Tampilkan postingan dengan label Muslim Bersyukur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muslim Bersyukur. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 November 2011

Kita Bukan Sekedar Teman… Kita Adalah Saudara…

Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rabb Pemilik semesta, Penggenggam jiwa. Shalawat serta salam tercurahkan kepada Pemimpin terbaik serta sahabat sekaligus saudara terbaik, dialah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wasalam.
Sebelum memulai, saya ingin menceritakan sedikit tentang pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan: Ketika di perjalanan pulang selepas bekerja seharian, tepatnya di perempatan lampu lalulintas kelapa gading, saya yang sedang menunggu lampu lalulintas berubah dari merah ke hijau, dikagetkan oleh seorang pengendara motor lain yang tiba-tiba menegur, a ha ternyata dia adalah teman yang saya kenal 5 tahun yang lalu, saat kami bersama-sama mencoba merintis dakwah di SMP tempat kami menimba ilmu dulu, namun karena kesibukan masing-masing akhirnya hampir 2 tahun kami tidak berjumpa. Sambil menunggu lampu lalulintas mengizinkan kami melanjutkan perjalanan, kami pun sedikit berbincang, sampai satu ketika dia mengeluarkan kalimat yang sangat menyentuh jiwa saya, ketika saya bertanya mengapa dia bisa yakin bahwa orang yang dia tegur memang adalah saya, dia menjawab“ teman ga akan ane lupa”. Subhanallah, Maha Suci Engkau yang telah menyatukan hati kami dalam cinta karenaMu…
Kalimat itu, walaupun singkat, memiliki makna yang mendalam, betapa hubungan silaturahim, yang diawali karena niat mengharapkan keridhaan dari Sang Pemilik Hati, insya Allah akan terjaga sampai kapan pun.  Ya Allah saksikanlah, dia bukan sekedar teman, dia adalah saudaraku…satukanlah kami di syurgaMu…
Ayyuhal ikhwah, di dalam perjalanan kehidupan kita, Allah memperkenankan kita untuk berjumpa dengan banyak orang, dari sekian banyak orang tersebut, ada yang sekedar berlalu, ada yang mungkin menjadi musuh, ada yang menjadi teman, sahabat, bahkan saudara.
Teringat ketika Rasulullah hijrah dari Mekah ke Madinah, hal yang Beliau lakukan pertama kali adalah mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan kaum Anshar. Ya, Rasulullah bukan sekedar mempertemankan mereka, tapi mempersaudarakan mereka dengan ikatan persaudaraan yang lebih kekal ketimbang persaudaraan karena hubungan darah, itulah persaudaraan yang dilandasi ukhuwah Islamiyah, persaudaraan yang akan menyatukan mereka hingga ke syurga….
Oleh karena itu, ketika Allah mengizinkan kita berada dijalan dakwah, maka bersyukurlah akan hal itu, salah satunya adalah dengan menjadikan teman kita, bukan sekedar teman, tapi menjadikannya saudara kita, yang dengannya kita akan saling mengenal, memahami, tolong menolong, bahkan saling memikul beban.
Jangan sampai kita sekedar menjadi teman hanya saat senang, lalu  meninggalkannya ketika kesulitan menghampirinya. Menjadi teman hanya karena ada keuntungan yang bisa didapatkan dari teman kita, hanya mau menasihati tanpa mau dinasihati, sehingga bukan keridhaan yang didapat namun kemurkaan Allah yang akan membuat kita menjadi orang yang merugi, bukan hanya di dunia juga di akhirat kelak.
Jadilah kita saudara yang saling menguntungkan sebagaimana disebutkan dalam surat Al Ashr: ”… yang saling nasihat menasihati dalam kebenaran, dan yang saling nasihat menasihati dalam kesabaran. Mampu memenuhi hak saudara kita untuk mengingatkannya ketika melakukan kesalahan, serta menerima dengan penuh kelapangan ketika kita dinasihati karena kesalahan kita, dengan semangat memperbaiki diri menuju kemenangan hakiki meraih keridhaan Ilahi Rabbi.
Beruntunglah dan bersyukurlah, jika kita diizinkan oleh Allah diperjumpakan dengan orang lain yang akhirnya menjadi teman, sahabat, bahkan saudara dijalan dakwah. Dijalan yang akan membuat kita meraih keridhaannya.
Yaa Allah saksikanlah, bahwa teman-temanku dijalan dakwah, mereka adalah saudaraku…
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa hati kami ini telah berkumpul karena cinta kepada-Mu, bertemu karena taat kepada-Mu, bersatu karena dakwah-Mu, dan saling mengikat janji untuk membela syariat-Mu. Karena itu, kuatkanlah ikatan kesatuannya, kekalkanlah kecintaannya, tunjukilah jalannya, penuhilah ia dengan cahaya-Mu yang tidak pernah redup. Lapangkanlah dadanya dengan pancaran iman kepada-Mu dan tawakal yang baik kepada-Mu. Hidupkanlah ia dengan mengenal-Mu dan matikanlah dengan meraih syahadah di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pelindung dan penolong. Ya Allah, kabulkanlah permohonan kami ini.”
Wallahu a’lam bishshawwab…

Read more »

Rabu, 16 November 2011

Never Ending Sedekah

Aku sangat senang berdagang, apalagi kata Rasulullah 9 dari 10 pintu rezeki yang dijanjikan datang melalui berdagang. Wii.. siapa atuh yang nggak seneng??

Tapi berdagang/berusaha juga butuh mental pedagang/pengusaha supaya survive, adanya keberanian atau hampir nyerempet ke arah nekat, sangat dibutuhkan. Dengan modal yang ada tentunya, berpikir taktis dan cerdas terhadap selera pasar, inovatif, ada value edit yang membedakan dagangan/usaha kita dengan dagangan/usaha orang lain, n so many lah. Jika mental itu sudah ada pun, akan ada banyak kendala lain yang menghadang.

Banyak di antaranya yang mampu melewati kendala itu, namun sedikit di antaranya yang mampu meraup sukses menjadi pedagang/pengusaha yang survive, bisa membuka lapangan kerja, atau bisa memperluas usahanya dengan membuka cabang-cabang ditempat lain.

Sukses dengan keinovatifan kita dalam menjual dagangan, adalah suatu hal biasa.
Sukses dengan keistiqamahan kita dalam menjual dagangan, adalah suatu hal biasa pula.
Sukses dengan memunculkan value edit dalam berdagang, udah biasa.
Tapi sukses berdagang/berusaha karena sedekah adalah hal yang luar biasa.

Yup. Seorang teman terbaik saya telah membuktikannya, hanya dengan sedekah, maka akan ada inovatif, akan ada istiqamah, dan akan ada value edit yang ditawarkan kepada konsumen/klien. How could be??
Ok.. dengan melihat kenyataan yang terjadi pada teman saya, saya akan jawab bahwa itu bisa!!
Teman saya ini, bukan orang yang melakukan usaha dan langsung sukses, karena baginya kesuksesan adalah jatuh bangunnya para pedagang /pengusaha dalam menjalankan tiap usahanya.

Saat hamil anak kedua, suaminya resign dan berniat membuka usaha. Otak kirinya saat itu mulai menghitung, biaya melahirkan, biaya perawatan bayi, dan biaya –biaya tak terduga lainnya saat sang suami jobless, pasti akan jauh dari kata cukup. Hingga tiba saat melahirkan, uang di dompet sang suami hanya ada 350 ribu kala itu. Itupun habis saat sopir taksi yang mengantarkan mereka ke rumah sakit, entah mengapa bercerita tentang kondisinya yang sangat membutuhkan dana untuk biaya cucunya yang dirawat di rumah sakit, dan kondisinya lebih payah dari kondisi kami. Seorang kakek tua, berjuang mencarikan dana untuk cucunya yang sakit, dengan menyopir taksi. Padahal kakek tua itu lebih pantas berleha di rumah sambil bermain dengan cucu-cucu daripada harus menyopir taksi. Akhirnya tanpa pikir panjang dan bismillah, sang suami pun mengeluarkan semua uang di dompetnya. Wacks..

Dengan tenang, sang suami berusaha menguatkannya dengan mengatakan bahwa pemberian saat kondisi sempit akan menghadirkan banyak keberkahan melalui rezeki yang berdatangan. Setelah itu, proses bersalin yang mudah, pinjaman dana yang begitu mudah, proses pengembalian dana yang kami pinjam pun menjadi sangat, sangat mudah, kondisi si bayi yang sehat membuat teman saya tertegun, bahwa nikmatNya akan semua kemudahan ini berasal dari sedekah.

Tak lama berselang, usaha sang suami yang belum bisa dibilang menampakkan hasil yang baik, dirundung masalah, sang suami ditipu oleh teman kepercayaannya sendiri yang pergi tanpa kabar, mengkorup dana serta meninggalkan utang yang besar pada usaha yang dijalankannya. Alhasil, sang suami menjalankan usahanya hanya untuk membayar utang-utang teman kepercayaannya, yang lari dengan dana korup.

Dengan sabar, pelan tapi pasti, klien pun mulai berdatangan, proses pengembalian utang peninggalan sang teman kepercayaan lagi-lagi mudah dan tanpa kendala, tak lupa mereka sedekahkan dana yang masuk meski tak seberapa. Meski sedang sempit menghimpit atau lapang tanpa ruang.

Hingga suatu hari, mereka kedatangan tetangga yang hendak menawarkan rumah dengan harga murah. Kebetulan sang tetangga baru saja kena PHK dan jobless, ia hanya memiliki usaha percetakan yang juga hampir gulung tikar, karena bingung mau melakukan apa, akhirnya tanpa pikir panjang, ia jual murah rumah yang ditinggali bersama istri dan 3 orang anaknya. Kebetulan pula sang tetangga adalah aktivis masjid di daerah mereka tinggal, sikapnya yang selama ini baik, membuat teman saya dan suaminya tergerak ingin membantu, namun untuk membeli rumah sang tetangga meski dengan harga murah, mereka tak sanggup.
Akhirnya, sang suami berkata,
 
“pak, rumahnya jangan dijual, nanti bapak dan keluarga mau tinggal dimana?? Apakah bapak berkenan kerja di tempat saya, dan bersama-sama membangun usaha yang tak seberapa ini?”
Olala..padahal sang suami belum kenal dekat dengan si tetangga. Traumanya pada sang teman kepercayaan dulu, tak membuatnya phobia untuk kembali percaya pada orang lain. Sang suami hanya yakin, bahwa si tetangga adalah orang baik. Dengan niat membantu si tetangga, maka Bismillah, faidzaa azamta fa tawakkal alallah..

Biidznillah, dan akhirnya mei 2011 diresmikanlah sebuah lembaga training pertambangan , dengan 5 orang karyawan (si tetangga dengan ke 3 anaknya ; mengurusi pamflet, dan urusan cetak mencetak dan satu orang di bagian finance), hingga kini, 7 bulan berjalan sejak diresmikan karyawan mereka sudah mencapai 8 orang. Sudah mengadakan 4 kali training besar, sudah memiliki puluhan alumni training, dan omzet pun tak perlu ditanya.

Subhanallah, temanku yang hanya full time mother dan tak pernah membayangkan usahanya akan eksis, kini menjadi presiden direktur lembaga trainingnya, kantor yang tadinya hanya bertempat di rumah, sudah sebulan terakhir ini mengontrak ruko di bilangan yang cukup bergengsi di Graha Raya. Dan kini lembaga training yang didirikannya beserta suami termasuk lembaga training yang cukup diperhitungkan.
Subhanallah, hanya dengan sedekah yang istiqamah dalam sempit dan lapang, teman saya dan suaminya mampu sukses menjalankan usaha tanpa menunggu lama. Hingga kini, tak ada yang menjamin usaha mereka akan terus survive, kecuali dua hal: Never Ending ibadah dan Never Ending Sedekah.
BinJay City, 20 Oktober 2011
\

Read more »

Rabu, 09 November 2011

Arti sebuah Syukur

Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa berpegang teguh pada sunnah beliau sampai hari kiamat.
Kaum muslimin yang kami muliakan, sesungguhnya segala kebaikan dan kenikmatan yang ada pada kita adalah karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ (53)
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)…” (QS. An-Nahl: 53)
Betapa melimpahnya kenikmatan yang Allah Ta’ala berikan kepada kita, yang tidak terhingga jumlahnya. Allah memberikan kita kehidupan, kesehatan, makanan, minuman, pakaian dan begitu banyak nikmat yang lainnya. Jika kita berusaha menghitung nikmat yang Allah karuniakan kepada kita, niscaya kita tidak akan mampu menghitungnya. Allah Ta’ala berfirman:
وَإِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللهِ لاَ تُحْصُوْهَا (18)
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.” (QS. An-Nahl: 18).
Kebaikan Yang Hakiki Hanya Ada Pada Seorang Mukmin
Kaum muslimin yang kami muliakan, seorang muslim sejati tidak pernah terlepas dari tiga keadaan yang merupakan tanda kebahagiaan baginya, yaitu bila dia mendapat nikmat maka dia bersyukur, bila mendapat kesusahan maka dia bersabar, dan bila berbuat dosa maka dia beristighfar. (Qowa’idul Arba’, hal. 01)
Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Bagaimanapun keadaannya, dia tetap masih bisa meraih pahala yang banyak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2999 dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu).
Kelapangan Hidup Merupakan Bagian Dari Ujian
Merupakan sunnatullah bahwasanya Allah Ta’ala telah menentukan ujian dan cobaan bagi para hamba-Nya. Mereka akan diuji dengan berbagai macam ujian, baik dengan sesuatu yang disenangi oleh jiwa berupa kemudahan dalam hidup atau kelapangan rizki, dan juga akan diuji dengan perkara yang tidak mereka sukai, berupa kemiskinan, kesulitan, musibah atau yang lainnya.
Allah Ta’ala berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ (35)
“Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya: 35)
‘Abdullah ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Maksudnya, Kami akan menguji kalian dengan kesulitan dan kesenangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan dan maksiat, serta petunjuk dan kesesatan. (Tafsiir ath-Thabari, IX/26, no. 24588).
Inilah sunnatullah yang berlaku pada para hamba-Nya. Oleh karena itulah, kita melihat manusia ini berbeda kondisi kehidupannya. Ada yang hidup dengan harta yang melimpah, fasilitas dan kedudukan. Ada juga yang ditakdirkan hidup sederhana lagi pas-pasan. Bahkan ada juga yang hidup fakir miskin dan tidak punya apa-apa.
Segala nikmat yang Allah berikan kepada kita adalah ujian bagi kita, apakah kita akan menjadi hamba-Nya yang bersyukur ataukah menjadi orang yang kufur. Sungguh benar apa yang diucapkan oleh Nabi Sulaiman ‘alaihis salam tatkala mendapatkan nikmat, beliau mengatakan
هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْ لِيَبْلُوَنِيْ أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّيْ غَنِيٌّ كَرِيْمٌ (40)
“Ini termasuk karunia dari Rabb-ku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur ataukah mengingkari (nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Rabb-ku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (QS. An-Naml: 40).
Syukur Adalah Sifat Mulia Para Nabi
Sesungguhnya para nabi dan rasul ‘alaihimush sholatu was salam adalah manusia pilihan Rabb semesta alam, yang diutus ke dunia sebagai suri tauladan bagi umatnya. Mereka adalah manusia terdepan dalam setiap amal kebajikan. Salah satu sifat yang sangat menonjol pada mereka adalah senantiasa bersyukur terhadap nikmat yang telah Allah limpahkan pada mereka. Allah Ta’ala banyak menceritakan keutamaan mereka dalam al-Qur’an sebagai teladan bagi kita. Allah ‘Azza wa Jalla menyanjung Nabi Nuh ‘alaihis salam dengan firman-Nya:
إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُوْرًا (3)
“Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.” (QS. Isra’: 3)
Al-Bukhari dan Muslim menceritakan di dalam kitab Shahih-nya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun shalat malam hingga kedua kaki beliau bengkak. Lalu istri beliau, yaitu ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya, ”Mengapa Anda melakukan ini, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosa Anda yang dulu maupun yang akan datang?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
أَفَلاَ أَكُوْنُ عَبْدًا شَكُوْرًا
”Tidak pantaskah jika aku menjadi hamba yang bersyukur?” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 4837 dan Muslim, no. 2820)
Hakikat Syukur
Syukur adalah akhlaq yang mulia, yang muncul karena kecintaan dan keridho’an yang besar terhadap Sang Pemberi Nikmat. Syukur tidak akan mungkin bisa terwujud jika tidak diawali dengan keridho’an. Seseorang yang diberikan nikmat oleh Allah walaupun sedikit, tidak mungkin akan bersyukur kalau tidak ada keridho’an. Orang yang mendapatkan penghasilan yang sedikit, hasil panen yang minim atau pendapatan yang pas-pasan, tidak akan bisa bersyukur jika tidak ada keridho’an. Demikian pula orang yang diberi kelancaran rizki dan harta yang melimpah, akan terus merasa kurang dan tidak akan bersyukur jika tidak diiringi keridho’an.
Kaum muslimin yang kami muliakan, syukur yang sebenarnya tidaklah cukup hanya dengan mengucapkan “alhamdulillah”. Namun hendaknya seorang hamba bersyukur dengan hati, lisan dan anggota badannya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Qudamah rahimahullah, “Syukur (yang sebenarnya) adalah dengan hati, lisan dan anggota badan. (Minhajul Qosidin, hal. 305)
Adapun tugasnya hati dalam bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah
Pertama : Mengakui dan meyakini bahwa nikmat tersebut semata-mata datangnya dari Allah Ta’ala dan bukan dari selain-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)…” (QS. An-Nahl: 53). Meskipun bisa jadi kita mendapatkan nikmat itu melalui teman kita, aktivitas jual beli, bekerja atau yang lainnya, semuanya itu adalah hanyalah perantara untuk mendapatkan nikmat. Kedua : Mencintai Allah Ta’ala yang telah memberikan semua nikmat itu kepada kita. Ketiga : Meniatkan untuk menggunakan nikmat itu di jalan yang Allah ridhai.
Adapun tugasnya lisan adalah memuji dan menyanjung Dzat yang telah memberikan nikmat tersebut pada kita. Sementara tugasnya anggota badan adalah menggunakan nikmat tersebut untuk mentaati Dzat yang kita syukuri (yaitu Allah Ta’ala) dan menahan diri agar jangan menggunakan kenikmatan itu untuk bermaksiat kepada-Nya.

Semoga Allah Ta’ala memberikan pertolongan-Nya kepada kita untuk mensyukuri nikmat-Nya dan menjadikan kita hamba-Nya yang pandai bersyukur.


Penulis: dr. Muhaimin Ashuri

Read more »