juz 14 :
 “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.’’
 Ditekankan dalam ayat ini bahwa laki-laki atau perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama dan bahwa amal saleh harus disertai iman. Paling tidak ada dua point penting yang bisa kita ambil dalam ayat di atas, di antaranya :
  1. Ganjaran di dunia    : Berupa kehidupan yang layak
  2. Ganjaran di akhirat : Kompensasi dari Allah berupa pahala berlipat
II. An Nuur ayat 55 juz 18 :  
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”
Beberapa janji Allah  sangat jelas, di antaranya :
  1. Menjadi Pemegang kepentingan. (Stakeholders)
  2. Dikuatkan agamanya (Strong in faith)
  3. Kenyamanan hidup (Comfortable in life)
Untuk mendapatkan tiga point di atas ternyata tidak terlalu sulit, hanya butuh usaha lebih, Bahkan Allah ta’ala hanya memberikan satu syarat saja setelah iman dan amal soleh yaitu.:  Menyembah Allah ta’ala tanpa menyekutukannya dengan hal apapun.
Catatan tambahan sebagai penutup
 Menuju kebahagiaan tentunya membutuhkan proses, apalagi dalam membina rumah tangga ideal atau yang biasa disebut keluarga SAMA RATA (Sakinah, Mawaddah, Penuh Rahmat dan tentunya takut sama Allah)
Pastikan kalau keduanya harus saling mencintai karena Allah sebagaimana cintanya Rasulullah dan Khadijah, Ali dan Fatimah, juga ada contoh terkini Ibad dan Istrinya, Bj. Habibie dan Hasri Ainun Besari, juga orang tua kita pun bisa sebagai contoh nyata (Insya Allah). Menikah bukanlah atas dasar  paksaan, dipaksa, atau karena ‘iba’ terhadap salah satu pihak, karena yang demikian tentunya bisa berujung pada penyesalan kelak.
Bagaimanapun para lelaki berhak untuk memilih belahan jiwanya sebagaimana para wanita juga berhak untuk menolak lamaran para lelaki yang dirasa kurang ‘’klik’’ dengannya, jika pun ingin menolak tolaklah dengan sekuat tenaga dan sepenuh hati, biarkanlah hati nurani dan akal sehat kita yang memilih dan jika pun menerima jangan lupa bersyukur sambil mengucap “Alhamdulillah yach’’ s.e.s.u.a.t.u ….hehe
Kalau sudah tercipta keluarga SAMA RATA, maka dengan mudah kita bisa berjalan di atas garis pasir pantai yang sama demi menuju negeri impian  idaman setiap insan yaitu Surga ‘Adn, bersama keluarga besar kita. Ya Robbana…..
(yaitu) syurga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; [23]  (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum” [5]. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.[24]. QS : Ar Ra’d  ayat 23-24 juz 13.
Catatan ringan di atas  memberikan setitik wacana kepada kita untuk memetik sebuah analisa menarik bahwa’’ Tiada yang membuat wanita solehah  meneteskan air mata bahagia melainkan melihat pujaan hatinya  (suami) takut kepada Allah’’. Wallahu a’lam….
 Saya cukupkan  cerita singkat ini dengan sama-sama bermunajat “Mudah-mudahan kita semua bisa menjadi pribadi yang tidak hanya soleh/solehah saja yang bersifat personal tapi juga menjadi  pribadi muslih / muslihah yang kolektif. Ya Robbana…..”
Sekarang… pertanyaan dari saya adalah:
  1. Tahukah Anda siapa Ibad Rahman?
  2. Lalu seperti apa kepribadian detailnya?
  3. Apa kelebihannya dibanding hamba Allah yang lain?
  4. dan bisakah kita menjadi sosok seperti yang saya tanyakan?
‘’Jawabannya ada di Surat  Al Furqaan ayat 61-77 juz 19’’ (jangan lupa yah… baca teks Arabnya juga, selamat mengkaji,  insya Allah khair).
 Catatan Kaki:
[1]. Maksudnya: diberi petunjuk oleh Allah untuk mengerjakan amal-amal yang menyampaikan surga.
[2]. Diriwayatkan oleh Muslim dalam shahih-nya IV : 1802.
[3]. Yaitu hidup dalam alam yang lain yang bukan alam kita ini, di mana mereka mendapat kenikmatan kenikmatan di sisi Allah, dan hanya Allah sajalah yang mengetahui bagaimana keadaan hidup itu.
[4]. Nabi Yusuf mencapai umur antara 30 – 40 tahun.
[5]. Artinya: keselamatan atasmu berkat kesabaranmu

Read more »

Rabu, 16 November 2011

Keutamaan Ibadah 10 Hari Pertama Dzulhijjah

Bulan Dzulhijjah adalah bulan yang mulia, salah satu dari bulan haram (suci) di mana amal ibadah di bulan ini pahalanya dilipatgandakan. Dan bulan ini juga merupakan bulan pelaksanaan ibadah haji. Jutaan umat Islam berkumpul di tanah suci untuk menunaikan panggilan Allah melaksanakan rukun Islam yang kelima. Kemuliaan bulan Dzulhijjah, khususnya pada sepuluh hari pertama telah diabadikan dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
وَالْفَجْرِ {1} وَلَيَالٍ عَشْرٍ {2} وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ {3} وَاللَّيْلِ إِذَا يَسْرِ
“Demi fajar,  Dan malam yang sepuluh, Dan yang genap dan yang ganjil,  Dan malam bila berlalu” (QS Al-Fajr 1-4)
Allah SWT bersumpah dengan 5 makhluk-Nya, bersumpah dengan waktu fajar, malam yang sepuluh, yang genap, yang ganjil dan malam ketika berlalu. Dan para ulama tafsir seperti, Ibnu Abbas RA, Ibnu Zubair RA, Mujahid RA, As-Sudy RA, Al-Kalby RA  menafsirkan maksud malam yang sepuluh adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Allah bersumpah dengan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah karena keutamaan beribadah pada hari tersebut, sebagaimana hadits Rasul SAW:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ.‏
Dari Ibnu Abbas RA berkata, Rasulullah saw. bersabda, ”Tiada hari dimana amal shalih lebih dicintai Allah melebihi hari-hari ini –yaitu sepuluh hari pertama Dzulhijjah.“ Sahabat bertanya, ”Ya Rasulullah SAW, tidak juga jika dibandingkan dengan jihad di jalan Allah?“ Rasul saw. menjawab, ”Tidak juga dengan jihad, kecuali seorang yang berjihad dengan jiwa dan hartanya serta tidak kembali (gugur sebagai syahid).” (HR Bukhari)

Read more »

Selasa, 15 November 2011

Mengenang Kembali Pahlawan

Kita semua diberi waktu yang sama oleh pencipta kita, 24 jam dalam sehari. No more, no less. Namun pertanyaannya, mengapa setiap orang memperoleh pencapaian yang berbeda pada hidupnya?

Sebut saja Muhammad  bin Abdullah, tokoh nomor satu dalam sejarah manusia yang hingga kini nama dan napak tilas sejarahnya masih terasa hidup di sekitar kita. Pada usia belianya, 12 tahun, beliau telah mengadakan perjalanan bisnis ke luar negeri. Dan selama hidupnya, beliau telah berhasil mengubah wajah bangsa Arab dan dunia dengan ajaran Islam yang dibawanya.

“Jatuhnya pilihan saya kepada Nabi Muhammad dalam urutan pertama daftar Seratus Tokoh yang berpengaruh di dunia mungkin mengejutkan sementara pembaca dan mungkin jadi tanda tanya sebagian yang lain. Tapi saya berpegang pada keyakinan saya, dialah Nabi Muhammad satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih sukses-sukses luar biasa baik ditilik dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi.” (Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, Michael H. Hart, 1978)

Dan, tiada yang menyangkal bahwa beliau adalah pahlawan.
Yang lain, Muhammad Natsir. Kepiawaian beliau dalam aspek internal kenegaraan tidak lagi diragukan. Perdana menteri Indonesia kelima ini juga termasuk satu di antara sedikit tokoh Indonesia yang memiliki reputasi di kancah internasional. Selama hidup, beliau mempersembahkan banyak karya bagi negeri. Karyanya berupa buku, lebih dari tiga puluh jumlahnya. Karyanya berupa pemikiran, entah berapa jumlah pastinya, mampu menumbuhkan harapan bangsa. Belum lagi kiprah beliau dalam membangun tanah air melalui diplomasi politik luar negerinya maupun kinerjanya dalam parlemen.

Dan beliau pun seorang pahlawan.
Berapa usia kita sekarang? 19,25, 37, 45, 60? Atau bahkan lebih dari itu?
Pahlawan bukan hanya mereka yang namanya tercatat dalam daftar pahlawan suatu negeri. Adalah Tabarak al-Labudi, pada usianya yang ke-4,5 tahun, dia telah diakui sempurna menghapal Al Quran. Bahkan sejak usianya dua tahun, dia telah beranjak menghapal surat-surat dalam kalam Allah itu. Dan dia menurut saya adalah pahlawan yang turut menjaga kemurnian Al Quran.
Jika ingin menyebut nama, maka akan ada jutaan nama orang luar biasa di dunia ini. Imam Bonjol, Ahmad 
Dahlan, Sukarno, Muhammad Hatta, Hasan al Banna, RA Kartini, Ahmad Yani, dll. Mereka dan kita, tidak ada bedanya, sama-sama memiliki 24 jam waktu dalam sehari. Namun, kenapa dalam jejak usia kita sampai sekarang ini, belumlah kita beroleh hal luar biasa seperti mereka?

Usaha sebagai Pembeda
Adalah usaha yang membedakan antara kita dengan mereka. Semakin sedikit usaha kita, maka semakin besar jarak kita dengan mereka. Sebaliknya, saat kita menggesa diri dengan memaksimalkan kapasitas kita, maka jarak itu akan semakin tipis dan tunggulah buah dari usaha kita walau mungkin tidak di dunia kita rasa.
Saya sangat tidak menyukai pelajaran sejarah. Bukan tidak menyukai yang mengarah pada enggan belajar, namun lebih kepada sebuah anggapan bahwa kenapa kita harus saja selalu membaca dan menghapal nama-nama tokoh dalam buku-buku sejarah itu. Saya lebih ingin memikirkan dan melakukan hal-hal yang membuat kelak nama dan kiprah saya ditulis dalam buku sejarah manapun. Dalam hal ini bukan berarti saya adalah orang pamrih dan ingin dipuji, namun saya ingin lebih memacu diri untuk tidak hanya sekedar sebagai pembaca sejarah, namun juga pelaku sejarah.

Kita dan pahlawan, alangkah sedikit bedanya. Mereka, betapa sedikit mengeluh di tengah masalah hidup mereka dan mengalihkannya pada persembahan karya. Sedang kita, sedikit-sedikit mengeluh tanpa ada upaya. Mereka, sedikit sekali meluangkan waktu untuk istirahat dan hal yang kurang bermanfaat. Sedangkan kita, sedikit-sedikit lelah dan merebahkan tubuh pada hal-hal yang kurang membawa manfaat. Kita hanya sedikit belajar dari mereka. Kita, sedikit berkarya dan mencoba. Kita, sedikit-sedikit takut menghadapi risiko dan tantangan hidup ini.

Mungkin itulah sedikit hal yang membelenggu kita, yang membedakan kita dengan pahlawan. Alangkah nikmatnya jika setiap hidup kita membawa manfaat untuk kita dan banyak orang di luar sana. Alangkah bahagianya jika kehadiran kita disambut hangat di setiap komunitas, kepergian kita dirindui mereka. Alangkah membahagiakannya jika setiap nama kita disapa, maka senyum terulas dari wajah mereka, orang-orang di sekitar kita.

Sama-sama kita sadari bahwa hidup yang diberikan pada kita hanya sekali. Ukirlah sejarahmu sendiri. Jadilah pelakunya. Karena pahlawan adalah mereka yang mampu memaknai hidupnya, memanfaatkannya untuk kebaikan kolektif. Karena pahlawan adalah saya dan mereka. Adakah juga Anda?




Oleh: Sofistika Carevy Ediwindra

Read more »

Nasihat Memilih Pasangan Hidup

Teringat dengan beberapa baris kata yang sering sekali terekam di dalam kepala,
“Tak perlu menuntut yang sempurna, dan mempersulit keadaan yang sebenarnya sederhana. Sebab padamu juga kelemahan itu selalu ada. Yang benar adalah sempurnakanlah niat awal kita, jika ia penuh berkah dan ridha dari-Nya, maka titik kemuliaan menjadi seorang manusia, Insya Allah akan dimudahkan oleh Allah untuk ada dalam diri kita”

Ada juga sebuah selentingan yang cukup “menggigit”,
“Semakin banyak kriteria, semakin banyak syarat, semakin banyak keinginan.. maka bersiap-siaplah kecewa. Apa penyebabnya ? karena bisa jadi yang diharapkan tak seindah realita, yang disyaratkan tak sempurna dalam lakunya. Maka berharap menemukan seseorang dalam kesempurnaan hanya membuat yang sederhana menjadi rumit dan tak mudah untuk dicerna”
Tentang penggalan kalimat kedua di atas. saya (lagi-lagi) teringat buku Serial Cinta-nya Anis Matta, di topik “Mengelola Ketidaksempurnaan”

“Apa lagi ketampanan yang tersisa di dunia ini ketika telah dibagi habis kepada Nabi Muhammad SAW, dan Yusuf AS. Dan kecantikan yang telah disempurnakan kepada Sarah istri Ibrahim AS dan Khadijah RA Istri Rasulullah. Hingga pesona kebajikan pun telah direnggut habis oleh Utsman bin Affan dan keluruhan budi telah dimiliki secara purna oleh Aisyah RA”

Lalu apa yang tersisa bagi kita manusia? Kita hanya terbagi sedikit (kalaupun ada) keshalihan-keshalihan para salafushalih yang telah hidup dalam cinta pada-Nya secara sempurna. Maka mengharap sebuah kesempurnaan pada seseorang, apalagi ukurannya adalah cantik, kaya, punya kedudukan, juga sangat shalih tanpa cela. Maka bersiap-siaplah kecewa serta bersiap-siaplah untuk terpasung dalam kerumitan. karena mencari satu dari sekian banyak pasangan jiwa dengan kriteria di atas, tak lebih hanya menyulitkan keadaan dan memperkecil kesempatan.

Tapi ini soal SELERA? Ini soal pasangan jiwa yang akan kita punya seumur hidup kita? Kalau kita tak CINTA, kita tak TERTARIK.. bisa kacau akhirnya?

Karena jawaban-jawaban inilah. Kita tengok saja hati-hati kita. Sebab jika NIAT Lillahi Ta’ala, maka kemuliaan pernikahan akan sangat jauh kedekatannya dengan nilai-nilai DUNIA. Ia hanya lekat dengan sebuah tujuan sederhana, “Menikah untuk membuatku lebih cinta pada-Nya, lebih tenteram beribadah kepada-Nya, menjaga kehormatan dan farj-ku dari kemaksiatan, dan menyempurnakan agamaku dan agamanya agar jauh lebih menghamba”. Jika ini terpasung kuat di dalam diri. Maka tambahan kriteria-kriteria lain yang lebih terkesan dunia, Insya Allah akan mulai mudah hilang dalam hitungan waktu yang berikutnya.

Sebagai kalimat penutup, saya ingin menuliskan barisan kalimat sederhana berikut :
“Ukurlah diri.. Berkacalah sedetail mungkin. Karena bisa saja CELA itu jauh lebih banyak dibanding kriteria yang telah diinginkan. Maka tanyalah pada hati yang jernih agar bisa memberi fatwa. Manakah patokan yang harus kau pakai. Jangan sampai hanya ukuran dunia yang menjadi tujuan kita”
Allahu’alam Bishawab
Taipei, 21 Juni 2011
Ditulis beberapa pekan menjelang pernikahan saya

Read more »

Antara Kebersamaan dan Ketersendirian

“Seseorang muslim tidak akan sempurna keislamannya - betapapun ia memiliki akhlaq-akhlaq yang mulia dan melaksanakan segala macam ibadah - sebelum menyempurnakannya dengan waktu-waktu uzlah dan khalwah untuk mengadili diri sendiri (muhasabatun nafsi). Ini merupakan kewajiban setiap muslim yang ingin mencapai keislaman yang benar, apalagi bagi seorang penyeru kepada Allah dan penunjuk jalan yang benar.” (Dr. Said Ramadhan al Buthy)

Membenci kesendirian adalah jelas tindakan tidak cerdas, karena kelak sudah pasti kesendirianlah teman sejati kita di kubur nanti. Memusuhi kesunyian adalah jelas sikap yang kurang baik. Karena kelak kesunyianlah satu-satunya teman yang mengakrabi kita dalam lahat nanti. Ketersendirian dan juga kesunyian adalah teman sejati yang idealnya kita pahami dan akrabi. Maka candailah kesendirian, cintailah kesunyian. Karena mengalami keduanya adalah keniscayaan.Begitu pula dalam konteks aktivitas keorganisasian kita. Hiruk pikuk dan lekatnya kebersamaan bersama rekan-rekan membuat kita menjadi asing pada kesendirian, bahkan tak jarang membencinya. Terlalu seringnya berbicara dan tertawa membuat kita lupa betapa bermaknanya diam.
Dalam kebersamaan dan padatnya interaksi, kita temukan pelajaran lain. Bahwa ketersendirian dalam beramal shalih adalah hal penting yang harus tetap kita jaga. Kebersamaan yang tidak lagi sesuai porsinya kerap kali menciptakan kelalaiannya sendiri yang justru melukai kebersamaan itu sendiri. Hal inilah yang pernah diperingatkan oleh Ibnu Qoyyim al Jauziyah, bahwa berkumpulnya orang-orang beriman tetap menyimpan marabahaya yang tetap harus diwaspadai. Pertama, tatkala dalam perkumpulan itu, satu sama lain saling menghiasi dan membenarkan. Kedua, ketika dalam perkumpulan itu, pembicaraan dan pergaulan antar mereka melebihi kebutuhan. Ketiga, ketika pertemuan mereka menjadi keinginan syahwat dan kebiasaan yang justru menghalangi mereka dari tujuan yang diinginkan (al Fawaid, hal. 60)
Kebersamaan ini harus memiliki jarak dan jeda yang cukup. Karenanya sesekali kurangi bicara kita, agar lebih banyak hal yang bisa kita dengar. Sesekali pelankanlah langkah kita agar lebih banyak peristiwa yang dapat kita maknai.

Read more »